Telegraf – Lebih dari 1.000 penggemar K-pop Indonesia resmi mengirim pesan yang tak bisa lagi diabaikan: dukungan pada idola tidak berarti membiarkan korporasi lolos dari tanggung jawab lingkungan.
Melalui petisi publik, mereka mendesak Hana Bank menghentikan pendanaan proyek nikel berbasis PLTU batu bara di Pulau Obi.
Aksi ini bukan sekadar trending sesaat. Ia adalah klimaks dari PE5TA WARGI K-POP, yang menunjukkan satu hal jelas: fandom hari ini bukan lagi ruang apolitis. Ini ruang tekanan perayaan lima tahun Kpop4Planet di Jakarta (18/4/2026).
Ada pergeseran penting yang sedang terjadi.
Gen Z Indonesia tidak lagi memisahkan kecintaan pada idola dengan sikap terhadap krisis iklim. Loyalitas kini punya syarat. Mereka tetap mendukung idolanya, tapi juga mengawasi siapa yang memanfaatkan citra tersebut. Dan di titik ini, fandom menjelma menjadi kekuatan baru: stakeholder activism berbasis budaya pop.
Petisi “Hana, Bring K-pop Not Coal” lahir dari kekecewaan. Sebelumnya, Hana Bank telah merespons surat terbuka dengan pernyataan yang dianggap normatif—tanpa arah tindakan yang jelas. Respons itu justru memantik konsolidasi lebih besar dari komunitas penggemar.
“Dampak proyek nikel di Pulau Obi sudah jelas merusak lingkungan dan merugikan masyarakat. Tapi jawaban Hana Bank justru menunjukkan mereka tidak serius mencari solusi,” tegas Nurul Sarifah, juru kampanye Kpop4Planet Indonesia.
Fakta di lapangan memperkuat tekanan itu. Pada 2022, Hana Bank tercatat mendanai proyek nikel Grup Harita sebesar US$84 juta—proyek yang ditopang PLTU batu bara baru. Ini bertolak belakang dengan komitmen Hana Financial Group pada 2021 untuk menghentikan pembiayaan batu bara, baik domestik maupun global.
Sementara itu, ekspansi energi batu bara di Pulau Obi terus berjalan. Kapasitas pembangkit mencapai 1,6 GW dan direncanakan melampaui 4 GW. Dampaknya bukan kecil.
Data dari Market Forces menunjukkan emisi karbon Harita melonjak hampir tiga kali lipat—dari 3,74 megaton pada 2022 menjadi 10,87 megaton pada 2024. Angka ini setara hampir 1% total emisi Indonesia, atau seperti mengoperasikan 2,5 juta mobil berbahan bakar fosil selama setahun.
Di sinilah ironi terjadi: branding hijau di satu sisi, pendanaan batu bara di sisi lain.
Bagi komunitas K-pop, ini bukan sekadar isu energi. Ini soal kepercayaan.
Nunik, pengurus fanbase yang terlibat dalam kampanye, menyebut banyak penggemar merasa dikhianati. Selama ini mereka mendukung Hana Bank melalui kolaborasi dengan idol K-pop, tapi kini melihat ada jurang antara citra dan praktik.
Pesannya tegas: jangan jadikan idola sebagai tameng greenwashing.
Fenomena ini juga memperlihatkan evolusi gerakan sosial. Komunitas seperti My Day dan Jars Social Project—basis penggemar Day6 dan eaJ—sudah lama aktif dalam aksi sosial, dari donasi bencana hingga penggalangan dana. Kini, spektrum gerakan mereka meluas ke isu iklim dan kebijakan korporasi.
Artinya sederhana tapi kuat: fandom tidak lagi pasif. Mereka terorganisir, punya data, dan tahu cara menekan.
Sejak diluncurkan 9 April, petisi ini terus bertumbuh. Angka 1.000 hanyalah awal. Yang lebih penting adalah preseden yang diciptakan—bahwa brand partnership dengan K-pop bukan sekadar soal exposure, tapi juga ekspektasi etika.
Dan kalau diabaikan, risikonya bukan cuma reputasi. Tapi kehilangan basis dukungan paling loyal.
Di era ini, mungkin slogan baru yang paling relevan bukan lagi “stan your idol,” tapi:
stan responsibly.