Telegraf – Freeport-McMoRan Inc. (FCX) menargetkan operasional tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) milik PT Freeport Indonesia (PTFI) bakal kembali berjalan mulai kuartal II-2026.
Seiring dengan berjalannya produksi, FCX menargetkan produksi tambang Freeport Indonesia bakal kembali ke level 85% dari produksi normal mulai semester II-2026.
FCX menjelaskan operasional Blok Produksi 2 dan Blok Produksi 3 tambang GBC bakal mulai berjalan pada kuartal II-2026. Sementara itu, Blok Produksi 1 ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
“Berdasarkan perkiraan saat ini, PTFI memperkirakan sekitar 85% dari total produksinya pada tingkat operasi normal akan pulih pada paruh kedua 2026,” tulis FCX dalam laporan resminya, dikutip Sabtu (24/01/2026).
“Tonggak penting yang diperlukan untuk memulai produksi di Blok Produksi 2 dan 3, termasuk pembersihan lumpur di area tambang, perbaikan infrastruktur pendukung, dan pemasangan penghalang pelindung, berjalan sesuai jadwal,” tegas FCX.
FCX melaporkan operasi tambang Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan yang tidak terdampak longsor sudah kembali berjalan pada akhir Oktober 2025.
Setelah insiden banjir lumpur eksternal pada 8 September 2025, PTFI telah terlibat dalam kegiatan untuk menangani insiden tersebut dan mempersiapkan restart operasi yang aman dan berkelanjutan.
“Dimulainya kembali secara bertahap dan peningkatan produksi di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave diperkirakan dimulai pada kuartal kedua 2026,” tegas manajemen FCX.
Kerugian
Korporasi tambang yang berbasis di Arizona, Amerika Serikat (AS) itu juga melaporkan bahwa Freeport Indonesia tengah mengurus penggantian kerugian tambang GBC gegara longsor yang terjadi.
Asuransi tersebut dinyatakan menanggung kerugian hingga US$1 miliar, dengan batas maksimal US$700 juta untuk insiden tambang bawah tanah, setelah memperhitungkan kerugian awal sebesar US$500 juta yang wajib ditanggung sendiri oleh perusahaan.
Sebagai informasi, VP Corporate Communications Freeport Indonesia Katri Krisnati menargetkan smelter katoda tembaga PTFI di Manyar, Gresik, Jawa Timur bisa beroperasi pada kuartal II-2026.
Menurut Katri, target itu dipatok mengikuti jadwal pembukaan kembali operasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada akhir kuartal I-2026.
“Kami berharap pengoperasian parsial tambang Grasberg Block Cave dapat dimulai secara bertahap pada akhir kuartal I-2026,” kata Katri saat dimintai konfirmasi, Rabu (24/12/2025).
“Sehingga diperkirakan pasokan konsentrat ke smelter PTFI di KEK Gresik dapat kembali dimulai pada pertengahan kuartal II-2026.”
Di sisi lain, Katri menambahkan, aktivitas penambangan Freeport hanya dilakukan di tambang Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan dengan kapasitas sekitar 30% dari total produksi.
Dua tambang tersebut dapat memproduksi 70.000 ton konsentrat per hari atau setara 30% dari total kapasitas produksi tambang sebesar 210.000 ton per hari.
Dengan begitu, volume konsentrat yang diproduksi perusahaan baru dapat memenuhi sebagian kebutuhan smelter PT Smelting di Gresik.
“Saat ini, aktivitas penambangan PTFI hanya dilakukan di tambang DMLZ dan Big Gossan dengan kapasitas sekitar 30% dari total produksi,” ungkap Katri.
Sebelumnya, Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas menjelaskan peningkatan utilitas atau ramp up operasi smelter Manyar telah mencapai 70% pada Agustus 2025, tetapi produksi harus distop sementara usai longsor di GBC awal September 2025.
“Rencana baru akan mulai produksi pada triwulan kedua 2026,” kata Tony dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, Senin (24/11/2025).
Sementara itu, smelter Manyar saat ini hanya mengolah lumpur anoda yang merupakan produk sampingan PT Smelting, lumpur anoda tersebut dimurnikan untuk diekstrak emas, perak, hingga mineral ikutan lainnya.
Tony menjelaskan seluruh proses perbaikan tambang bawah tanah GBC diprediksi memakan waktu 3—6 bulan, sehingga tambang GBC diprediksi baru dapat beroperasi secara minimal pada Maret 2027.