Telegraf – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan neraca perdagangan Indonesia dalam konferensi pers Kinerja Ekspor Semester I Tahun 2025 yang digelar di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (4/8). Dalam paparannya, Mendag mengungkapkan bahwa Indonesia berhasil mencatatkan surplus perdagangan sebesar USD 19,48 miliar sepanjang Januari hingga Juni 2025.
“Surplus perdagangan ini menunjukkan daya saing ekspor kita terus menguat, bahkan meningkat signifikan dibanding semester I-2024 yang mencatatkan surplus sebesar USD 15,58 miliar,” ujar Busan Senin (5/8).
Ia menambahkan, capaian ini tak lepas dari berbagai strategi pemerintah dalam memperkuat pelaku usaha, khususnya UMKM. “Kementerian Perdagangan terus berupaya mendorong pelaku UMKM untuk menembus pasar ekspor melalui program-program inovatif dan adaptif,” tegas Busan.
Salah satu program unggulan yang disorot adalah UMKM BISA Ekspor (Berani Inovasi, Siap Adaptasi). Program ini, menurut Mendag, menjadi wadah pembinaan dan pemberdayaan UMKM agar mampu bersaing di pasar global.
“Kami ingin memastikan UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan di pasar ekspor,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli internasional, Kemendag secara aktif menggelar kegiatan business matching. Sepanjang Januari hingga Juli 2025, telah diselenggarakan 410 sesi business matching yang mencakup 268 kegiatan pitching dan 142 pertemuan langsung dengan buyer.
“Potensi transaksi yang dihasilkan dari kegiatan ini sangat menggembirakan, mencapai USD 90,04 juta. Ini terdiri dari potensi transaksi sebesar USD 34,95 juta dan pesanan konkret senilai USD 55,09 juta,” terang Buas.
Menutup pernyataannya, Mendag menegaskan bahwa Kementerian Perdagangan akan terus memperluas akses pasar dan memperkuat ekosistem ekspor nasional.
“Kami berkomitmen penuh untuk menjaga momentum positif ini demi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkasnya.