Stunting Masih Menjadi Masalah Yang Harus di Selesaikan Bersama

"Memang kerawanan pangan salah satu faktor yang cukup penting cukup berperan dalam terjadinya stunting itu sendiri, tapikan kalau dilihat lagi, itu sebetulnya menjadi penyebab tidak langsung"

Stunting Masih Menjadi Masalah Yang Harus di Selesaikan Bersama

Telegraf, Jakarta – Stunting masih menjadi permasalahan serius di Indonesia, jika berbicara stunting kekurangan gizi adalah masalah yang mendasar yang menyebabkan serta pendidikan dan disparitas.

Menurut BPS pada tahun 2018 terdapat 92 kabupaten kota dengan prevalensi stunting balita lebih dari 40 persen, dengan yang tertinggi adaIah Kab. Nias (61,3 persen), Kab. Dogiyai (57,5 persen), Kab. Timor Tengah Utara (56,8 persen), Kab. Timor Tengah Selatan (56,0 persen), Kab. Waropen (52,6 persen) dan Kab. Pangkajene dan Kepulauan (50,5 persen). Pada saat yang sama, 206 kabupaten-kota memiliki prevalensi stunting antara 30-40 persen. Dengan kata lain, 58 persen kabupaten-kota di seluruh Indonesia menghadapi masalah prevalensi stunting yang serius.

“Memang kerawanan pangan salah satu faktor yang cukup penting cukup berperan dalam terjadinya stunting itu sendiri, tapikan kalau dilihat lagi, itu sebetulnya menjadi penyebab tidak langsung,” Hal itu diungkapkan oleh Yenny Purnamasari, selaku GM Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa (DD) usai diskusi terkait kerawanan pangan dan tantangan stanting anak negeri di Jakarta.

Stunting Masih Menjadi Masalah Yang Harus di Selesaikan Bersama

Yenny mengungkapkan untuk penyebab langsungnya adalah asupan makannya memang kurang, bisa jadi makanannya ada tetapi pola asuhnya yang tidak benar seperti di daerah Indonesia timur yang diutamkan adalah ayahnya karena ayahnya sebagai pencari nafkah harus terus sehat sementara anak yang paling kecil prioritasnya nomor dua, dan ini terjadi di Indonesia.

Dr. Hera Nurlita Kepala Seksi Mutu Gizi Kementrian Kesehatan juga mengatakan Stunting merupakan masalah multidimensial yang terdiri dari penyebab langsung dan tidak langsung, untuk langsungnya, seperti konsumsi makanan tidak beragam tidak mendapatkan imunisasi lengkap serta penyakit infeksi.

“Penyebab tidak langsung berupa kerawanan pangan, pemantauan tumbuh kembang balita yang belum optimal serta akses sanitasi yang tidak layak,” ungkapnya Jumat (28/2).

Lanjut Hera bukan saja tugas pemerintah, dengan bertambahnya penduduk di Indonesia, hal ini menjadi tugas bersama antara lembaga kemanusiaan dengan pemerintahan dalam pengentasan kerawanan pangan dan stunting di sejumlah daerah. (Red)


Photo credit : Para pembicara dalam diskusi terkait kerawanan pangan dan tantangan stanting anak negeri di Jakarta, Kamis (28/2)/TELEGRAF


Tanggapi Artikel