Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Ini Strategi BI Untuk Halau Kebijakan Moneter Global
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Ekonomika

Ini Strategi BI Untuk Halau Kebijakan Moneter Global

Hanna Iffah Minggu, 28 Maret 2021 | 04:21 WIB Waktu Baca 3 Menit
Bagikan
Photo Credit : Logo Bank Indonesia. REUTERS/Iqro Rinaldi
Photo Credit : Logo Bank Indonesia. REUTERS/Iqro Rinaldi
Bagikan

Telegraf – Taper tantrum atau pembalikan kebijakan moneter global, menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku usaha belakangan ini. Mereka khawatir hal itu akan membawa resiko buruk bagi perekonomian.

Kondisi ini dipicu oleh perubahan kebijakan pemerintah Amerika Serikat (AS) yang menggelontorkanan stimulus fiskal senilai US$1,9 triliun. Selain itu, resiko juga muncul karena pemulihan ekonomi yang cepat di negara China.

Menanggapi hal itu, pemerintah pun bersiaga penuh. Yakni, terus menjaga fundamental ekonomi sehingga saat kebijakan ekternal (spill over) terjadi, maka tidak membuat ekonomi tergelincir di tengah gejolak pasar keuangan dan perekonomian global

Bank Indonesia (BI) pun meyakinkan, risiko taper tantrum sebagaimana pernah terjadi pada 2013 tak akan terulang di 2021 ini. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi baik domestik maupun internasional yang lebih baik daripada satu windu silam.

“Kita harus ingat, kondisi pada saat 2013 dengan kondisi sekarang jauh lebih beda. Secara keseluruhan, kita sudah siap dengan kemungkinan yang bakal terjadi bahkan sebelum COVID-19,” kata Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Riza Tyas, dalam keterangannya, Sabtu (27/03/2021).
Riza juga mengatakan, Indonesia tak perlu takut akan risiko asing berbondong-bondong keluar dari pasar keuangan indonesia. Namun, bila sampai itu terjadi, BI yakin sudah memiliki beragam strategi yang bisa meredam gejolak tersebut.

Pertama, BI akan melakukan intervensi. Tak hanya satu, tetapi BI memiliki tiga intervensi (triple intervention), yaitu di pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), juga intervensi di pasar sekunder Surat Berharga Negara (SBN).

Baca Juga :  Susul Mahendra Siregar, Mirza Adityaswara Juga Ikutan Mundur Dari OJK

Namun, kapan triple intervention ini dilakukan? Tentu harus menggunakan strategi operasional yang matang dan dengan melihat kondisi pergerakan pasar.

Kedua, adanya koordinasi yang membuat Sistem Stabilitas Keuangan (SSK) yang lebih tangguh. Koordinasi antara bank sentral ini dilakukan dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maupun otoritas lain yang terkait.

“Kita sudah siapkan. Sehingga kalau sudah ada persiapan, maka SSK domestik juga akan terjaga lebih kuat,” imbuhnya.

Ketiga, BI memliki kerja sama internasional yang diperluas. Salah satunya, adalah kerja sama transaksi perdagangan bilateral dan investasi langsung atau local currency settlement (LCS) dengan beberapa negara, seperti Malaysia, Thailand, Jepang, dan sedang dalam proses penjajakan dengan China.

Keempat, bank sentral bersama dengan pemerintah juga rutin melakukan koordinasi internasional, seperti contohnya dalam forum G20, pertemuan rutin IMF, dan lain-lain. Dari pertemuan ini, Indonesia bisa tahu bagaimana respons dari negara lain dalam menghadapi krisis.

Namun ke depan, Riza tak menampik masih ada risiko maupun gejolak kecil yang bisa mempengaruhi Indonesia. Namun, Riza yakin, Indonesia lebih siap dalam menghadapinya.

“Juga karena tak hanya perekonomian Amerika Serikat saja yang membaik, ekonomi Indonesia juga membaik tapi dalam kecepatan yang tak salam. Kami sudah siapkan langkah, untuk taper tantrum maupun risiko jangka panjang,” pungkasnya.


Photo Credit : Logo Bank Indonesia. REUTERS/Iqro Rinaldi

 

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Hadiah Patung Tokoh Pers Dan Tokoh Samin Untuk PWI Pusat
Waktu Baca 3 Menit
Ini Respon Jaksa Saat Diminta Untuk Periksa Jokowi di Kasus Pertamina
Waktu Baca 2 Menit
Susul Mahendra Siregar, Mirza Adityaswara Juga Ikutan Mundur Dari OJK
Waktu Baca 2 Menit
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar Mundur Dari Jabatan
Waktu Baca 4 Menit
Tekan Unbanked, LPS Targetkan Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan
Waktu Baca 2 Menit

GMNI Nilai Pencabutan 28 Izin Perusahaan Harus Jadi Awal Reformasi Kehutanan

Waktu Baca 8 Menit

Senator Dayat El: Polri Lebih Efektif di Bawah Komando Presiden Langsung

Waktu Baca 2 Menit

eSIM XL PRIORITAS Solusi Konektivitas Digital untuk Gaya Hidup Modern

Waktu Baca 4 Menit

SPPG Yang Tolak Pasokan Dari UMKM dan Petani Kecil Bakal Disanksi BGN

Waktu Baca 2 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Ekonomika

Banyak Perusahaan China Tak Bayar Pajak, Purbaya: Nanti Kita Tindak Cepat

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

Disetujui DPR, Thomas Djiwandono Kini Jadi Deputi Gubernur BI

Waktu Baca 3 Menit
Photo Credit: Seorang karyawan melewati layar yang menampilkan pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. ANTARA/Galih Pradipta
Ekonomika

Menunggu Pertemuan The Fed IHSG Dibuka Menguat Hari Ini Capai Level 9.000

Waktu Baca 6 Menit
Ekonomika

Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi, Bahlil Akan Terbitkan Harga Pokok Minimum Timah

Waktu Baca 2 Menit
Ekonomika

Thomas Djiwandono Keponakan Prabowo Yang Digadang Jadi Deputi Gubernur BI

Waktu Baca 3 Menit
Ekonomika

Usai Jualan Prabowonomics di WEF, Prabowo Gondol Investasi Senilai Rp90 T ke Indonesia

Waktu Baca 3 Menit
Photo Credit: Pengolahan Tambang Freeport. ANTARA
Ekonomika

Bidik Produksi 85% Pada 2026 Freeport Kembali Operasikan Grasberg

Waktu Baca 4 Menit
Ekonomika

Pertumbuhan Perbankan Nasional Terjaga, Likuiditas dan Permodalan Tetap Kuat

Waktu Baca 2 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?