Telegraf – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menutup tahun buku 2025 dengan kinerja keuangan yang solid di tengah volatilitas ekonomi global dan penyesuaian kebijakan moneter. BNI mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp20,0 triliun, ditopang pertumbuhan kredit dan penguatan struktur pendanaan berbasis dana murah.
Sepanjang 2025, kredit BNI tumbuh 15,9% secara tahunan (year on year/YoY), terutama disalurkan ke sektor-sektor produktif. Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan dana murah atau current account saving account (CASA) sebesar 28,9% YoY, dengan pertumbuhan giro 43,8% YoY dan tabungan 11,2% YoY.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan ketahanan fundamental dan model bisnis BNI di tengah tekanan eksternal.
“Di tengah volatilitas global dan penyesuaian suku bunga, BNI tetap mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada penguatan pendanaan, disiplin risiko, dan ekspansi kredit produktif,” ujar Putrama dalam keterangan resmi, Senin (2/2).
Dari sisi transformasi digital, jumlah pengguna wondr by BNI telah melampaui 12 juta hingga akhir 2025. Peningkatan aktivitas transaksi melalui platform tersebut berkontribusi pada pertumbuhan tabungan ritel dan penguatan CASA. Sementara itu, platform BNIdirect untuk segmen korporasi mencatat pertumbuhan jumlah pengguna dan nilai transaksi lebih dari 25% YoY.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menyampaikan, pengelolaan neraca BNI sepanjang 2025 difokuskan pada keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan permodalan yang kuat.
“Pertumbuhan kredit 15,9% YoY sepenuhnya didanai oleh dana murah, sehingga likuiditas tetap terjaga dan struktur pendanaan semakin sehat,” kata Paolo.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) BNI tercatat sebesar 20,7%, jauh di atas ketentuan regulator. Sementara itu, Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) pada kuartal IV 2025 mencapai Rp9,4 triliun, tertinggi sepanjang tahun, didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga dan nonbunga.
Secara kumulatif, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp40,3 triliun, sedangkan pendapatan nonbunga tumbuh 5,2% YoY menjadi Rp24,6 triliun.
Kualitas aset BNI juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto tercatat sebesar 1,9%, membaik 10 basis poin YoY, sementara Loan at Risk (LaR) berada di level 8,5%. NPL coverage ratio mencapai 205,5%, mencerminkan pencadangan yang kuat.
Di bidang keberlanjutan, portofolio pembiayaan berkelanjutan BNI mencapai Rp197 triliun atau sekitar 22% dari total kredit. Pembiayaan tersebut disalurkan ke sektor energi terbarukan, pengelolaan sumber daya alam, air dan limbah, serta UMKM.
Direktur Risk Management BNI David Pirzada menyatakan, keberlanjutan telah menjadi bagian dari strategi jangka panjang perseroan.
“Keuangan berkelanjutan menjadi fondasi dalam menciptakan pertumbuhan jangka panjang yang seimbang dan bertanggung jawab,” ujar David.
Pada 2025, BNI juga menerbitkan Sustainability Bond dan Green Bond masing-masing senilai Rp5 triliun untuk mendukung pembiayaan berwawasan lingkungan dan sosial, sejalan dengan target Net Zero Emission 2060.