Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca No K-pop on a Dead Planet: Aksi Penggemar K-pop Setop Pendanaan Hana Bank ke Energi Fosil
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Rilis

No K-pop on a Dead Planet: Aksi Penggemar K-pop Setop Pendanaan Hana Bank ke Energi Fosil

Fina Asriani Minggu, 19 April 2026 | 00:43 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Kpop4Planet
Bagikan

Telegraf – Lebih dari 1.000 penggemar K-pop Indonesia resmi mengirim pesan yang tak bisa lagi diabaikan: dukungan pada idola tidak berarti membiarkan korporasi lolos dari tanggung jawab lingkungan.

Melalui petisi publik, mereka mendesak Hana Bank menghentikan pendanaan proyek nikel berbasis PLTU batu bara di Pulau Obi.

Aksi ini bukan sekadar trending sesaat. Ia adalah klimaks dari PE5TA WARGI K-POP, yang menunjukkan satu hal jelas: fandom hari ini bukan lagi ruang apolitis. Ini ruang tekanan perayaan lima tahun Kpop4Planet di Jakarta (18/4/2026).

Ada pergeseran penting yang sedang terjadi.

Gen Z Indonesia tidak lagi memisahkan kecintaan pada idola dengan sikap terhadap krisis iklim. Loyalitas kini punya syarat. Mereka tetap mendukung idolanya, tapi juga mengawasi siapa yang memanfaatkan citra tersebut. Dan di titik ini, fandom menjelma menjadi kekuatan baru: stakeholder activism berbasis budaya pop.

Petisi “Hana, Bring K-pop Not Coal” lahir dari kekecewaan. Sebelumnya, Hana Bank telah merespons surat terbuka dengan pernyataan yang dianggap normatif—tanpa arah tindakan yang jelas. Respons itu justru memantik konsolidasi lebih besar dari komunitas penggemar.

“Dampak proyek nikel di Pulau Obi sudah jelas merusak lingkungan dan merugikan masyarakat. Tapi jawaban Hana Bank justru menunjukkan mereka tidak serius mencari solusi,” tegas Nurul Sarifah, juru kampanye Kpop4Planet Indonesia.

Fakta di lapangan memperkuat tekanan itu. Pada 2022, Hana Bank tercatat mendanai proyek nikel Grup Harita sebesar US$84 juta—proyek yang ditopang PLTU batu bara baru. Ini bertolak belakang dengan komitmen Hana Financial Group pada 2021 untuk menghentikan pembiayaan batu bara, baik domestik maupun global.

Sementara itu, ekspansi energi batu bara di Pulau Obi terus berjalan. Kapasitas pembangkit mencapai 1,6 GW dan direncanakan melampaui 4 GW. Dampaknya bukan kecil.

Baca Juga :  Aussie Beef Fair Hadir di Jakarta dengan Daging Sapi Premium New South Wales dan Kesempatan Terbang ke Sydney

Data dari Market Forces menunjukkan emisi karbon Harita melonjak hampir tiga kali lipat—dari 3,74 megaton pada 2022 menjadi 10,87 megaton pada 2024. Angka ini setara hampir 1% total emisi Indonesia, atau seperti mengoperasikan 2,5 juta mobil berbahan bakar fosil selama setahun.

Di sinilah ironi terjadi: branding hijau di satu sisi, pendanaan batu bara di sisi lain.

Bagi komunitas K-pop, ini bukan sekadar isu energi. Ini soal kepercayaan.

Nunik, pengurus fanbase yang terlibat dalam kampanye, menyebut banyak penggemar merasa dikhianati. Selama ini mereka mendukung Hana Bank melalui kolaborasi dengan idol K-pop, tapi kini melihat ada jurang antara citra dan praktik.

Pesannya tegas: jangan jadikan idola sebagai tameng greenwashing.

Fenomena ini juga memperlihatkan evolusi gerakan sosial. Komunitas seperti My Day dan Jars Social Project—basis penggemar Day6 dan eaJ—sudah lama aktif dalam aksi sosial, dari donasi bencana hingga penggalangan dana. Kini, spektrum gerakan mereka meluas ke isu iklim dan kebijakan korporasi.

Artinya sederhana tapi kuat: fandom tidak lagi pasif. Mereka terorganisir, punya data, dan tahu cara menekan.

Sejak diluncurkan 9 April, petisi ini terus bertumbuh. Angka 1.000 hanyalah awal. Yang lebih penting adalah preseden yang diciptakan—bahwa brand partnership dengan K-pop bukan sekadar soal exposure, tapi juga ekspektasi etika.

Dan kalau diabaikan, risikonya bukan cuma reputasi. Tapi kehilangan basis dukungan paling loyal.

Di era ini, mungkin slogan baru yang paling relevan bukan lagi “stan your idol,” tapi:

stan responsibly.

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Foto : Noormahal, Delhi NCR Karnal, Autograph Collection - Exterior
Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern
Waktu Baca 4 Menit
Dokumen Digital Palsu
Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi
Waktu Baca 3 Menit
Bite Me Sweet
Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia
Waktu Baca 4 Menit
AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat
Waktu Baca 7 Menit
Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama
Waktu Baca 9 Menit

KPI Social Media 2026: Strategi Baru Biar Konten Makin Naik

Waktu Baca 6 Menit

Aussie Beef Fair Hadir di Jakarta dengan Daging Sapi Premium New South Wales dan Kesempatan Terbang ke Sydney

Waktu Baca 6 Menit

SATSET Belanja Aman Tanpa Khawatir, Lazada Ajak Konsumen Lebih Waspada terhadap Penipuan

Waktu Baca 5 Menit

5 Rekomendasi Baju Padel Wanita Terbaik Dengan Harga Di Bawah Rp. 300.000

Waktu Baca 4 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Rilis

Jogja Food & Beverage Expo 2026 Siap Digelar, Sektor F& B dan Packaging Jadi Masa Depan Industri Manufaktur

Waktu Baca 4 Menit
Transformasi Digital
Rilis

Keamanan Digital Adalah Tanggung Jawab Setiap Pengguna Teknologi

Waktu Baca 2 Menit
Rilis

Keamanan Digital Kebutuhan Mendasar di Tengah Transformasi Teknologi

Waktu Baca 2 Menit
ChatGPT AI Chatbot: Mengintip Ancaman Hacking Berbasis AI
Rilis

Security by Design Integrasikan Aspek Keamanan Infrastruktur Digital

Waktu Baca 2 Menit
Ciber Police
Rilis

Ancaman Siber Membutuhkan Pendekatan Proaktif dan Penanganan Komprehensif

Waktu Baca 2 Menit
Rilis

Ruang Digital Menawarkan Banyak Peluang Namun Tetap Membutuhkan Etika

Waktu Baca 2 Menit
Pesatnya pertumbuhan penggunaan internet di Indonesia tidak diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam menilai dan mengecek kebenaran sumber informasi media melalui teknologi digital. Kemampuan ini dikenal sebagai literasi media digital.
Rilis

Ruang Digital Membentuk Pola Sosial dan Praktik Budaya

Waktu Baca 5 Menit
Ilustrasi Photo: SHUTTERSTOCK
Rilis

Jadi Kebutuhan Primer, Keamanan Digital Bukan Hanya Isu Teknis

Waktu Baca 3 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?