Wisata Halal di Indonesia, Tiongkok Disikapi Beragam

Wisata Halal di Indonesia, Tiongkok Disikapi Beragam

“Tema halal untuk wisman (wisatawan mancanegara) khususnya dari Tiongkok masih merupakan tantangan bagi kami yang bergerak di bisnis travel dan penyelenggaraan event. Sampai saat ini, minat ikut wisata halal belum begitu banyak,”

Wisata Halal di Indonesia, Tiongkok Disikapi Beragam


Telegraf, Jakarta – Peluang dan tantangan wisata halal di Indonesia tidak menyurutkan niat stakeholder industry, bahkan politisi (anggota DPR RI) terhadap kegiatan wisatanya yang bernuansa Islami. Bahkan perusahaan (swasta nasional Indonesia) MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) sempat membuat paket wisata halal dengan nuansa ‘Walisongo’ (sejarah penyebaran agama Islam).

Turis diajak berwisata sambil menikmati pemandangan alam di beberapa destinasi di pulau Jawa, plus menambah pengetahuan religi. “Kami pernah menangani (paket wisata) turis dari provinsi di Tiongkok yang basic nya (mayoritas) Muslim. Kami desain paket wisata sejarah Keislaman Walisongo. Sayangnya, minat (wisatawan Tiongkok) untuk paket ini tidak terlalu signifikan,” kata Direktur Nusaraya MICE Services Enny Khurniasari di Jakarta (15/12).

Sebagaimana sejarah Keislaman di Jawa tidak lepas dari sejarah penyebaran agama Islam pada abad ke 14 di tanah Jawa. Walisongo yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.

“Tema halal untuk wisman (wisatawan mancanegara) khususnya dari Tiongkok masih merupakan tantangan bagi kami yang bergerak di bisnis travel dan penyelenggaraan event. Sampai saat ini, minat ikut wisata halal belum begitu banyak,” kata Enny.

Di tempat berbeda, anggota Komisi X DPR RI (fraksi PKB) M. Khadafi melihat bahwa konteks negara Tiongkok, salah satunya adalah sejarah yang indah. Negara Tiongkok terutama wisatanya tidak lepas dari pertunjukan budaya. “Bagi orang Indonesia (berwisata ke Tiongkok), merasa nyaman. Kondisi sekarang ini, ternyata semakin banyak restoran halal. Tiongkok mengembangkan sector kuliner halal besar-besaran,” kata M. Khadafi, anggota DPR dari daerah pemilihan Lampung.

Ia mengaku sudah sering menerima undangan berkunjung ke berbagai kota di Tiongkok. Kapasitasnya, sebelum terpilih sebagai anggota DPR, yakni seorang rector Universitas Malahayati, Lampung. “Bicara (konteks) Tiongkok, banyak sejarah indah terutama kaitannya dengan sejarah keturunan Tionghoanya. Waktu saya masih menjabat rector di Malahayati (2010 – 2019), saya sering mewakili Indonesia beberapa kali pada forum Silk Road (jalur sutra). Kunjungan ke School of Medicine di Hubei, saya temu banyak orang Indonesia. Karena Tiongkok focus wisata halal, sehingga banyak Muslim asal Indonesia berkunjung. Saya yakin, (kondisi ini) membuka peluang kerjasama Indonesia dengan Tiongkok, terutama pengelolaan wisata, kuliner halal,” tegas Khadafi, yang juga ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Lampung.

MasterCard&CrescentRating terkait ‘‘Global Muslim Travel Index 2017”, menjelaskan bahwa posisi Indonesia sempat berada di peringkat ke tiga negara Organisasi Konferensi Islam yang banyak dikunjungi oleh wisatawan Muslim di dunia. Posisi kedua dan pertama ditempati oleh Emirate Arab dan Malaysia.  Posisi Indonesia pada tahun 2017 lebih baik dari tahun sebelumnya, yaitu naik satu tingkat di mana pada tahun 2016 Indonesia berada di posisi ke empat. “(pemeringkatan Global Muslim Travel) bisa sebagai branding.

Tapi (branding) ‘halal’ juga harus dibarengi dengan proses, pengaturan oleh Syariat Islam. (proses) dari pemotongan hewan sampai penyajian harus mengikuti Syariat Islam. Karena di Tiongkok, masih ada pengertian yang salah mengenai halal. Mereka anggap halal itu sama dengan ‘No Pork’. Sehingga, beberapa wisatawan Muslim masih khawatir tentang kuliner di Tiongkok. Banyak konsorsium industry wisata membuat paket China Halal Tourism dengan harga murah. Seharusnya, pemerintah Tiongkok tingkatkan ketentuan ber-Syariat Islam,” tegas Enny. (Red)


Photo Credit: Seorang Wisatawan Asing berjalan menyusuri Pantai Batu Balong di Cangu, Badung, Bali. (Saeful M. Qutub For TELEGRAF.CO.ID)

 

Yuan Adriles

close