Vaksin Merah Putih Terus Dikaji dengan 6 Lembaga Penelitian

“Keenam Lembaga penelitian tersebut adalah Lembaga Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga (UNAIR), dan Universitas Gajah Mada (UGM)”

Vaksin Merah Putih Terus Dikaji dengan 6 Lembaga Penelitian

Telegraf – Terkait vaksin Covid -19 yang sedang di uji klinis untuk menghentikan penyebarak covid-19 Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang PS Brodjonegoro mengatakan segera mempercepat pengembangan vaksin merah putih, sehingga segera bisa di gunakan.

Diketahuin vaksin merah putih tersebut sedang ada enam lembaga penelitian dan pergurun tinggi di Indonesia yang melakukan pengembangan vaksin Merah Putih dengan berbagai platform.

“Keenam Lembaga penelitian tersebut adalah Lembaga Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Airlangga (UNAIR), dan Universitas Gajah Mada (UGM),” kata Menteri Bambang pada acara Konferensi Pers: Pengembangan Vaksin, Terapi dan Inovasi COVID-19 beberapa watu lalu di Jakarta.

Disebutkan, Eijkman mengembangkan dengan platform protein rekombinan. LIPI juga mengembangkan dengan platform protein rekombinan fusi, UI dengan platform DNA, RNA, dan virus like particles. ITB dengan platform adenorus, UNAIR dengan platform adenorus, dan UGM dengan platform protein rekombinan.

“Tentunya kita berharap, vaksin ini bisa segera dikembangkan dalam waktu yang relative cepat. Saat ini, dari 6 lembaga tersebut diperkirakan yang bisa paling cepat, awal tahun depan sudah bisa diserahkan bibit vaksin ke Biofarma adalah dari Eijkman dan UI, karena tahapannya sudah mendekati atau sudah masuk ke tahap uji hewan,” papar Menteri Bambang.

Bambang mengatakan meskipun pemerintah dapat membeli langsung vaksindalam keadaan utuh tetapi kita lebih mengutamakan kerjasama dengan berbagai negara sekaligus bisa transfer teknologi. kebutuhan Vaksin di Indonesia pun nantinya akan banyak sehingga harus hati hati.

Dilain kesempatan juga di katakan oleh Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Airlangga Hartarto, bahwa perlu kehati hatian karena menyangkut kebutuhan untuk masryarakat Indonesia.

“Perlu kehati-hatian karena ini melibatkan kesehatan masyarakat keseluruhan. Pemerintah tidak ingin ada efek -efek samping yang diakibatkan daripada vaksinasi,” ungkap Airlangga.

Bambang menutup kebutuhan vaksin sangat besar, karena dua pertiga penduduk harus di vaksin, atau sekitar 180 juta orang.

“Kalau satu orang butuh dua kali vaksin dibutuhkan minimal 360 juta vaksin. Kemudian kalau semua orang divaksin, maka 270 dikali dua, alias 540 juta. Jadi harus ada kapasitas antara 360 sampai 540 juta yang barangkali tidak bisa dipenuhi oleh Biofarma sendirian. Karena itu, kita sudah menggandeng dan bernegosiasi dengan perusahaan swasta yang bersedia infes untuk pemgembangan vaksin Covid 19 ini,” kata Bambang. (AK)


Credit Photo : Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang PS Brodjonegoro/REUTERS/Iqro Rinaldi


 

Atti K.