Ucapan Macron Ini Jadi Pemicu Kemarahan Umat Islam

"Hari ini, Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia,"

Ucapan Macron Ini Jadi Pemicu Kemarahan Umat Islam

Telegraf – Kemarahan umat Muslim terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron berasal dari pidato yang dia sampaikan, sebelum insiden pemenggalan kepala seorang guru bernama Samuel Paty di pinggiran Kota Paris pada 16 Oktober lalu.

Ucapan Macron tersebut memicu timbulnya gerakan boikot produk Prancis dan menimbulkan gelombang protes dari Turki, Pakistan, Suriah, hingga Palestina dan negara-negara mayoritas berpenduduk islam lainnya.

Pada 2 Oktober, di sebuah kota di barat laut Paris, sekitar 20 km dari tempat dibunuhnya Paty karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelasnya- Macron menjabarkan rencana mengatasi separatisme, dengan Islam sebagai fokusnya. Paty, meninggal dengan kepala terpenggal pada 16 Oktober 2020 karena dibunuh oleh seorang ekstremis Chechnya.

Peristiwa itu menimbulkan syok mendalam di Prancis. Terkait kasus itu, Macron menyampaikan pembelaan penuh semangat atas kebebasan berbicara dan nilai-nilai sekuler di negaranya. Ia juga bersumpah bahwa Prancis tidak akan melarang kartun Nabi Muhammad.

“Hari ini, Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia,” kata Macron.

“Ada desakan akan Islam yang bebas dari pengaruh asing di Prancis,” imbuhnya.

Dalam rencana mengatasi separatismenya, Macron menjabarkan rencana untuk menghentikan Imam belajar di luar negeri, mengurangi sekolah di rumah, dan mengambil alih pendanaan keagamaan. Asosiasi juga harus menandatangani kontrak menghormati nilai-nilai Republik Prancis supaya bisa mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Di sisi lain, Pemerintah Prancis juga memperbaiki layanan pendidikan, kebudayaan dan olahraga. Semua ini tergabung dalam RUU soal sekularisme dan kebebasan yang direncanakan disahkan pada Desember mendatang.

“Ada desakan membangun Islam des Lumieres (Islam Pencerahan),” katanya.

Macron menegaskan bahwa prinsip sekularisme Prancis berarti kebebasan beribadah dijamin oleh negara. Tetapi ideologi “separatisme Islam” menciptakan “tatanan paralel” dalam Republik Prancis, di mana hukum Islam dianggap lebih superior.

Macron juga mengakui bahwa Pemerintahannya gagal menyejahterakan komunitas imigran dan justru menciptakan “separatisme” di mana komunitas imigran menjadi kelompok tersendiri yang hidup di lingkungan kumuh penuh kesulitan dan kesengsaraan. Dia mengatakan kegagalan pemerintah, terutama di distrik-distrik kumuh, menjadi tempat berkembangnya gerakan radikal.

Pascapembunuhan Paty, Macron membela kebebasan berpendapat dan berjanji tidak akan melarang karikatur dan gambar yang mungkin menyinggung umat Islam. Namun, di sisi lain dia meminta semua pihak untuk tidak menyebar kebencian dan saling menghormati sesama.

Menyusul pembunuhan Paty, Prancis meningkatkan perang melawan terorisme.

Warga Prancis menunggu pemerintah bertindak. Puluhan operasi dilancarkan untuk melawan asosiasi dan individu pendukung Islam radikal, atau dengan kata lain, ideologi yang ingin menghancurkan Republik Prancis.


Photo Credit: Presiden Prancis Emmanuel Macron. Getty Images

 

Indra Christianto