Tinggalkan AS, Asia Tenggara Kini Lebih Mendekat ke Tiongkok

"Faktanya adalah Tiongkok bisa membantu perekonomian Asia Tenggara, dan hal ini dipahami betul oleh ASEAN. Sebagian besar menyambut baik Tiongkok meskipun memiliki ketegangan dengan Tiongkok,"

Tinggalkan AS, Asia Tenggara Kini Lebih Mendekat ke Tiongkok

Telegraf, Jakarta – Negara-negara di Asia Tenggara kini lebih memilih untuk melakukan kerja sama dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, Tiongkok, daripada dengan Amerika Serikat yang masih menjadi perekonomian terbesar di dunia. Pasalnya, AS di bawah kepemimpinan Presiden Terpilih Donald Trump lebih mengutamakan kebijakan proteksionisme.

Tiongkok merayu Asia Tenggara dengan perjanjian perdagangan dan investasi. Menurut Credit Suisse Group AG, investasi Tiongkok di enam negara terbesar di Asia Tenggara naik hingga nyaris dua kali lipat tahun ini.

“Tiongkok memiliki arah yang jelas, mereka mengetahui apa yang mereka mau dari kerja sama yang saling menguntungkan ini. Bukan hanya kerja sama antara pemerintah (government to government/g to g), tetapi pelaku usaha juga mulai mengambil inisiatif,” kata Santitarn Sathirathai, ekonom Credit Suisse Singapura.

Filipina dan Malaysia sudah dengan jelas mengatakan bahwa mereka lebih dekat dengan Tiongkok. Dalam kunjungan ke Beijing, Oktober lalu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan dia ingin memutuskan hubungan dengan AS dan mendekat ke Tiongkok.

PM Malaysia Najib Razak dalam kunjungannya ke Beijing, November lalu menandatangani perjanjian investasi senilai US$ 30 miliar di sektor infrastruktur kereta api dan energi. Dia mengatakan Tiongkok dan Malaysia mempunyai hubungan istimewa yang berasal dari kesamaan budaya dan saling menghormati. Najib berharap hubungan Malaysia-Tiongkok akan terus meningkat.

Menurut estimasi HSBC Holdings, AS masih menjadi investor terbesar di Filipina saat ini, tetapi tahun depan Tiongkok akan mengambil alih dengan investasi senilai US$24 miliar dan US$2,5 miliar dalam bentuk arus modal. Tiongkok juga meningkatkan hubungan ekonomi dengan Filipina dengan cara meningkatkan impor agrikultur, mendorong perusahaan Filipina berinvestasi di sana, membiayai proyek infrastruktur, dan mencabut pembatasan investasi asing.

Credit Suisse memperkirakan Penanaman Modal Asing Langsung (Foreign Direct Investment/FDI) Tiongkok di enam perekonomian terbesar ASEAN akan mencapai angka US$ 16 miliar tahun ini. Tiongkok memiliki kontribusi 30 persen FDI di Thailand, dan 20 persen di Malaysia.

Investasi Tiongkok juga meningkat pesat di Indonesia, perekonomian terbesar ASEAN. Kunjungan Presiden Joko Widodo untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping membuahkan hasil. Investasi Tiongkok di Indonesia naik dua kali lipat lebih sejak Presiden Joko Widodo menjabat.

Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal, investasi (FDI) Tiongkok di Indonesia dari awal tahun hingga September berada di angka US$ 1,6 miliar, naik US$ 600 juta dari total FDI Tiongkok tahun lalu. Investor Tiongkok juga berjanji akan menambah investasi sebesar US$ 6,1 miliar ke Indonesia dalam sembilan bulan ke depan.

Tiongkok menyalip posisi AS dan kini berada di urutan ketiga investor terbesar di Indonesia, di belakang Singapura dan Jepang.

Selain Tiongkok, Taiwan dan Jepang juga meningkatkan kerja sama di Asia Tenggara karena upah buruh yang masih murah dan pertumbuhan ekonomi yang masih tinggi. Selain Singapura, enam perekonomian terbesar Asia Tenggara diperkirakan tumbuh lebih dari 3 persen tahun ini.

Selain investasi, sektor pariwisata juga menjadi sektor yang menguntungkan bagi negara-negara Asia Tenggara. Menurut Edward Lee, ekonom Standard Chartered Plc di Singapura, 25 persen turis Thailand saat ini berasal dari Tiongkok, naik dari 5 persen pada 2008. Meningkatnya kedatangan turis Tiongkok juga dirasakan di semua negara Asia Tenggara.

Thailand menawarkan visa kedatangan (visa on arrival) untuk turis Tiongkok, Malaysia mencabut visa untuk kunjungan kurang dari l5 hari, sementara Indonesia sejak tahun lalu sudah mencabut ketentuan visa untuk turis Tiongkok.

Di balik kemesraan ekonomi antara Asia Tenggara dengan Tiongkok, tersimpan ketegangan politik. Sengketa Laut Cina Selatan dengan Filipina dan Vietnam masih menjadi isu. Indonesia juga memiliki ketegangan terkait dengan Tiongkok terkait akses ke Laut Cina Selatan.

“Faktanya adalah Tiongkok bisa membantu perekonomian Asia Tenggara, dan hal ini dipahami betul oleh ASEAN. Sebagian besar menyambut baik Tiongkok meskipun memiliki ketegangan dengan Tiongkok,” kata Harry Sa, Pengamat Hubungan Internasional dari S. Rajaratnam School of International Studies. (Red)

Photo credit : REUTERS/Michalis Karagiannis


Tanggapi Artikel