Tanggapi Foto Bugil Tara Basro, Menkominfo: Lihat Sisi Seninya

"Undang-undang bunyinya begitu. Tapi kasus diterapkan pada kegiatan yang mana, itu harus dinilai dulu. Enggak bisa begitu saja. Karena seni itu berbeda lihat sisi seninya. Tapi kalau pornografi itu terang benderang. Jadi harus dipisahkan,"

Tanggapi Foto Bugil Tara Basro, Menkominfo: Lihat Sisi Seninya

Telegraf, Jakarta – Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate menilai foto bugil yang diunggah oleh aktris Tara Basro di akun Twitter-nya pada Selasa (03/03/20) tidak melanggar pasal kesusilaan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Pernyataan Johnny tersebut sangat berbeda dari pernyataan Kabiro Humas Kemenkominfo Ferdinand Setu yang menyatakan foto tersebut melanggar UU ITE. “Kata siapa melanggar UU ITE? Enggaklah. Harus dilihat baik-baiklah. Jangan semua hal itu didiametral begitu. Ada yang mengetahui itu. Evaluasinya adalah itu bagian dari seni atau bukan. Kalau itu bagian dari seni, maka itu hal yang biasa. Namanya juga seni,” ujar Johnny di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (05/03/20).

Tanggapi Foto Bugil Tara Basro, Menkominfo: Lihat Sisi Seninya

Tara Basro. Twitter

“Undang-undang bunyinya begitu. Tapi kasus diterapkan pada kegiatan yang mana, itu harus dinilai dulu. Enggak bisa begitu saja. Karena seni itu berbeda lihat sisi seninya. Tapi kalau pornografi itu terang benderang. Jadi harus dipisahkan,” lanjut Johnny. Ia pun mengaku telah melihat foto yang ramai diperbincangkan itu dan tak melihat ada pelanggaran UU ITE di dalamnya.

Saat pernyataannya dikonfrontasi dengan pernyataan bagian humasnya, Johnny membantah bahwa humasnya menyatakan foto tersebut melanggar UU ITE.

Menurut Johnny, Ferdinand hanya menyampaikan foto tersebut berpotensi melanggar UU ITE sehingga tak serta-merta menghakimi bahwa foto tersebut melanggar UU ITE. “Tidak ada perbedaan. Kalau humasnya bilang Tara melanggar uu, itu salah humasnya. Tapi, humasnya tidak mengatakan begitu. Karena apa? Seni harus dilihat dari aspeknya masing-masing.

Sebagian masyarakat pasti menilai itu ada manfaat karena itu penghormatan terhadap diri,” ujarnya.

“Tapi, sebagian juga melihat itu bisa dikaitkan dengan aturan yang lain. Lalu dipertentangkan dan hidup kita habis untuk mengurus pertentangan pendapat. Aduh, energi kita habis. Lebih baik hal yang positif dululah,”pungkasnya. []


Photo Credit : Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate (kedua kiri), bersama Direktur Penyiaran Kemenkominfo Geryantika Kurnia (kiri), Staf khusus Menteri Philip Gobang (kedua kanan), Plt Kepala Biro Humas Kemenkominfo Ferdinandus Setu (kanan) memberikan keterangan pers. ANTARA /Galih Pradipta

Tanggapi Artikel