Stanting Akan Berkurang Jika Program Pemerintah Terintegrasi

Stanting Akan Berkurang Jika Program Pemerintah Terintegrasi

"Program pemerintah yang sekarang sudah ada ini belum terintegrasi, dimana program berjalan sendiri sendiri, seperti kesehatan, kesehatan pangan, pendidikan, dinas social. Seharusnya semua duduk bersama dan membuat program yang terintergrasi dan dilakukan bersama sama"

Stanting Akan Berkurang Jika Program Pemerintah Terintegrasi


Telegraf, Jakarta – Stanting masih menjadi momok di Indonesia dimana terdapat 5 provinsi angka stanting masih tinggi, seperti di Nusa Tengara Timur, Sulawesi Barat, Kalimantan Selatan, dan Lampung, untuk mengatasi hal ini pemerintah dan pihak pihak yang terkait berusaha terus mengurangi dampak kekurangan gizi kronis yang berakibat pada kegagalan dalam pencapian badan normal.

Dengan banyaknya program yang diadakan pemerintah masih belum efektif dalam menangani permasalahan kekurangan gizi akut ini, “program pemerintah yang sekarang sudah ada ini belum terintegrasi, dimana program berjalan sendiri sendiri, seperti kesehatan, kesehatan pangan, pendidikan, dinas social. Seharusnya semua duduk bersama dan membuat program yang terintergrasi dan dilakukan bersama sama,” hal ini dikatakan Amarita Ketua Bidang Ilmiah DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) saat focus discussion group (FGD) jurnalis di Jakarta, Selasa (23/1/18).

Armita mengatakan prefalensi di Indonesia kurang dari 20 persen, untuk mengatasi masalah tersebut pemantauan pertumbuhan harus secara rutin dilakukan dari masa kehamilan yaitu 1000 hari pertama kehidupan yang dimulai dengan konsepsi. “Dimana seorang perempuan pada saat konsepsi harus dalam keadaan optimal, sehingga pada saat kehamilan diaumsikan akan baik dan kemungkinan akan terhindara dari stanting,” tuturnya.

Armita menambahkan untuk memastikan bahwa seorang perempuan dalam kondisi konsepsi optimal maka pemeriksaan saat kehamilan trisemester pertama, pertama harus pergi ke layanam kesehatan. Ini penting karena pada 20 minggu pertama kehamilan terjadi proses tumbuh kembang otak dan fisik. “”Cikal bakal stanting bakal terlihat saat lahir hingga 18 tahun maka pada saat konsepsi tidak boleh ada masalah. Karena jika ada masalah dampaknya panjang,” ungkapnya.

Di temui di tempat yang sama Galopong Sianturi, Kasubdit Peningkatan Mutu dan Kecukupan Gizi, Kementrian Kesehatan menegaskan akar masalah yang terjadi bukan hanya kekurangan pangan atau kekurangan mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal saja, melainkan kemamuan ekonomi keluarga serta tidak tersedianya sarana prasarana yang memadai untuk melayani masyarakat inilah menjadi masalah utama,

Galopong mencontohkan, “didaerah daerah di kantong kantong gizi buruk itukan umumnya sarana transportasinya masih sangat terbatas, sehingga sulit terjangkau seperti di Kalimantan, Sulawesi Tengah, Papua,” kata Galopong. Sementara untuk di daerah DKI Jakarta Galopong menjelaskan yang terjadi di perkotaan yang menjadi masalah adalah pola asuh, kadang kadang melihat ibunya mengunakan gelang dan Hp bagus sementara anaknya kurus, ini adalah kurangnya pengetahuan ketidak tauan orang tuannya bagaimana memenuhi gizi tubuh anaknya serta bagaimana mengolah makanan yang sehat.

Peran Keluarga
Permasalahan gizi buruk yang mengakibatkan Stanting itu tidak lepas dari peran keluarga dimana dari keluarga yang tidak bisa mencukupi kebutuhan bagi anak anaknya akan mempunyai peluang anaknya terkena stanting.

Ditemui di tempat terpisah Damayanti Rusli Anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) mengatakan “Permasaiahan gizi tidak hanya akan mengganggu perkembangan fisik dan mengancam kesehatan anak, namun juga dapat menyebabkan kemiskinan. Pertumbuhan otak anak yang kurang gizi tidak akan optimal sehingga akan berpengaruh pada kecerdasannya di masa depan,” ungkapnya dalam Seminar Hari Gizi Nasional 2018 .

Sementara itu Siti Masrifa Chifa Anggota komisi IX DPR RI menjelaskan alokasi dana yang di keluarkan dari APBNP cukup banyak yaitu sebesar 700 milyar dialokasikan untuk direktoat direktorat yang focus pada kesehatan masyarakat (kesmas). Diharapkan dengan anggaran yang ada dapat melibatkan masyarakat secara luas dalam penanganan Gizi buruk tersebut.

“Dari data kementrian kesehatan dimana 17,8 persen bayi usia dibawah lima tahun di indonesia mengalam malsalah gizi berdasarkan indek berat badan menurut umur, sementara bayi dibawah dua tahun yang mengalami masalah gizi mencapai 14,9 persen ini adalah tantangan pemerintah tingginya stanting menjadi indikator tingginya kejadian gizi buruk di negara ini,” ujarnya.

Masrifa juga mengungkapkan disamping masalah kekurangan gizi masalah obesitas anak di Inonesia juga meningkat dari 11 persen di tahun 2011 menjadi 15,5 persen pada tahun 2016. Untuk itu Masrifa mengajak kepada seluruh muslimat membantu memberikan dengan cara mencegah gerakan hidup sehat sehingga dana yang di pake untuk mengatasi masalah kekurangan gizi buruk ini dapan digunakan untuk fasilitas kesehatan yang lain.

Peneliti Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB Dodik Briawan menjelaskan intervensi gizi perlu dilakukan dalam bentuk edukasi secara berkesinambungan kepada masyarakat terutama orangtua. “Orang tua harus paham betul kebutuhan nutrisi anak, makanan yang baik dan tidak baik, tidak terpengaruh gaya hidup yang serba instan serta iklan iklan produk makanan yang kadang menjanjikan hal yang berlebihan,” tuturnya.

Dodik mengatakan kesalahan memberikan asupan makanan pada anak dapat beresiko bagi masa depan bangsa, seperti halnya yang di temukan balita menderita gizi buruk akibat di beri susu kental manis yang mana ini adalah minimnya pengetahuan dan ketidak tauan orang tua mengenai kebutuhan gizi yang di butuhkan ountuk tubuh anak. (Red)

Photo Credit : Dok/Ilustrasi


Atti K.

close