Soal Pembakaran Bendera, ICMI: Sama-Sama Konyol

"Kita lihat sekarang dua pihak, belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, ada ormas lain yang juga mengambil alih tugas dan fungsi negara. Jadi ini kekonyolan, kiri kanan sama-sama konyol,"

Soal Pembakaran Bendera, ICMI: Sama-Sama Konyol

Telegraf, Depok – Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengimbau semua pihak tidak saling menyalahkan satu sama lain dalam kasus pembakaran bendera dilakukan oleh Banser NU pada saat peringatan Hari Santri Nasional di Limbangan, Garut, Jawa Barat, pada Senin (22/10/18).

“Masalah ini juga tidak perlu digembar-gemborkan, mari kita bimbing ke arah yang lebih baik, nggak usah saling salah menyalahkan, maklumi saja,” ujar Jimly di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (25/10/18).

Jimly mengharapkan kasus itu menjadi pembelajaran ke depannya, yakni ormas-ormas di Indonesia tidak perlu main hakim sendiri dan mengambil alih tugas negara dalam menertibkan atribut maupun kegiatan kelompok atau ormas yang dianggap terlarang.

“Kita lihat sekarang dua pihak, belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, ada ormas lain yang juga mengambil alih tugas dan fungsi negara. Jadi ini kekonyolan, kiri kanan sama-sama konyol,” ungkapnya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini juga mengingatkan bahwa meski ada ormas yang sudah dilarang, namun jangan sampai melakukan persekusi terhadap mantan anggota ormas tersebut, seperti yang pernah terjadi dengan pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965 lalu.

“Kalau organisasinya sudah dinyatakan terlarang, jangan persekusi orangnya. Seperti pernah bangsa kita pernah mempersekusi bekas-bekas anggota PKI bahkan tetangga-tetangganya pun dipersekusi itu kan bukan budaya kita, harus dihentikan kebiasaan seperti itu,” terangnya.

Lebih lanjut, Jimly mengatakan Indonesia perlu belajar dari Rusia terkait kedewasaan berpolitik di mana Rusia pasca revolusi dari negara komunis menjadi negara demokrasi, tidak melarang bendera palu arit atau dianggap sebagai aib.

“Di Universitas Moskow palu arit itu masih simbol di atas gedung tertinggi itu. Suatu hari saya tanya ke rektornya ‘loh kok dibiarin enggak apa-apa itu?’ (jawab rektornya) ‘Lah ngapain itu kan warisan sejarah,” terang Jimly.

“Di situ kalau tingkat peradaban sudah maju, padahal Partai Komunis enggak laku lagi, tapi juga tidak dibubarkan. Jadi yang memilih Partai Komunis di Rusia itu hanya orang yang hanya di atas 70 tahun. Jadi sudah enggak laku lagi, tapi partainya tidak dilarang lalu benderanya enggak dianggap aib,” imbuhnya.

Namun demikian, lanjut mantan Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) ini, kedewasaan demokrasi seperti di Rusia belum terjadi di Indonesia.

“Untuk sampai ke tingkat begitu masih susah kita ini, kita kan masih sumbu pendek. Sama kayak di Amerika itu, di Amerika itu Partai Komunis ada tapi tidak laku,” pungkasnya. (Red)


Photo Credit : Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie. File/Dok/Ist. Photo

Share



Komentar Anda