Cari
Sign In
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
Telegraf

Kawat Berita Indonesia

  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Membaca Slogan Pertahankan dan Lanjutkan Prabowo-Gibran Itu Parah
Bagikan
Font ResizerAa
TelegrafTelegraf
Cari
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Internasional
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Technology
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Regional
    • Didaktika
    • Musik
    • Religi
    • Properti
    • Opini
    • Telemale
    • Philantrophy
    • Corporate
    • Humaniora
    • Cakrawala
    • Telegrafi
    • Telecoffee
    • Telefokus
    • Telerasi
Punya Akun? Sign In
Ikuti Kami
Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.
Opini

Slogan Pertahankan dan Lanjutkan Prabowo-Gibran Itu Parah

Didik Fitrianto Senin, 1 Januari 2024 | 08:19 WIB Waktu Baca 4 Menit
Bagikan
Pasangan Capres-Cawapres Prabowo-Gibran dan tim kampanye saat istirahat debat pilpres. FILE/IST. Photo
Bagikan

Slogan kampanye Capres dan Cawapres Prabowo-Gibran adalah ingin pertahankan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang ada saat ini, dan strateginya bahkan ingin terus dilanjutkan. Padahal, ekonomi kita hanya dikangkangi oleh segelintir orang. Sementara hidup rakyat itu dalam kondisi penuh kemiskinan dan kesengsaraan.

Menurut Oxfam ( 2022), kekayaan 4 keluarga konglomerat di Indonesia itu sama dengan 100 juta rakyat Indonesia. Bahkan menurut FAO ( 2022), ada 16,2 juta rakyat Indonesia menderita kelaparan ekstrim dengan pergi tidur dalam kondisi perut lapar.

Kekayaan di Indonesia itu terkonsentrasi ke segelintir orang konglomerat. Orang kayanya sangat sedikit sementara orang miskinnya sangat banyak membentuk pola struktur piramida yang sangat runcing ke atas. Kondisinya dibandingkan dengan rata rata dunia bahkan sangat jauh tertinggal.

Menurut World Data Book ( 2021), jumlah penduduk dewasa Indonesia tahun 2021 sebanyak 183,7 juta atau 67,38 persen dari penduduk. Rata rata kekayaan mereka hanya sebesar US $ 15.535 atau 222,3 juta rupiah. Jauh tertinggal dari rata rata dunia yang sebesar US $ 87.489 atau 1,257 milyard rupiah (dihitung dengan kurs tengah tahun 2021 sebesar 14.311 per US $ 1).

Dilihat dari angka tengahnya sebesar US $ 3.457 atau 49,4 juta rupiah per orang. Sementara rata rata dunia adalah sebesar US $ 8.360 atau 119,6 juta rupiah per orang.

Tahun 2021, Rata rata kelompok bawah (miskin) dengan kekayaan di bawah US $ 10.000 atau di bawah 143,1 juta rupiah adalah sebanyak 75,1 persen. Rata rata dunia hanya 53,2 persen.

Mereka yang di kelompok menengah atau memiliki kekayaan di atas US $ 10.000 – 100.000 atau di rentang 143,1 juta – 1,43 milyard adalah di angka 22,9 persen. Sementara rata rata dunia sebesar 33,8 persen.

Angka yang cukup fantastis adalah di kelompok kaya atau mereka yang memiliki kekayaan di atas US $ 100.000 – US $ 1 juta atau 1,43 milyard – 14,3 milyard. Di Indonesia angkanya hanya 1,9 persen, sementara rata rata dunia adalah sebesar 11,8 persen. Jauh sekali jika dibandingkan rata rata dunia.

Baca Juga :  Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama

Sementara di kelompok super kaya atau mereka yang kekayaanya di atas 14,3 milyard ke atas hanya 0,1 persen. Sementara rata rata dunia sebesar 1,2 persen. Lagi lagi angkanya tertinggal jauh dari rata rata dunia.

Di kelompok bawah (miskin) rata rata selama sepuluh tahun adalah 82,96 persen. Sementara itu rata rata dunia 66,2 persen. Angkanya tetap di bawah rata rata dunia.

Sementara dari kelompok kaya dan super kayanya Indonesia selama sepuluh tahun terakhir rata rata hanya sebesar 1,3 persen dan rata rata dunia adalah sebesar 9,4 persen. Bahkan di kelompok super kaya jumlah mereka tidak berubah sama sekali di angka hanya 0,1 persen.

Dilihat dari angka angka tersebut maka kelompok miskin itu dapat dikatakan tidak mengalami kenaikan kelas. Demikian juga di kelompok menengah ke kaya dan juga dari kaya ke super kaya. Artinya jika tidak ada perubahan sistem dan strategi pembangunan dan apalagi dilanjutkan maka kesengsaraan rakyat banyak akan semakin parah.

Kondisi ketimpangan yang bersifat asimetris dan jangka panjang tersebut menandakan sebab kemiskinan yang ada itu sifatnya struktural. Struktur yang timpang ini jelas menandakan ada yang salah dalam sistem perekonomian kita.

Harus ada perombakan sistem secara kongkrit dan tidak cukup hanya dilakukan dengan kebijakan programatik biasa seperti yang dilakukan selama ini. Sebut saja misalnya bantuan sosial ( bansos), subsidi, pengupayaan akses kredit, dan lain sebagainya. Apalagi hanya diselesaikan dengan makan siang gratis yang ditawarkan Prabowo-Gibran. Hal ini justru menjadi pelanggeng dari kemiskinan itu sendiri.

Kemiskinan struktural itu terjadi karena rakyat miskin tidak memiliki peluang untuk mengkreasi kekayaan. Sehingga mereka pada akhirnya hanya mewariskan kemiskinan baru.

____________________

Oleh : Suroto, Ketua AKSES Indonesia

Bagikan Artikel
Twitter Email Copy Link Print

Artikel Terbaru

Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Waktu Baca 10 Menit
Lawan Judi Online, Kominfo dan DPR Tingkatkan Literasi Digital Bagi Masyarakat
Waktu Baca 2 Menit
DAI: Industri Asuransi Tahan Tekanan Global, Unitlink Tetap Tunjukkan Kinerja Positif
Waktu Baca 4 Menit
Kupeluk Kamu Selamanya
Seberapa Jauh Ibu Berjuang? “Kupeluk Kamu Selamanya” Siap Menguras Air Mata di Bioskop
Waktu Baca 2 Menit
Foto : Noormahal, Delhi NCR Karnal, Autograph Collection - Exterior
Autograph Collection Debut di India, Noormahal Hadirkan Istana Mewah dengan Sentuhan Sejarah dan Desain Modern
Waktu Baca 4 Menit

Tanda Tangan Elektronik Melejit 250%, Privy Ungkap Ancaman Dokumen Digital Palsu Masih Tinggi

Waktu Baca 3 Menit

Bite Me Sweet: Saat Dessert Jadi Cerminan Karakter, Luvita Ho Bawa Indonesia ke Panggung Asia

Waktu Baca 4 Menit

AS Klaim Sita Sebuah Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz, Teheran Merespon Cepat

Waktu Baca 7 Menit

Ketika Pendamai Dituduh Menista Agama

Waktu Baca 9 Menit

Lainnya Dari Telegraf

Opini

Mentalitas Kepiting, Membongkar Tren Serangan Personal di Media Sosial

Waktu Baca 4 Menit
Opini

Permohonan Maaf Kepada Seluruh Rakyat Lebanon

Waktu Baca 13 Menit
Opini

The Art Of War Dari Sun Tzu dan Strategi Pendiri Bangsa Mendesain Indonesia

Waktu Baca 11 Menit
Opini

Black Swan, Dekolonialisasi dan Tatanan Dunia Baru

Waktu Baca 9 Menit
Opini

Menilik Campur Tangan Asing Dibalik Runtuhnya Orde Baru Tahun 1998

Waktu Baca 6 Menit
Opini

Impeachment dan Dampaknya Terhadap Rakyat Kecil

Waktu Baca 5 Menit
Gerakan Hemat Energi
Opini

Gerakan Hemat Energi dan Transformasi Budaya Kerja

Waktu Baca 5 Menit
Opini

Pers Sebagai Kekuatan Keempat Demokrasi: Antara Penjaga Kebenaran dan Alat Propaganda

Waktu Baca 4 Menit
Telegraf
  • Nasional
  • Ekonomika
  • Politika
  • Regional
  • Internasional
  • Cakrawala
  • Didaktika
  • Corporate
  • Religi
  • Properti
  • Lifestyle
  • Entertainment
  • Musik
  • Olahraga
  • Technology
  • Otomotif
  • Telemale
  • Opini
  • Telerasi
  • Philantrophy
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

KBI Media

  • Akunku
  • Hobimu
  • Karir
  • Subscribe
  • Telegrafi
  • Teletech
  • Telefoto
  • Travelgraf
  • Musikplus

Kawat Berita Indonesia

Telegraf uses the standards of the of the Independent Press Standards Organisation (IPSO) and we subscribe to its Editors’ Code of Practice. Copyright © 2026 Telegraf. All Rights Reserved.

Selamat Datang!

Masuk ke akunmu

Lupa passwordmu?