Situs Nikahsirri Benarkah Sebuah Fenomena Prostitusi Berkedok Agama?

Situs Nikahsirri Benarkah Sebuah Fenomena Prostitusi Berkedok Agama?

"Nikah siri kok dijadikan komoditas. Apalagi di dalam situs tersebut terang-terangan menyebutkan lelang keperawanan yang dipromosikan secara online,"

Situs Nikahsirri Benarkah Sebuah Fenomena Prostitusi Berkedok Agama?


Telegraf, Jakarta – Boomingnya situs nikahsirri.com yang menjadi situs untuk ajang lelang dan pencarian perawanan beberapa hari lalu, sebelum akhirnya dinyatakan terlarang oleh polisi, membuka tabir sebuah fenomena. Betapa sebagian laki-laki begitu terobsesi dengan keperawanan.

Menurut seorang dokter jiwa, fenomena ini tidak lepas dari norma ketimuran yang memang menuntut seorang perempuan harus dalam kondisi perawan sebelum menikah. Terbentuk oleh norma tersebut, kaum laki-laki cenderung berusaha mencari perempuan yang kondisinya masih perawan.

Sayangnya, untuk memenuhi harapan tersebut seringkali perempuan harus menjadi korban. Selain diposisikan hanya sebagai objek, perempuan sering diperlakukan tak ubahnya seperti barang dagangan. Antara lain lewat layanan lelang keperawanan.

Banyak Yang Mengecam Berdirinya Situs nikahsirri.com

Sementara itu wakil ketua komisi VIII DPR RI, Iskan Qolba Lubis mengecam keberadaan situs nikahsirri.com yang menyediakan layanan lelang perawan. Ia menilai, munculnya situs tersebut dapat menjadi pintu masuk praktik perdagangan manusia yang berkedok agama.

“Munculnya situs tersebut merupakan suatu modus prostitusi berkedok agama. Bahkan, praktik itu bisa dijadikan pintu masuk perdagangan manusia,” kata Iskan dalam keterangan tertulisnya, selasa (26/09/2017).

Iskan menyebut meski berkedok agama, situs tersebut bertentangan dengan undang-undang perkawinan. Hal tersebut bisa dikatakan deligitimasi agama.

“Walau berlindung dibalik aturan agama, praktik ini bertentangan dengan UU perkawinan. Bahkan bisa dibilang sebagai bentuk deligitimasi terhadap agama,” kata Iskan.

Situs nikahsirri.com membuka layanan lelang perawan dengan syarat utama usia 14 tahun ke atas. Menurutnya, syarat tersebut melanggar undang-undang perlindungan anak dan dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena usia tersebut masih dalam proteksi maksimal.

“Secara jangka panjang modus nikah seperti ini akan tidak baik bagi tumbuh kembang anaks, sekaligus mengganggu masa depan anak dan bisa melanggar UU perlindungan terhadap anak. Usia 14 tahun tentu masih usia anak yang wajib mendapatkan proteksi maksimal,” tambahnya.

Iskan menghimbau agar kemunculan isu sejenis praktik perdangan manusuia tersebut perlu disikapi secara serius.

“Kita tidak boleh lengah dengan modus yang mengarah pada perdagangan manusia. Munculnya itu ini harus disikapi serius, karena bisa jadi ini puncak gunung es dari banyaknya praktik sejenis di dunia maya.” tutur Iskan.

Keinginan sebagian laki-laki untuk mendapatkan perempuan yang masih perawan, cenderung hanya untuk menuruti keinginan duniawi. Menurut dr Andri, obsesi sebagian laki-laki terhadap keperawanan bisa mendorong mereka untuk mendapatkannya dengan cara-cara yang tidak pas.

Kini pemilik situs Aris Wahyudi tengah ditahan oleh Subdit Cyber Crime Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Penangkapan pria yang menyebut memiliki panggilan akrab Arwah itu dilakukan di Jalan Kebon Jeruk Timur, Cipinang Besar Utara, Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (24/09/2017).

Dirkrimsus Polda Metro Jaya, Kombes Adi Deriyan Jayamarta mengatakan, dari hasil pemeriksaan tersangka sudah ada 2700 klien yang bergabung ke situs nikahsirri.com.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan tersangka dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik serta Undang-Undang Pornografi. Argo menyebut situs tersebut juga mengandung konten pornografi.

Situs tersebut pun menuai kontroversi dari Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengecam keberadaan situs nikahsirri.com. Khofifah, yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama, menganggap situs nikahsirri.com berpotensi menjadi praktik pelacuran terselubung dengan modus agama.

“Nikah siri kok dijadikan komoditas. Apalagi di dalam situs tersebut terang-terangan menyebutkan lelang keperawanan yang dipromosikan secara online,” ungkap Khofifah di sela-sela pencairan Program Keluarga Harapan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Jumat (23/09/2017) lalu. (Red)

Photo Credit : Ari Saputra


KBI Telegraf

close