Singapura Management Sebut Indonesia Unggul Dalam Penyediaan SDM Berskill Rendah

“Indonesia harus memanfaatkan sebaik-baiknya angkatan kerja yang masih muda sebagai keunggulan komparatif."

Singapura Management Sebut Indonesia Unggul Dalam Penyediaan SDM Berskill Rendah

Telegraf, Singapura – Pendidikan kini menjadi kunci utama dalam mengembangkan kualitas tenaga ahli di Indonesia. Ada 3 permasalahan uatam yang harus diselesaikan, yaitu sistem pendidikan atau kurikulum yang belum bisa memenuhi kebutuhan dunia yang terus berkembang, jumlah tenaga pendidik berkualitas yang belum mencukupi, serta pendanaan yang masih kurang memadai.

Ketiga permasalahaan ini ditemukan oleh Singapore Management University (SMU) dan perusahaan layanan keuangan global J.P. Morgan saat melakukan penelitana selama 1 tahun di Indonesia. Penelitian ini juga menemukan bahwa Indonesia unggul pada industri yang membutuhkan keahlian rendah. Sayangnya Indonesia perlu menambah jumlah pekerja ahli untuk mengangkat status ekonominya menjadi negara berpendapatan menengah.

Saat ini, hanya 16 % sarjana yang mempelajari bidang teknik, konstruksi, dan manufaktur. Ini adalah keahlian-keahlian inti yang penting bagi Indonesia ketika ekonomi semakin terindustrialisasi. Ada kesenjangan menyolok antara keahlian yang diajarkan oleh sekolah dan keahlian yang dicari oleh industri. Hal ini dapat dilihat pada industri utama Indonesia yang mengalami pertumbuhan, seperti sektor teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Setiap tahunnya ada 200.000 mahasiswa TIK yang lulus dari universitas, angka ini mencukupi dari segi jumlah kebutuhan industri. Namun, rangkaian keahlian yang mereka miliki seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Permasalahan ini juga terlihat pada sektor-sektor yang memiliki pertumbuhan tinggi seperti otomotif dan pariwisata. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah melakukan berbagai upaya terhadap reformasi pendidikan.

Salah satunya adalah mengintegrasikan lebih banyak modul pelatihan yang relevan dengan TIK ke dalam kurikulum dan mendorong lebih banyak pelajar untuk menyelesaikan pendidikan tinggi. Sayangnya upaya ini masih terhambat oleh infrastruktur yang lemah serta tidak tersedianya tenaga pendidikan berkualitas dalam jumlah yang mencukupi.

Baca Juga :   Pandemi Covid-19 Tak Halangi Pertumbuhan Kredit dan Laba BTN Pada Kuartal II 2021

Selain itu, di Indonesia alokasi pendanaan pendidikan di APBN selama 5 tahun terakhir ini masih berada di kisaran 10%. Ini menjadi belanja fiskal pendidikan terendah di antara negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Tingkat pengangguran pemuda di Indonesia masih berkisar pada angka 18 %. Padahal, Indonesia memiliki lebih dari 40 % populasi berusia di bawah 25 tahun, yang menempatkan negara ini dalam posisi yang kuat untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan.

“Indonesia harus memanfaatkan sebaik-baiknya angkatan kerja yang masih muda sebagai keunggulan komparatif. Indonesia juga harus memprioritaskan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan untuk memastikan bahwa tersedia tenaga pendidikan berkualitas dalam jumlah yang mencukupi dan ada keterlibatan lebih besar dari para pelaku industri yang bisa menawarkan ikatan industri serta pelatihan praktik agar Indonesia bisa mencapai pertumbuhan berkelanjutan,” kata Arnoud De Meyer, Presiden SMU. (Red)

Foto : Arnoud De Meyer, Presiden SMU. | smupreneurs.com

KBI Telegraf

close