Simpul Permasalahan Budidaya Ikan Hias Belum Terurai

“Harga pakan cacing sekarang ini sudah mencapai Rp 10 ribu per takar. Dulu hanya Rp 7 ribu, kami masih bisa bertahan.”

Simpul Permasalahan Budidaya Ikan Hias Belum Terurai


Telegraf, Jakarta – Berbagai simpul pengembangan potensi ikan hias terutama jenis air tawar belum terurai untuk menjadikan Indonesia sebagai eksportir terbesar di dunia. Simpul yang dimaksud antara lain tantangan pelaku UKM (usaha kecil menengah) menghadapi beberapa masalah klasik. Inventarisasi permasalahan mulai dari harga jual yang cenderung turun sampai dengan sistem standardisasi ukuran ikan hias. “Pada tingkat eksportir, (standard ukuran) dengan S (small), M (medium), L (large) atau centimeter.Tapi ada juga eksportir menggunakan standard inch atau 2,54 centimeter. Setiap eksportir punya standard beda-beda,” Bambang Cahya Pinardi, Ketua Penggiat Asosiasi Ikan Hias mengatakan kepada Telegraf.

Di sisi lain, kekuatan potensi ikan hias air tawar semakin dipetakan. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia optimis dengan serapan pasar ikan hias air tawar di Tiongkok. Pada saat bersamaan, negara pesaing yakni Singapura juga semakin menghadapi permasalahan minimnya lahan. “Harga sewa lahan (untuk budidaya ikan hias) di Singapura semakin tinggi. (harga tanah) naik terus. Ini kesempatan untuk kita gembosi (produksi) ikan hias air tawar. Karena selama ini, Singapura yang bisa rebut pasar ekspor,” Suhana dari Kadin mengatakan kepada Telegraf.

Terlepas dari kondisi di Singapura, Bambang Cahya menyoroti harga jual ikan hias. Kondisi sekarang, harga turun sampai rata-rata Rp 700 per ekor. Sementara komponen lain terutama cacing rambut atau sutra untuk pakan ikan. Terutama jenis cupang yang mengonsumsi cacing sutra. Manfaatnya, cupang bisa cepat besar karena mengonsumsi cacing sutra. “Harga pakan cacing sekarang ini sudah mencapai Rp 10 ribu per takar. Dulu hanya Rp 7 ribu, kami masih bisa bertahan.”

UKM ikan hias di Bekasi juga tidak bisa terus menerus mengandalkan limpahan cacing di saluran-saluran air, kubangan dangkal. Karena selokan tempat mengalirnya limbah dan pemukiman penduduk sering teralir cepat. “Kami juga harus bisa deteksi penyakit ikan hias, seperti mengikuti ketentuan SNI (standard nasional Indonesia. Belum ada penyuluh-penyuluh dari KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) yang mau bantu kami. Selain masalah permodalan juga.”

Menanggapi hal tersebut, Suhana mengaku bahwa pemenuhan ketentuan SNI untuk ikan hias baru pada sistem angkutan, pengiriman via udara. “(sistem) angkutan kita sudah mengikuti SNI termasuk pengemasan, packing. Permasalahan hanya pada eksportir, mau menerima atau tidak. Tapi SNI untuk penyuluhan ikan hias belum ada,” kata Suhana yang aktif pada Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim (PK2PM).

Baca Juga :   JamSyar Raih Opini WTP Pada Laporan Keuangan Tahun 2020

Sebagai perbandingan, sistem angkutan via udara eksportir Singapura diterapkan maskapai penerbangan asing. Beberapa maskapai tujuan Eropah antara lain Deutsche Lufthansa, Timur Tengah Qatar Airways dan lain sebagainya. Sementara Garuda Indonesia untuk angkutan ikan hias ke luar negeri juga belum maksimal. “Kalau dengan angkutan kapal laut, (ikan-ikan) bisa mati di jalan karena terlalu lama. Sehingga maskapai penerbangan nasional juga harus support ekspor ikan hias, terutama tujuan Eropah.”

Bambang Cahya menambahkan bahwa permodalan utama usaha budidaya ikan hias yakni akuarium. Beberapa pelaku UKM, tingkat keberhasilan dan permodalan dilihat dari jumlah akuariumnya. UKM yang hanya memiliki 30 – 50 akuarium, dikategorikan kelas menengah. Tetapi kalau jumlahnya sudah lebih dari 100 akuarium, UKM tersebut berkategori besar dan baik. Permasalahan usaha mikro ikan hias berbeda misalkan dengan hortikultura. Kalau petani mendapat bantuan seperti benih, obat, usahanya bisa berjalan. Tetapi kalau usaha budidaya ikan hias berbeda. “Karena frekuensi deteksi terhadap penyakit lebih tinggi. Benih yang dikirim kurang baik, berdampak pada tingkat kematian (ikan).” (S.Liu)


Atti K.

close