Setya Novanto Akhirnya Dieksekusi ke Penjara Sukamiskin

"Biarlah saya sendiri yang didhzolimi dan mudah-mudahan bahwa mereka yang menzalimi tentu dimaafkan. Siapa yang dizalimi tentu akan dibalas Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat,"

Setya Novanto Akhirnya Dieksekusi ke Penjara Sukamiskin


Telegraf, Jakarta – Berjalan ke luar dari Rumah Tahanan (Rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mantan Ketua DPR, Setya Novanto (Setnov) terlihat sumringah, Jumat (04/05/18). Senyuman menghiasi wajah mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar itu.

Langkahnya pun terlihat ringan. Padahal, Novanto bakal menjalani masa hukuman di Lapas Sukamiskin. Di Lapas khusus koruptor itu, Novanto bakal “nyantri” selama 15 tahun seperti vonis yang telah dijatuhkan Pengadilan Tipikor Jakarta.

Mengenakan kaos dengan balutan jaket warna hitam, Novanto tampak berjalan santai keluar pintu Rutan. Mantan Bendahara Umum Partai Golkar itu langsung menghampiri awak media untuk berpamitan.

“Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh wartawan di KPK dan saya sekarang mohon pamit ya saya dari kos-kosan (Rutan KPK),” kata Setnov di halaman Rutan KPK, Jakarta, Jumat (04/05/18).

Dalam sejumlah kesempatan, Novanto kerap menyebut Rutan KPK sebagai tempat kosnya. Novanto mengaku akan pindah ke Lapas Sukamiskin yang disebutnya sebagai pesantren. Novanto mengaku bakal menjalani masa hukumannya dengan belajar dan berdoa.

“Saya akan menuju ke tempat pesantren (Lapas Sukamiskin) dan di sana saya akan banyak belajar, banyak berdoa,” tuturnya.

Wajah sumringah yang ditampilkan tersebut kontras dengan kondisi Novanto pada saat dibawa oleh tim penyidik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) ke Gedung KPK untuk diperiksa perdana sebagai tersangka kasus korupsi e-KTP dan dijebloskan ke Rutan Gedung KPK pada Minggu, 19 November 2017 malam tahun lalu.

Novanto Mulai Jalani Hukuman di Lapas Sukamiskin

Terpidana kasus korupsi KTP elektronik Setya Novanto melambaikan tangan ke arah awak media saat keluar dari Rutan KPK untuk dieksekusi menuju Rumah Tahanan (Rutan) Sukamiskin Bandung oleh Petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jakarta, 4 Mei 2018. ( Foto: Antara / Adam Bariq )

Saat itu, Novanto yang duduk di kursi roda tampak lusuh. Terdapat guratan di pelipis kanannya yang menjadi penanda peristiwa kecelakaan saat Novanto diburu KPK dan pihak kepolisian beberapa hari sebelumnya. Novanto pun memilih bungkam saat dikonfirmasi oleh para awak media.

Namun pada hari ini, Novanto mengaku sudah ikhlas dengan sanksi hukuman yang diterimanya atas korupsi e-KTP. Meski demikian, Novanto masih merasa didzholimi dalam skandal korupsi yang merugikan keuangan negara hingga Rp 2,3 triliun itu.

Tanpa mengungkap secara gamblang, Novanto hanya berharap pihak yang telah menzaliminya itu akan mendapat balasan yang setimpal di kemudian hari.

“Biarlah saya sendiri yang didhzolimi dan mudah-mudahan bahwa mereka yang menzalimi tentu dimaafkan. Siapa yang dizalimi tentu akan dibalas Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat,” harapnya.

Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan hukuman 15 tahun pidana penjara dan denda Rp 500 juta subsider tiga bulan kurungan terhadap terhadap Setya Novanto. Tak hanya itu, Majelis Hakim juga menjatuhkan pidana tambahan membayar uang pengganti sebesar USD 7,3 juta dikurangi uang yang telah dikembalikan kepada KPK sebesar Rp 5 miliar subsider 2 tahun pidana penjara, dan pidana tambahan lainnya berupa pencabutan hak politik Novanto selama 5 tahun setelah menjalani pidana pokok.

Majelis Hakim menyatakan Novanto telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan korupsi secara bersama-sama terkait proyek pengadaan e-KTP. Majelis Hakim menyatakan, Novanto terbukti memperkaya diri dari proyek e-KTP. Novanto diyakini telah menerima uang USD 7,3 juta dari Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudiharjo dan Johannes Marliem dari perusahaan Biomorf.

Pemberian uang kepada Novanto melalui pengusaha Made Oka Masagung dan keponakannya Irvanto Hendra Pambudi. Berdasarkan fakta persidangan, kata hakim, uang kepada Novanto dialirkan melalui sistem barter antar-money changer.
Selain itu, Novanto juga terbukti menerima jam tangan merek Richard Mille tipe RM 011 senilai USD 135.000 atau sekitar Rp 1,3 miliar dari Andi Narogong dan Johannes Marliem.

Pemberian itu sebagai ucapan terima kasih karena telah meloloskan anggaran proyek e-KTP di DPR RI. Jam tangan itu telah dikembalikan kepada Andi, lantaran sudah ramai pemberitaan soal penyidikan KPK dalam kasus korupsi pengadaan e-KTP. Novanto juga terbukti memperkaya pihak lain dan sejumlah korporasi.

Perbuatan Novanto tersebut ‎dinilai telah melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (Red)


Photo Credit : Mantan Ketua DPR, Setya Novanto divonis selama lima belas tahun penjara, dan akan menjalani tahanan di rutan Sukamiskin Bandung. | Antara

KBI Telegraf

close