Setelah Sempat Delay Program Digitalisasi SPBU Memasuki Masa Final

"Sesuai Peraturan Menteri Keuangan nomor: 157/PMK.02/2016 tanggal 25 Oktober 2016, volume Jenis BBM Tertentu hasil verifikasi BPH Migas menjadi dasar dalam perhitungan pembayaran subsidi oleh Kementerian Keuangan, dimana besaran biaya subsidi Jenis BBM Tertentu (JBT) Minyak Solar dalam APBN Tahun Anggaran 2020 berkisar sebesar Rp. 24 Triliun, sehingga setiap bulannya BPH Migas melakukan verifikasi dan menyetujui volume penyaluran JBT Minyak Solar yang dilaksanakan oleh PT. Pertamina (Persero) sekitar Rp. 2 Triliun/bulan"

Setelah Sempat Delay Program Digitalisasi SPBU Memasuki Masa Final

Telegraf, Jakarta – Dalam rangka peningkatan akuntabilitas peyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) tertentu dan jenis BBM penugasan pemerintah melalui Badan Pengaturan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) implementasikan program Digitalisasi SPBU (IT).

Perjanjian Program digitalisasi sudah di laksanakan dua tahun lalu yaitu 2018 pada 31 Agustus yang di targetkan selesai pada akhir Desember 2018 antara PT.Pertamina (Persero) dan PT.Telkom Indonesia. Namun dalam progresnya beberapa kali mengalami perubahan target hingga 30 Juni 2020 dengan capaian 44,8 persen dengan jumlah 2.472 SPBU dari target 5.518 SPBU.

“Sesuai Peraturan Menteri Keuangan nomor: 157/PMK.02/2016 tanggal 25 Oktober 2016, volume Jenis BBM Tertentu hasil verifikasi BPH Migas menjadi dasar dalam perhitungan pembayaran subsidi oleh Kementerian Keuangan, dimana besaran biaya subsidi Jenis BBM Tertentu (JBT) Minyak Solar dalam APBN Tahun Anggaran 2020 berkisar sebesar Rp. 24 Triliun, sehingga setiap bulannya BPH Migas melakukan verifikasi dan menyetujui volume penyaluran JBT Minyak Solar yang dilaksanakan oleh PT. Pertamina (Persero) sekitar Rp. 2 Triliun/bulan,” ungkap kepala BPH Migas Fanshurullah Asa dalam konfrensi pera di kantornya Jakarta, Rabu (8/7).

Lanjut Ifan panggilan akrab Kepala BPH migas dalam rangka keakuratan pada pelaksanaan verifikasi JBT serta untuk menjamin agar penyalurannya tepat sasaran dan volume, maka sangat dibutuhkan penerapan IT Nozzle dg CCTV yang dapat merekam kendaraan dan nomor polisinya.

Ditemui di tempat yang sama Yanuar Budi Hartanto, PJS. SVP Retail Marketing dan Sales PT. Pertamima (Persero) mengtakan pertamina akan mendigitalisasikan 5.518 SPBU seluruh Indonesia hingga saat ini sudah mencapai 2.472 SPBU. Setara dengan 44,80 persen.

“Tahapannya adalah memalui survey, lalu pekerjaan sipil di SPBUnya baik itu untuk pekerjaan dispenser dan automatic tank gauge (ATG) serta juga instalasi IT nozzelnya,” ungkap Yanuar.

Baca Juga :   Hore! Gaji Ke-13 Akhirnya Cair Juga

Lanjutnya progres hingga akhir Juni 2020, 4.819 SPBU atau sebesar 87,33% telah terpasang ATG (Automatic Tank Gauge), 3.060 SPBU atau sebesar 55,45% telah terpasang EDC LinkAja, 1.268 SPBU atau sebesar 22,98% telah mencatat nomor polisi melalui EDC, 1.577 SPBU atau sebesar 28,58% telah terdigitalisasi dan memproduksi data yang dapat di akses melalui Dashboard yang dikembangkan oleh PT .Pertamina (Persero), diantaranya berupa data volume penjualan per transaksi, data nilai transaksi penjualan, data transaksi per SPBU, namun pada dasarnya data-data tersebut belum memenuhi kriteria yang diharapkan oleh BPH Migas, sehingga belum dapat dijadikan sebagai perangkat pengawasan yang komprehensif dalam penyaluran JBT dan JBKP.

Sementara untuk pemasangan perangkat Video Analytic (CCTV) untuk merekam kendaraan dan nomor polisinya secara otomatis belum dilakukan di seluruh SPBU yang di targetkan. (AK)


Credit Photo : Badan Pengaturan Hilir Minyak dan Gas Bumi/telegraf


Atti K.