Setelah Alami Kemerosotan Nilai Tukar, Hari Ini Rupiah Menguat 23 Poin

Setelah Alami Kemerosotan Nilai Tukar, Hari Ini Rupiah Menguat 23 Poin

"Mata uang rupiah terapresiasi terhadap dolar AS masih ditopang harapan positif pertumbuhan ekonomi nasional yang akan mencapai di atas level lima persen,"

Setelah Alami Kemerosotan Nilai Tukar, Hari Ini Rupiah Menguat 23 Poin


Telegraf, Jakarta – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin sore, bergerak menguat sebesar 11 poin menjadi Rp13.532 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.543 per dolar Amerika Serikat (AS).

“Dolar AS melemah seiring dengan ketidakpastian kebijakan pemangkasan pajak Presiden AS Donald Trump,” kata Ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail di Jakarta, (13/11/2017).

Ia mengatakan bahwa Senat dari partai Republik menyatakan akan menyetujui rencana pemotongan pajak tersebut tahun depan, atau lebih lama dari yang direncanakan oleh pemerintah AS.

Selain itu, lanjut dia, sentimen mengenai peningkatan sejumlah harga komoditas seperti emas dan minyak yang terus berlanjut pasca ketidakpastian kapan kebijakan pemotongan pajak di AS turut membebani pasar obligasi Amerika Serikat dan berdampak pada dolar AS.

Dari dalam negeri, ia mengatakan bahwa sentimennya cukup kondusif setelah data defisit transaksi berjalan terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia mengalami penurunan. Dampak data tersebut menjaga pergerakan rupiah terhadap dolar AS.

Bank Indonesia menyampaikan, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar 4,3 miliar dolar AS (1,65 persen PDB), membaik dari defisit pada triwulan sebelumnya yang sebesar 4,8 miliar dolar AS (1,91 persen PDB), seiring dengan kenaikan surplus neraca perdagangan barang dan penurunan defisit neraca pendapatan primer.

Sementara itu, surplus NPI triwulan III 2017 tercatat 5,4 miliar dolar AS, meningkat signifikan dibandingkan dengan surplus triwulan II 2017 sebesar 0,7 miliar dolar AS. Surplus NPI itu mendorong peningkatan posisi cadangan devisa dari 123,1 miliar dolar AS pada akhir triwulan II 2017 menjadi 129,4 miliar dolar AS pada akhir triwulan III 2017.

Analis Monex Investindo Futures, Putu Agus menambahkan bahwa masih adanya keyakinan kenaikan suku bunga AS satu kali lagi pada tahun ini, dan tiga kali pada 2018 mendatang menahan tekanan dolar AS lebih dalam.

Pekan ini, ia mengatakan pelaku pasar akan memperhatikan data dari Amerika Serikat diantaranya penjualan ritel dan indeks harga konsumen. Jika kedua data makroekonomi itu mencatatkan hasil positif maka memperbesar peluang kenaikan suku bunga AS di Desember tahun ini.

Baca Juga :   Zipmex Umumkan Investornya Setelah Mendapat Pendanaan 41 Juta Dolar AS

Sementara itu, dalam kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Senin (13/11/2017) mencatat nilai tukar rupiah bergerak melemah ke posisi Rp13.555 dibandingkan posisi sebelumnya Rp13.514 per dolar AS.

Kurs Hari Ini

Nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta pada Selasa pagi, (14/11/2017) naik 23 poin menjadi Rp13.529 per dolar AS dengan topangan harapan positif mengenai pertumbuhan ekonomi nasional.

“Mata uang rupiah terapresiasi terhadap dolar AS masih ditopang harapan positif pertumbuhan ekonomi nasional yang akan mencapai di atas level lima persen,” kata Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada.

Optimisme Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bahwa pertumbuhan ekonomi sepanjang 2017 bisa mencapai 5,1 persen, menurut dia, imbasnya masih cukup kuat terhadap pergerakan rupiah.

Kabar mengenai pendanaan infrastruktur di Indonesia dari Jepang yang nilainya sekitar Rp15,2 triliun, ia menjelaskan, turut memicu harapan positif pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengemukakan bahwa iklim investasi di Indonesia juga membaik. Dalam pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) di Manila, Indonesia mendapat apresiasi dari Perdana Menteri Jepang Abe, yang menyebut iklim investasi di Indonesia semakin kondusif.

Ia menambahkan bawa Bank Dunia juga mengapresiasi kenaikan peringkat Indonesia dalam peringkat kemudahan berbisnis (Ease of Doing Business/EODB) tahun 2018 dari peringkat 72 dari peringkat 91 pada 2017.

“Bahkan Bank Dunia untuk Indonesia mengatakan saat ini merupakan periode yang tepat untuk berinvestasi di Indonesia, didukung dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, lima persen,” katanya. (Red)

 

Photo Credit : Antara


KBI Telegraf

close