Separuh Ekosisitem Mangrove yang Tumbuh di Indonesia Mengalami Kerusakan

“Paling parah kerusakan mangrove itu di Pulau Jawa karena masyarakatnya banyak yang membuka hutan mangrove, dan lahanya untuk tempat tinggal serta untuk membuka lahan untuk tambak”

Separuh Ekosisitem Mangrove yang Tumbuh di Indonesia Mengalami Kerusakan


Telegraf, Jakarta – Indonesia adalah negara yang memiliki sebaran ekosistem mangrove terluas di dunia, yaitu lebih dari 20 persen ekosistem mangrove tumbuh di Indonesia setara dengan 3,49 juta hektar dari 16,53 hektar mangrove di dunia yang tumbuh di sepanjang 95.000 kilometer pesisir Indonesia.

Dari 3,49 juta hektar yang ada hutan mangrove di Indonesia yang masih dalam kondisi baik adalah 1,67 juta sementara yang 1,82 juta hektare hutan mangrove memiliki kondisi rusak, dimana kerusakan tersebut dikarenakan untuk perumahan dan dibuka untuk tambak.

Deputi Pengelolaan Energi, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Montty Girianna, mejelaskan dalam acara workshop pengelolaan ekosiatemmangrove berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat, di Jakarta, Senin (27/11/2017).

“Paling parah kerusakan mangrove itu di Pulau Jawa karena masyarakatnya banyak yang membuka hutan mangrove, dan lahanya untuk tempat tinggal serta untuk membuka lahan untuk tambak,” ungkap Montty.

Montty juga menjelaskan ada dua hal yang harus kita lakukan yaitu memperbaiki kerusakan yang ada dan kita harus menjaga yang masih baik, agar tidak terhindar dari perambahan, perbaikan nya tersebut Monnty mengatakan sesuai dengan peratuan Menteri perekonomian yaitu pemberdayaan masarakat sekitar hutan mangrove.

Montty juga, mengatakan mangrove memiliki nilai penting bagi lingkungan, selain sebagai pencegahan dampak kerusakan lingkungan dan bencana, mangrove memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi dan sebagai tempat pemijahan biota laut.

“Mangrove juga memiliki potensi stok karbon dan dapat menurunkan gas emisi rumah kaca, dengan potensi 3 sampai 5 kali lebih besar dari hutan biasa,” kata Montty.

Menurut data Center for International Forestry Research atau CIFOR, saat ini ekosistem mangrove mengalami tekanan dengan ancaman laju degradasi yang tinggi mencapai 52.000 ha pertahun. Ancaman tersebut berupa alih fungsi lahan, untuk industri, pemukiman, dan tambak, pencemaran limbah domestik, limbah berbahaya lainnya, illegal logging dan lain-lan.

“Ancaman tersebut mengakibatkan Indonesia kehilangan potensi karbon senilai USD 3,1 miliar pertahunnya,” tutur Montty.

Guna mendukung pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 73 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional pengelolaan Ekosistem Mangrove. Peraturan tersebut mengamanatkan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Pengarah Tim Koordinasi Nasional untuk menetapkan kebijakan, strategi, program dan indikator kinerja pengelolaan ekosistem mangrove.

Melalui pemulihan dan pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan tersebut sebagai bagian kontribusi untuk target penurunan emisi Indonesia sebesar 29% pada 2030. (Red)

Credit Photo : Atti Kurnia/telegraf.co.id


 

Atti K.

close