Sebanyak 18 Tersangka Hate Speech di Medsos Diciduk Polisi

Sebanyak 18 Tersangka Hate Speech di Medsos Diciduk Polisi

”Kami mensinyalir ada kolompok yang menyerupai Saracen. Jaringan-jaringan mereka sudah ada yang kami proses tapi tidak kita hadirkan di sini. Kalau yang kita tangkap ini hanya share setelah mendapatkan dari grup. Sejauh ini mereka tidak bekerja untuk kelompok lain tapi kami akan terus dalami,”

Sebanyak 18 Tersangka Hate Speech di Medsos Diciduk Polisi


Telegraf, Jakarta – Kebebasan berpendapat melalui media sosial di internet masih kerap disalahgunakan untuk aksi negatif. Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri merilis 18 tersangka kasus ujaran kebencian melalui media sosial yang ditangkap sepanjang 2018.

”Sepanjang 2018 ada 18 tersangka yang ditangkap tim tindak pidana siber,” kata Kasubdit 1 Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol Irwan Anwar di Cideng, Jakarta, Rabu (21/02/2018).

Mereka ditangkap hanya dalam rentang Januari-Februari 2018. Para tersangka ditangkap di berbagai daerah. Polisi mencurigai ada di antara mereka itu yang saling mengait bukan sekadar bermotif iseng.

”Kami mensinyalir ada kolompok yang menyerupai Saracen. Jaringan-jaringan mereka sudah ada yang kami proses tapi tidak kita hadirkan di sini. Kalau yang kita tangkap ini hanya share setelah mendapatkan dari grup. Sejauh ini mereka tidak bekerja untuk kelompok lain tapi kami akan terus dalami,” lanjutnya.

Pada Januari 2018 ditangkap enam tersangka yakni:

1. Zainal atas kasus pencemaran dan SARA, konten yang ditulis, “Cukup sudah kita dibohongi, akhiri semua dusta dan tipu-tipu. Janji-janji semanis madu. Namun semuanya hanya semu. Kami telah tertipu. Sosok wong ndeso dan merakyat tapi tak berpihak kepada nasib rakyat. Cukup sudah!”. Zainal ditangkap di Pati, Jawa Tengah.

2. Suhardi Winata atas kasus penghinaan, konten yang ditulis, “Islam dipelintir oleh Muhammad agar kelihatan baik. Lalu dipelintir lagi oleh muslim. Penyakit yang sama yang diderita oleh pelaku kejahatan dan korbannya. Dalam ilmu psikologi ini apa namanya?” Suhardi ditangkap di Bandung.

3. Edi Efendi ditangkap di Bekasi, Jabar, konten yang diunggah, “Awas bahaya laten Ngapusi. Sudah pasti sekali berbohong seterusnya akan tetap berbohong. Janji kampanye Jokowi yang bohong: buy back Indosat, tidak bagi-bagi kekuasaan, tidak menaikkan BBM, tidak impor pangan, ciptakan mobil nasional, persulit investasi asing, tidak mencabut subsidi, tidak akan utang lagi dan stop mobil murah.”

4. Hurry Rauf ditangkap di Jakarta Timur atas kasus pencemaran nama baik dan berita bohong terkait anggota DPR Akbar Faisal.

5. Achmad Basrofi ditangkap di Solo, Jawa Tengah, konten yang diunggah, “Tembak mati Jokowi sampai darah keturunannya memakai mandat utama patriot kepahlawanan, para pahlawan, dan para pejuang bangsa dan NKRI. Sah dan mutlak”.

6. Marlon Purba ditangkap di Medan, Sumut atas kasus penghinaan dan SARA, konten yang dia unggah “Jangan bela-bela mata sipit yang anjing itu” dan “Orang Medan tidak perlu orang Papua”.

Pada Februari 2018, ditangkap 12 tersangka yakni:

1. Gunawan ditangkap di Pulogadung, Jakarta Timur atas kasus penghinaan dan SARA, konten yang diunggah yaitu, “Sebenarnya bangkai satu itu tidak perlu disholati. Hidupnya saja sudah repot, sudah jadi bangkai juga ngerepotin“.

2. Ashadu Amrin ditangkap di Pondok Gede, Jaktim atas kasus penghinaan dan pencemaran nama baik presiden dan Syafii Maarif. Tulisan yang diunggah, “Saat ulama diserang dan dibunuh, dia diam dan cuek saja. Giliran gereja yang diserang, dia dengan sigap menjenguk gereja tersebut. Mengapa begitu? Sebab kalau ke gereja, dia dikasih amplop”.

3. Ashari Usman ditangkap di Medan, Sumut, atas kasus pencemaran nama baik, konten yang diunggah, “Mahkamah Konstitusi: Untuk rakyat atau untuk kaum LGBT?” dan “Manuver Jokowi: Meremehkan Golkar, meremehkan PDI-P”.

4. Dedi Iswandi ditangkap di Cilegon, Banten atas kasus SARA dan pencemaran nama baik. Konten yang diunggah, “Usir keturunan Cina dari Indonesia demi kenyamanan dan toleransi PDIP menyetujui suara adzan ditiadakan di Indonesia”.

5. Yadi Hidayat dan Sukandi ditangkap di Garut, Jabar atas kasus berita bohong, konten yang diunggah “PKI bangkit, penculikan ulama (hilangnya seorang ustad di daerah Cimuncang, Garut).”

6. Bambang Kiswotomo, Wawan Setia Permana, Wawan Kandar, dan Tusni Yadi atas kasus penghinaan dan SARA, konten yang diunggah, “Mayoritas Cina itu memang babi, bahkan Cina cacat mau mati di kursi roda dan pakai pampers pun ikut nyoblos juga semua demi menguasai NKRI”.

7. Yayi Haidar Aqua, ditangkap di Rangkas Bitung, Banten atas kasus SARA dan pencemaran nama baik, konten yang diunggah “15 juta anggota PKI dipersenjatai untuk bantai ulama dan umat Islam”.

8. Sandi Ferdian ditangkap di Lampung atas kasus berita bohong, konten yang diunggah, “Megawati minta pemerintah tiadakan adzan di masjid karena suaranya berisik”. Diolah dari berbagai sumber. (Red)


Photo Credit : Kebebasan berpendapat melalui media sosial di internet masih kerap disalahgunakan untuk aksi negatif. Ilustrasi

KBI Telegraf

close