Sarman El Hakim: Bergesernya Tujuan Sepakbola Nasional Indonesia

"Sebelum merdeka, dibawah jajahan Hindia Belanda terbentuklah klub PSM Makasar yang lahir pada 2 November 1915 terbentuk karena jiwa nasionalisnya, Persebaya pada tahun 1910-an dikenal dengan degan sebutan SVB (Soerabaia Voetbal Bond), Persija (1928), Persib (1923) yang dikenal pada masa itu dengan nama klub Bandung Inlandis Voettbal Bond (BIFB), PSMS Medan (1930) dan PSIS Semarang (1928). Telah membawa semangat dan sebagai alat pemersatu bangsa."

Sarman El Hakim: Bergesernya Tujuan Sepakbola Nasional Indonesia


Telegraf, Jakarta – Sepakbola Indonesia pernah mengalami kejayaan. Sejarah mencatat sebelum Indonesia merdeka, Indonesia adalah salah satu negara yang mewakili kawasan asia dalam ajang bergengsi piala dunia 1938. Namun, saat ini sepakbola Indonesia berkembang jauh dari cita-cita para pendiri bangsa. Sarman El Hakim Ketua Masyarakat Sepakbola Indonesia (MSBI) pun angkat bicara soal sejarah persepakbolaan nasional.

Banyaknya pemain asing yang dinaturalisasi mengurangi kesempatan anak bangsa untuk membela dan mengharumkan bangsanya dicabang sepakbola di dunia internasional. Dari tujuan para pendiri bangsa, sepakbola saat ini bergeser jauh dari cita-cita yang sebelumnya sebagai alat pemersatu menjadi alat komersialisasi. Sepakbola sebagai alat pemersatu menjadi cacatan sejarah tersendiri. Bahwa pada masa penjajahan Belanda, dengan sepakbola, pemuda berkumpul membentuk klub dan membawa nama Indonesia harum dikancah dunia internasional.

Indoensia pada masa itu mewakili kawasan Asia bertanding dalam gelaran akbar FIFA World Cup di Prancis pada tahun 1938. Dengan terbentunya klub-klub sepakbola, pemuda Indonesia sebagai kaum nasionalis pada masa itu berkumpul membawa Indonesia merdeka dari makna penjajahan.

Sebelum merdeka, dibawah jajahan Hindia Belanda terbentuklah klub PSM Makasar yang lahir pada 2 November 1915 terbentuk karena jiwa nasionalisnya, Persebaya pada tahun 1910-an dikenal dengan degan sebutan SVB (Soerabaia Voetbal Bond), Persija (1928), Persib (1923) yang dikenal pada masa itu dengan nama klub Bandung Inlandis Voettbal Bond (BIFB), PSMS Medan (1930) dan PSIS Semarang (1928). Telah membawa semangat dan sebagai alat pemersatu bangsa.

Salah satu tujuan sepakbola oleh para pendiri bangsa adalah membentuk karakter manusia Indoensia seutuhnya yang bisa dihubungkan dengan filosofi FIFA “Fair and Fair Play” yang lahir tanggal 21 Mei 1904 Saint Honore, Paris, Prancis.

Sehingga, bila kita berkaca pada masa kini, banyaknya pemain naturalisasi telah mematikan semangat anak bangsa. Pemain naturalisasi dengan mudahnya menggantikan posisi pejuang-pejuang baru. Dengan semangat tuan rumah piala dunia tahun 2022 di Indoensia, kita melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa. (Msl)

Photo Credit : Dok/Ist. Photo


KBI Telegraf

close