Samawe: Ekspedisi Pendakian 30 Gunung di Indonesia Mulai Mei 2021

"Jaman dulu di gunung hampir tidak menemukan sampah, tapi jaman sekarang naik gunung lebih banyak menemukan sampah dibandingkan pemandangan. Bayangkan jika hal tersebut terjadi terus maka gunung makin rusak, gunung makin longsor, kita tidak punya gunung lagi untuk di daki, dilihat dan dipandang, serta yang paling parah kita akan kekurangan sumber air karena gunung kita rusak"

Samawe: Ekspedisi Pendakian 30 Gunung di Indonesia Mulai Mei 2021


Telegraf – Minimnya kepedulian terhadap lingkungan yang akhir akhir ini banyak tereskpose di banyak media terkait banyaknya sampah di gunung gunung di Indonesia, ini membuktikan bahwa yang datang menikmati alam Indonesia hanya menikmati pemandangannya saja yang tidak memperhatikan kebersihan, kesehatan, kelestarian di lingkungan gunung tersebut sehingga mengakibatkan banyaknya tumpukan sampah di gunung gunung yang menjadi tujuan wisata.

Berlatarbelakang dengan keadaan tersebut Samawe Adventure lakukan ekspedisi pendakian 30 puncak gunung di Indonesia yang akan dilakukan pada bulan Mei 2021 mendatang hingga Mei 2022.

“Jaman dulu di gunung hampir tidak menemukan sampah, tapi jaman sekarang naik gunung lebih banyak menemukan sampah dibandingkan pemandangan. Bayangkan jika hal tersebut terjadi terus maka gunung makin rusak, gunung makin longsor, kita tidak punya gunung lagi untuk di daki, dilihat dan dipandang, serta yang paling parah kita akan kekurangan sumber air karena gunung kita rusak,” ungkap Raden Bambang Adi Wijaya salah satu pendiri Samawe Adventure, dalam bincang bincang bersama para awak media, Kamis (18/3).

Awe pangilan akrab Raden Bambang Adi Wijaya itu mengatakan dalam perjalanan pendakian, Samawe Adveture tidak hanya akan mengkapanyekan bagaimana mendaki dengan tidak meninggalkan sampah serta akan mendokumentasikan berbagai ragam budaya, tatanan masyarakat, serta kondisi alamnya yang akan di rangkai dalam sebuah buku jurnal, pendakian 30 gunung di Indonesia.

“Diharapkan semua masyarakat bisa ikut melestarikan alam karena dasarnya adalah alam yang bisa menghidupi kita bukan alam yang dihidupi oleh kita. Jadi bagaimana caranya kita bisa bersinergi dengan alam, untuk bisa menikmati alam dengan baik, dan dari sisi pariwisata bisa menaikkan dan meningkatkan taraf ekonomi kita sendiri tapi tidak dengan merusak alam,” tuturnya di Jakarta.

Tidak hanya Tim Samawe Advenure salah satu band yang berasal dari bukit tinggi “Rise If The Dragon” ikut mendukung kegiatan baik tersebut dengan menciptakan lagu yang betemakan alam. “Untuk kegiatan ini kita akan menymbangkan lagu yang bertemakan alam,” ungkap Rendy salah satu Vokalis Rise If The Dragon.

Ia mengungkapkan karena untuk menjaga pelestarian kita butuh dan perlu peran serta dari diri kita sendiri dan bukan dari orang lain. “Kita memulai dari hal-hal yang kecil yaitu dimulai dari diri kita sendiri lalu menular kepada orang lain dan kemudian akan membesar, dan kita memang memerlukan pelestarian dan benar dari gunung lah pusat air itu yang perlu dijaga kelestarian alamnya. Bukan alam yang butuh kita tetapi kita lah yang membutuhkan alam,” kata Rendy.

Sementara itu, Harry “Koko” Santoso yang menjadi pembina dari ekspedisi ini menyambut sangat positif kegiatan ini. Koko diharapkan bisa lebih mempererat tali persaudaraan antaranak bangsa Indonesia. Ia juga mengatakan Potensi gunung di Indonesia itu harus dijaga dan dirawat.

“Gunung adalah bagian pariwisata, yang di dalamnya terdapat konservasi alam yang harus kita jaga bukan oleh diri sendiri saja tetapi tanggung jawab bersama menjaga alam Indonesia yag akan menjadi nilai ekonomi baru kedepan,” ujarnya.


Photo Credit : Pegunungan di Indonesia. FILE/Doc/Ist. Photo

 

Atti K.

close