Remote Sensing Solutions GmbH Peroleh 1 Juta Dolar

Remote Sensing Solutions GmbH Peroleh 1 Juta Dolar

"Kompetisi yang berlangsung selama dua tahun ini bertujuan untuk menemukan metode terbaik untuk memetakan luasan dan ketebalan lahan gambut,"

Remote Sensing Solutions GmbH Peroleh 1 Juta Dolar


Telegraf, Jakarta – Setelah dua tahun berjalan ajang kompetisi Indonesia Peat Prize (IPP) yang inisiasi oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) memilih Remote Sensing Solutions GmbH (RSS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Universitas Sriwijaya sebagai pemenang dengan hadiah sebesar 1 juta dolar AS.

Ajang ini diadakan untuk menambah informasi dan data mengenai gambut di Indonesia dimana informasi Gambut di Indonesia masih sedikit/minim dan kurang akurat, serta kurang kekinian, sudah di ketahui gambut di Indonesia merupakan hutan rawa yang terbesar di dunia. Hal itu diungkapkan oleh Ketua BIG Hasanuddin Z. Abidin, dalam sambutannya di Jakarta, Jumat (02/02/18).

“Kompetisi yang berlangsung selama dua tahun ini bertujuan untuk menemukan metode terbaik untuk memetakan luasan dan ketebalan lahan gambut,” ungkap Hasanuddin.

Hasanuddin menjelaskan dipilihnya Remote Sensing Solutions GmbH (RSS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Universitas Sriwijaya sebagai pemenang, karena tim ini yang menawarkan metode yang paling relatif, akurat serta terjangkau dan tepat waktu dalam memetakan lahan gambut.

Pemenang International Peat Mapping mengombinasikan teknologi berbasis satelit, LiDAR, dan pengukuran lapangan, yang kemudian menghasilkan metode pemetaan gambut yang akurat, cepat, dan terjangkau. Serta mengaplikasikan produk bernama WorldDEM yang menggunakan citra satelit untuk membuat model permukaan bumi dengan resolusi 10 meter, serta citra satelit Sentinel.

Remote Sensing Solutions GmbH (RSS), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Universitas Sriwijaya ini pakar pemetaan dan lahan gambut dari Indonesia, Jerman, dan Belanda :Florian Siegert, Uwe Ballhorn, Peter Navratil, Hans Joosten, Muh. Bambang Prayitno, Bambang Setiadi, Felicitas von Poncet, Suroso dan Solichin Manuri

Hasanuddin mengatakan BIG akan terus mendorong hasil kompetisi untuk menjadi SNI, sementara SNI prosesnya membuhtukan waktu cukup lama, mmaka BIG meendorong mengunakan Perka, dan akan di implementasikan lebih baik.

“BIG merasa senang dan bangga karena kompetisi ini telah menghasilkan metode terbaik untuk memetakan lahan gambut yang mengombinasikan ketepatan waktu, biaya, dan keakuratan untuk mendukung tugas BIG dalam pemetaan dan penyediaan data dan informasi geospasial. BIG akan memimpin proses untuk memanfaatkan metode pemenang sebagai rujukan utama untuk memperbaiki Standar Nasional Indonesia untuk pemetaan gambut skala 1:50.000, dan akan memulai proses tersebut dengan mengeluarkan peraturan Kepala BIG tentang pemetaan gambut pada skala 1:50.000. Dengan membuat metode tersebut sebagai standar, kita akan memperoleh peta gambut beserta data dan informasi spasialnya sebagai sarana melindungi lahan gambut secara lebih efektif dan efisien,” tuturnya

Yang mana gambut adalah sumber emisi karbon yang besar ketika dibakar atau membusuk. Pada tahun 2015, lahan gambut berkontribusi pada sekitar 42 persen emisi di Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan gambut yang terjadi di tahun yang sama, juga mengakibatkan sekitar 100.000 kematian dini, menimbulkan kerugian ekonomi yang mencapai 221 triliun rupiah, serta melepaskan 1,62 miliar metrik ton gas rumah kaca, setara dengan emisi yang dikeluarkan 350.000 kendaraan sepanjang tahun. (Red)

Photo Credit : Telegraf/Atti Kurnia


Atti K.

close