Proyeksi Suku Bunga Acuan Hari Ini, Tetap di Kisaran 3,5 Persen

Proyeksi Suku Bunga Acuan Hari Ini, Tetap di Kisaran 3,5 Persen

"Bank Indonesia kemungkinan akan berhati-hati untuk tidak memperburuk tekanan depresiasi rupiah melalui penurunan suku bunga lebih lanjut,"

Proyeksi Suku Bunga Acuan Hari Ini, Tetap di Kisaran 3,5 Persen

Telegraf – Hari ini, Selasa (20/4/2021), rupiah diperkirakan akan kembali lesu seiring dengan pasar yang menanti hasil RDG BI serta peningkatan tensi geopolitik China dan AS. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 17 poin atau 0,12 persen ke level Rp14.547 per dolar AS Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah 0,274 poin atau 0,3 persen ke level 91,282.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19 dan 20 April 2021 diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate di level 3,5 persen guna menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.

Sejumlah ekonom bahkan memperkirakan suku bunga acuan terendah dalam sejarah ini akan bertahan hingga pengujung tahun. Konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg menunjukkan bank sentral akan menjaga tingkat suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate di level 3,5 persen pada bulan ini. BI dijadwalkan untuk memaparkan hasil RDG April pada siang ini, pukul 14.00 WIB (20/4/2021).

BI Kalangan ekonom menilai, tingkat suku bunga acuan yang relatif rendah masih bertahan hingga akhir tahun ini untuk mendukung upaya pemerintah dalam memulihkan ekonomi nasional yang tertekan oleh pandemi Covid-19 sejak tahun lalu. Ekonom Morgan Stanley Deyi Tan mengatakan kecemasan pelaku pasar pada baru-baru ini mengenai prospek kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat (AS) telah menyebabkan volatilitas pasar modal di dalam negeri dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Atas dasar itulah dia menilai bahwa penurunan suku bunga acuan lebih lanjut tidak akan dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) pada tahun ini, terutama dengan mempertimbangkan ekonomi yang perlahan mulai pulih.

“Kami melihat BI akan mempertahankan kebijakan suku bunga acuan pada level saat ini, 3,5 persen hingga akhir tahun,” katanya dalam laporan.

Di sisi lain, Deyi menambahkan, biasanya kenaikan suku bunga acuan di AS memaksa pembuat kebijakan di Asia menghadapi tantangan stabilitas makro di dalam negeri. Misalnya, defisit neraca berjalan yang membengkak sehingga membuat mata uang terkena tekanan pendanaan eksternal.

Kondisi ini pada gilirannya dapat menyebabkan harga impor yang lebih tinggi dan inflasi yang juga lebih tinggi. Hal ini pun pernah terjadi di Indonesia pada 2013 silam. Namun, kondisi saat ini berbeda di mana inflasi lebih rendah, defisit transaksi berjalan berkurang, dan cadangan devisa tercatat jauh lebih baik. Selain itu, perbedaan suku bunga riil antara Indonesia dan AS jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sebelumnya.

Kondisi ini menurutnya mampu memberikan perlindungan terhadap risiko volatilitas yang mengancam pasar keuangan domestik. Dengan kata lain, kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS The Federal Reserve System atau The Fed tidak akan terlalu berpengaruh terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia.

“Secara keseluruhan, kami yakin skenario Indonesia tahun ini bahwa pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) akan naik, inflasi juga naik akan tetapi terkendali,” ujarnya.

Namun, tantangan lain muncul dari pergerakan rupiah. Rupiah melemah ke kisaran Rp14.635 terhadap dolar AS minggu lalu, level terendah sejak November tahun lalu. Adapun, mata uang Garuda ini telah melemah sebesar 3,4 persen tahun ini. BI mengakui bahwa posisi rupiah ini masih undervalued. Bank sentral pun menegaskan pihaknya akan tetap menjaga rupiah dengan melakukan intervensi yang cukup di pasar valas dan SBN.

“Bank Indonesia kemungkinan akan berhati-hati untuk tidak memperburuk tekanan depresiasi rupiah melalui penurunan suku bunga lebih lanjut,” tulis ahli strategi TD Securities termasuk Mitul Kotecha dalam catatan penelitian yang dikutip dari Bloomberg.


Photo Credit: Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengusap mukanya saat menyampaikan konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (21/02). ANTARA/Sigid Kurniawan

 

Shan Santi

close