Prospek Ekspor Kopi Manfaatkan Peralihan Minum Teh ke Kopi di Tiongkok

"Kalau umur di atas 50 an tahun, (kebiasaan minum kopi) masih agak sulit. Tapi di bawah 50, (tren) semakin kuat. Masyarakat (umur) 50 an masih pegang budaya minum teh,”

Prospek Ekspor Kopi Manfaatkan Peralihan Minum Teh ke Kopi di Tiongkok

Telegraf, Jakarta – Beberapa perusahaan eksportir Indonesia terus membidik pasar kopi di Tiongkok, terutama specialty coffee (kopi special) dan penjualan paket souvenir gift set. Tingkat rata-rata konsumsi kopi masyarakat Tiongkok mencapai sekitar enam persen (6%) terutama segmen umur 25 – 35 tahun. “Kalau umur di atas 50 an tahun, (kebiasaan minum kopi) masih agak sulit. Tapi di bawah 50, (tren) semakin kuat. Masyarakat (umur) 50 an masih pegang budaya minum teh,” Stephen Lo dari Twind Coffee mengatakan kepada Telegraf.

Seiring dengan perkembangan industri minuman kopi, istilah specialty coffee muncul karena para peminum kopi sudah dapat membedakan kualitas kopi. Kopi yang tergolong dalam kualitas baik inilah yang mendapat sebutan specialty coffee. Penilaian masyarakat terhadap kopi semakin mengarah pada aroma dan rasa yang istimewa. Semuanya baik aroma, rasa dan harga di atas kopi rata-rata pada umumnya. “Tren (konsumsi specialty coffee) di Tiongkok karena generasi muda yang baru kembali dari Amerika, Eropah. Mereka awalnya studi, kerja di Amerika, Eropah yang kulturnya minum kopi.

Generasi muda Tiongkok tersebut bawa kultur tersebut ke negara asal mereka. Sehingga tingkat konsumsi meningkat sampai 300 persen, bahkan tahun depan sampai 400 persen. Kami yakin,” kata Stephen yang juga aktif pada AEKI (Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia).

Ekspor Specialty Coffee, bukan hanya di Tiongkok dalam 10 tahun belakangan ini semakin meningkat. Terlebih lagi produk specialty coffee Indonesia memiliki rasa dan aroma yang khas dan terdapat 13 jenis kopi ini yang telah terdaftar dalam Indikasi Geografis. Selain specialty, produsen dan eksportir kopi Indonesia juga gencar menjual kopi luwak. AEKI memanfaatkan peluang pasar di Tiongkok, dan sedang jajaki kerjasama dengan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau PPI. Fenomena ‘nongkrong di warung kopi’ di Tiongkok sangat kentara pada beberapa tempat kerja favorit generasi muda.

“Kantor Alibaba Group (perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok, didirikan Jack Ma), Huawei (perusahaan ICT Tiongkok) sekarang dihinggapi budaya coffee break. Mereka minum kopi sekitar jam tiga sore. Semua insinyur (ahli ICT) setelah jam kerja, sering nongkrong di coffee shop. Pemain specialty coffee dari Taiwan juga serbu pasar Tiongkok.”

Di sisi lain, Stephen yakin dengan prospek bisnis roasting kopi. Dengan peluang baru pada bisnis dan profesi industri roasting atau penyangraian kopi, AEKI sudah antisipatif. Sehingga AEKI membuat konsentrasi khusus dalam membantu pemerintah untuk meningkatkan SDM penguasaan teknologi roasting. Selain pelatihan rutin, AEKI bersama pusat pelatihan kopi Indonesia (PPKI) di Jakarta buka kelas bisnis micro roastery.

Roasting untuk jenis fine coffee sudah lebih dulu tren di Taiwan. Sehingga café Twind (di Gading Serpong, Tangerang) sering mengundang barista Taiwan. Kopi dengan roasting yang baik, tanpa penambahan bahan lain. Aroma dan rasa terjaga. “Sama seperti di Tiongkok, karena roasting kopinya semakin enak, kopi instan termasuk merek Nescafe turun. Masyarakat di sana semakin mengurangi konsumsi instant coffee termasuk Nescafe. Sehingga bisnis roasting di Indonesia ditingkatkan, nanti bisa terus menyasar pasar Tiongkok.”

Baca Juga  NII Topang Pertumbuhan Laba Bersih Kuwartal Pertama 2018 Yang Naik 16,0 Persen

Kopi Instan adalah produk kopi berbentuk serbuk atau granula atau flake yang diperoleh dari proses pemisahan biji kopi, disangrai, digiling, diekstrak dengan air, dikeringkan dengan proses spray drying (dengan atautanpa aglomerasi) atau freeze drying atau fluidized bed drying atau proses lainnya menjadi produk yang mudah larut dalam air. “Tren (instant coffee) turun dari tahun ke tahun, termasuk di Indonesia. Kami bikin souvenir gift set juga tidak dengan instant coffee. Kami pilih specialty coffee. Walaupun harga mahal, tetapi ini kan untuk prestige jaga relasi bisnis. Di Tiongkok, jelang Imlek juga akan ramai penjualan gift set kopi luwak atau specialty coffee.”

Sementara itu, eksportir kopi asal Jawa Timur CV Karya Semesta juga cenderung membidik pasar ekspor terutama Tiongkok, Taiwan, Korea, Malaysia, Polandia. Karya Semesta membudidaya luwak sampai lebih dari seratus ekor. “Kebun kami di Gunung Raung yang dulu dikenal dengan kawah Ijen. Perjalanan satu sampai satu setengah jam dari kota Malang. Tren ekspor semakin bagus dari tahun ke tahun,” Theresia Deka Putri, Direktur Utama Karya Semesta mengatakan kepada Telegraf.

Sebagian karyawannya berasal dari Gresik, Malang dan beberapa daerah di Jawa Timur. Café milik Theresia juga sudah menyebar sampai Malaysia. Sementara di dalam negeri, Theresia baru buka di Kediri, Malang dan Bekasi. “Prospek lebih bagus untuk pasar ekspor. Masyaralat Taiwan, Tiongkok sangat cinta kopi. Mereka suka banget dengan kopi luwak lanang.”

Budidaya luwak di gunung Raung terdiri dari tiga jenis yakni luwak lanang, kembang dan liar. Jenis luwak lanang difermentasi dengan luwak jantan. Sesuai dengan namanya, luwak jantan juga memberi rasa yang kuat. Sementara luwak betina difermentasi dan lebih mengental. “Luwak liar difermentasi di hutan. Setiap jenis (luwak) dengan taste dan aroma yang berbeda. Tetapi luwak lanang yang paling strong (rasa dan aroma),” kata Theresia yang berhasil mengumpulkan omzet sampai miliaran rupiah.

Perusahaannya juga memproduksi tiga merek kopi kemasan. Theresia membuat usaha pengolahan kopi sederhana dengan roasting biji-biji kopi. Alatnya relative sederhana ketika ia pertama kali usaha roasting, yakni penggorengan terakota.

Untuk alat penggilingan, modal awalnya, perusahaan cukup memilih menggilingnya ke tempat- tempat yang menawarkan jasa penggilingan. Perjalanan waktu, mereknya telah mampu merembah Kota Jakarta, Bali, hingga ke Makasar, dan diberbagai pasar lokal. Kebunnya di Gunung Raung mengintegrasi luwak, teh dan kakao. “Tetapi yang paling besar porsinya kopi dan budidaya ternak. Pasar kopi lebih menjanjikan terutama kondisi ekspor sekarang ini.” (S.Liu)

Photo credit : Ist. Photo


Share