Pria ini Penemu dan Inovator e-Voting

Pria ini Penemu dan Inovator e-Voting

"Investasinya pun cukup murah jika dibandingkan dengan penggunaan cara pemilihan secara konvensional. Karena penggunaan kertas menjadi sama sekali tidak diperlukan. Mesin e-voting hanya mengeluarkan struk yang dapat dijadikan sebagai bukti pemilihan".

Pria ini Penemu dan Inovator e-Voting


Telegraf, Bekasi – Seorang warga Bekasi, Jawa Barat bernama Abadi Ika Setiawan berhasil mengembangkan dan menciptakan sistem pemungutan suara secara elektronik atau e-Voting. Inovasi teknologi piranti lunak yang dikembangkan pria yang sehari-hari berprofesi di dunia pendidikan ini tidak sekadar pemungutan suara secara elektronik semata, namun lengkap dengan data perolehan suara dan terkoneksi secara langsung ke jaringan induk pemantau Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Dalam inovasinya, Abadi juga sudah menyiapkan piranti lunaknya ini lengkap dengan penghitungan perolehan suara, pengiriman hasil, rekapitulasi, penayangan hasil perolehan suara secara real time dan cepat, hingga pemeliharaan dan sistem pembuatan rekam jejak auditnya.

“Teknologi e-Voting ini sudah kami paten kan, semoga pemerintah bisa menggunakan piranti yang kami ciptakan ini,” ujar Abadi Ika Setiawan, sang penemu e-Voting itu di kantornya, kawasan Bekasi Timur, Jawa Barat, Kamis (13/4/2017)

Abadi mengaku, inovasi e-Voting ini ia kembangkan selama dua tahun lebih dengan beberapa kali simulasi dan uji coba hingga menemukan teknologi yang sempurna.

Kelebihan dari alat yang diciptakan oleh Abadi Ika Setiawan dengan tim IT nya, pemungutan suara jadi lebih simpel, efisien dan hasilnya sangat akurat. Tidak perlu menggunakan kertas surat suara sebagaimana sistem pemilihan konvensional.

Kelebihan lainnya sistem e-voting yang didesain Abadi dapat menghitung dan mencetak struk audit. Sementara sistem konvensional mengandalkan perhitungan manual. “Jadi konstituante tidak akan bisa curang memilih dua kali karena usai memilih gambar maka ketika dia akan memilih di tempat lain akan ditolak oleh sistem kami, karena kami mengembangkan sistem e Voting ini tersambung secara online dan terintegrited,” papar sang penemu Abadi e-Voting ini.

Teknologi e-voting yang dikembangkan Abadi juga mampu melakukan pengiriman langsung dari perangkat di TPS ke KPU. Adapun sistem konvensional, pengiriman dilakukan secara fisik dan berjenjang waktu. “Begitu pemilih menggunakan haknya maka data pilihannya akan terkoneksi langsung dengan perangkat komputer di KPU jadi KPU bisa memantau secara jarak jauh, dan secara real time bisa melihat hasilnya,” katanya.

Abadi mengklaim teknologi e-Voting yang ia kembangkan bisa menghitung hasil dengan cepat dan akurat karena menggunakan perangkat elektronik. Sementara sistem manual relatif lebih lama.

“Sistem e-voting juga memiliki keunggulan lainnya antara lain, akurasi dan online. Sistim ini diharapkan dapat meminimalisir kesalahan dan mendeteksi jika ditemukan rekayasa suara,” ujar Abadi

Dalam simulasi yang diperlihatkan Abadi, piranti tersebut cukup simpel. Jika si calon pemilih ini belum memiliki KTP elektronik, ia tinggal menempelkan sidik jarinya ke alat sensor maka sidik jari akan terekam di data pemilih.

Bagi yang memiliki KTP elektronik tinggal menggesekkan KTP nya ke sebuah alat yang disambungkan ke komputer. Kemudian akan muncul data calon pemilih. Jika sudah terverifikasi maka di layar monitor akan muncul kartu suara elektronik bergambar calon pasangan kepala daerah yang akan dipilih. Setiap pemilih pun hanya dapat memilih sebanyak satu kali.

Sistem pemungutan suara yang dilakukan pun bersifat rahasia. Karena setelah terverifikasi calon pemilih memasuki bilik suara tertutup dan cukup menempelkan telunjuk jarinya ke gambar calon kepala daerah yang terpampang di layar sentuh monitor. Sehingga tidak ada yang dapat mengetahui pilihan pemilih.

Abadi pun mengembangkan teknologinya dengan dilengkapi sistem yang berbasis transparan. Karena hasil perolehan suara sudah bisa dilihat dalam hitungan menit usai calon pemlih menggunakan hak suaranya. Dan prosesnya dapat di-audit dan dipertanggungjawabkan.

Teknologi yang dikembangkan Abadi Ika Setiawan tersebut sangat efisien dalam hal biaya investasinya. “Untuk pengadaan infrastruktur piranti lunak dan piranti kerasnya sekitar 15 hingga 20 juta rupiah per tempat pemungutan suara atau TPS,” paparnya.

Investasinya pun cukup murah jika dibandingkan dengan penggunaan cara pemilihan secara konvensional. Karena penggunaan kertas menjadi sama sekali tidak diperlukan. Mesin e-voting hanya mengeluarkan struk yang dapat dijadikan sebagai bukti pemilihan.

Abadi berharap pemerintah mengapresiasi penemuannya dengan menerapkan sistem pemungutan suara secara elektronik sebagai uji coba pemilihan secara modern. “Sudah saatnya pemerintah menyelenggarakan pemilihan baik kepala daerah maupun legislatif dengan teknologi elektronik yang jauh lebih akurat, efisien dan cepat,” pungkasnya. (Edo)


Edo W.

close