Potensi Industri Drone dan Punahnya Sistem Logistik Manual Ini Kilasannya

Potensi Industri Drone dan Punahnya Sistem Logistik Manual Ini Kilasannya

"Lebih lanjut, pemanfaatan wilayah udara untuk transportasi tersebut akan menyisakan ruang yang lebih hijau di daratan. Jalanan yang tadinya dipadati kendaraan bermotor bisa kembali digunakan untuk lahan hijau atau ruang untuk komunitas."

Potensi Industri Drone dan Punahnya Sistem Logistik Manual Ini Kilasannya


Telegraf, Jakarta – Pasar pesawat drone pada tahun 2025 diperkirakan mencapai US$ 33,9 miliar atau setara dengan Rp 474,6 triliun. Berdasarkan laporan Huawei Global Industry Vision 2025, potensi besar industri drone disebabkan oleh
pemanfaatan perangkat tersebut dalam menunjang sektor industri dan transportasi.

Industri drone pada 2016 bernilai US$ 5,3 miliar setara dengan Rp 74,2 triliun. Nilai ini mencakup perangkat, piranti lunak, layanan, serta aplikasi. Namun, hal tersebut baru merupakan langkah awal dalam mewujudkan konsep “langit digital” yang diusung oleh Huawei di masa depan. Berdasarkan laporan ini, penerapan teknologi berbasi 5G akan memperluas perkembangan pasar drone di seluruh dunia.

Salah satu alasan mengapa industri drone masih belum sepenuhnya bergerak, karena jangkauan menara pemancar sinyal (BTS) untuk wilayah udara dengan ketinggian rendah (di bawah 1.000 meter) dan menengah (3.000-5.000 meter) masih dibatasi oleh sejumlah aturan, sehingga tingkat pemanfaatannya tergolong rendah.

Huawei Wireless X Labs Digital Sky sedang mengupayakan untuk memperluas cakupan jaringan di wilayah udara berketinggian rendah. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan uji coba yang kondusif bagi inovasi untuk penggunaan drone, bahkan memungkinkan sistem pengantaran paket dengan drone atau taksi terbang untuk mengangkut penumpang.

Dalam laporan ini dijelaskan bahwa konsep kendaraan otonom akan berfungsi sebagai infrastruktur yang mendukung model bisnis taksi terbang. Konsep taksi terbang tidak memerlukan landasan pacu dan bisa lepas landas secara vertikal layaknya helikopter. Hal tersebut juga akan mengatasi masalah mobilitas.

Lebih lanjut, pemanfaatan wilayah udara untuk transportasi tersebut akan menyisakan ruang yang lebih hijau di daratan. Jalanan yang tadinya dipadati kendaraan bermotor bisa kembali digunakan untuk lahan hijau atau ruang untuk komunitas.

Baca Juga :   Perkuat Literasi Digital, Kominfo Ajak Bijak Gunakan Medsos di Era Digital

Namun, penerapan teknologi inovatif tersebut baru bisa terwujud jika didukung dengan integrasi teknologi nirkabel super cepat ke dalam industri drone, perluasan cakupan jaringan hingga wilayah udara ketinggian rendah, peningkatan standar industri, serta perluasan aturan untuk penggunaan wilayah udara secara efisien. Skenario tersebut akan memungkinkan drone yang saling terhubung dalam sektor transportasi, pengintaian, penyelamatan bencana, serta berbagai fungsi manajemen perkotaan lainnya. Mengingat, saat ini drone hanya terhubung dengan remote control.

Selain sektor transportasi, diprediksi industri logistik akan merasakaan manfaat yang besar dari perluasan pemanfaatan drone karena kurir pengantaran, alokasi pemesanan barang, jumlah barang, dan berbagai elemen lain tidak akan lagi menjadi masalah. Laporan Huawei menegaskan bahwa sistem logistik manual akan punah, kompetisi industri logistik akan ditentukan oleh inovasi dan layanan yang berbasis personal. (Red)


Photo Credit : Industri drone pada 2016 bernilai US$ 5,3 miliar setara dengan Rp 74,2 triliun. Nilai ini mencakup perangkat, piranti lunak, layanan, serta aplikasi. | Getty Images/Brendon Thorne

KBI Telegraf

close