Pontjo Sutowo: Hadirkan Kembali Pancasila Dalam Kelangsungan Hidup Bangsa

"Sederhananya bahwa teknologi tidak bisa berkembang di universitas atau di lembaga riset dia harus berkembang di dunia usaha"

Pontjo Sutowo: Hadirkan Kembali Pancasila Dalam Kelangsungan Hidup Bangsa

Telegraf, Jakarta – Suatu bangsa akan tetap bertahan kalau ada talenta di dalam diri bangsa itu sendiri dan talenta tersebut ditata dengan bagus sehingga daya tahan bangsa tersebut akan bisa memproduksi hal hal baru sehingga bangsanya akan bisa bertahan lebih panjang.

“Tidak ada barat tidak timur, tidak ada hitam tidak ada coklat sepanjang talenta talenta yang ada di bangsa itu di manage dengan bagus maka daya tahan bangsa itu akan tetap memproduksi hal hal baru sehingga bangsa itu akan bertahan lebih panjang dari yang diharapkan karena setiap talenta mempunyai jangkauan waktunya sendiri, ” ungkap Prof. Dr. Laode Masihu Kamaludin, politikus yang pernah menjabat sebagai anggota MPR dalam diskusi Aktualisasi Menggalang Ketahanan Nasional Demi Kelangsungan Hidup Bangsa.

Ia juga mengungkapkan daya tahan tersebut dilihat melalui prespektif militer, ekonomi, budaya dan juga kesehatan yang besandarkan pada Pancasila, yang meliputi dari Sila Pertama hingga Sila ketiga adalah mentalitas sepiritual, yang kemudian di terjemahkan melalui aktifitas di Sila ke Empat serta sila ke Lima dengan aspek teknologi dengan beberapa penemuan ilmuan.

Ponco Sutowo Pembina Yayasan Suluh Nuswantara Bakti sekaligus Ketua Aliansi Kebangsaan dan Ketua Umum Forum Komunikasi Purnawirawan Putra-putri TNI-Polri (FKPPI) menjelaskan untuk titik berat di perekonomian, apabila di suatu negara yang tidak menguasai teknologi maka ekonominya akan kedodoran dengan majunya teknologi yang ada di negara negara luar. “Apakah kita terus memperbaiki teknologi kita? Itu tidak,” tuturnya Rabu (4/3/).

Lanjut Pontjo karena teknologi itu berkaitan dengan dunia usaha seharusnya pengusaha itu dilatih supaya setiap pengusaha mengetahui teknologi apa yang ia pegang. “Sederhananya bahwa teknologi tidak bisa berkembang di universitas atau di lembaga riset dia harus berkembang di dunia usaha,” kata Pontjo.

Bentuk ancaman hari ini Pontjo menuturkan agak beda di 72 tahu lalu, bukan lagi konflik militer tetapi persepsi dimasyarakat dan elit adalah seperti konflik militer. “Kesalahan terbesar adalah mempersiapkan diri untuk perang yang sudah lewat karena sekarang ancamannya beda maka kita belum menyiapkan ancaman sekarang ini,” bebernya.

Pontjo mencontohkan jika disebuah kapal ada yang bocor apakah penumpang akan berkelai pasti semua akan mengatasi permasalahan itu sama sama dan kalau perkelahian itu terjadi dan saling menyalahkan ini menunjukan suatu gejala kesadaran terhadap ancaman itu tidak ada.

Pontjo menambahkan yang bahwa tak ada kebenaran dalam ber-Indonesia kecuali dengan ber-Pancasila. Jika Pancasila tidak dijadikan sumber ber-Indonesia, kita akan jauh dari cita-cita bernegara.

Berkaitan dengan itu Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YNSB) bekerjasama dengan FKPPI akan meluncurkan buku Menggalang Ketahanan Nasional dengan Paradigma Pancasila pada Sabtu, (7/3/2020) dengan Buku setebal 270 halaman yang berisikan rangkuman dari Diskusi Panel Serial (DPS) dengan tema Menggalang Ketahanan Nasional untuk Menjamin Kelangsungan Hidup Bangsa. (AK)


Photo Credit : Pontjo Sutowo Pembina YSNB, Ketua Aliansi Kebangsaan dan Ketua Umum FKPPI Wisnubroto Ketua YSNB sekaligus Ketua Penyelenggara Diskusi Panel Serial Tanas Nurrachman Oerip Ketua SC DPS Tanas dan Prof.Dr.Laode Masihu Kamaluddin (ka-ki) dalam Konfrensi pers di Jakarta, Rabu (4/3). TELEGRAF/Kawat Berita Indonesia

 

Tanggapi Artikel