PLTGU Jawa 1 Sulit Cari Sumber Pendanaan Bank

"Soal bankability menjadi konsen sejak awal, karena kalau proyek tidak bankable (tidak layak didanai bank) akan sulit mendapat pendanaan. Sedangkan suplai gas kita yang akomodasi,"

PLTGU Jawa 1 Sulit Cari Sumber Pendanaan Bank


Telegraf, Jakarta – PT Perusahaan Listrik Negara mengakui penandatanganan perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa 1 memang berlarut-larut. Penyebabnya, masih tersisa delapan masalah yang belum disepakati antara PLN dan konsorsium pemenang tender.

Masalah yang paling terutama adalah kelayakan proyek untuk didanai bank (bankability) dan suplai gas.

“Soal bankability menjadi konsen sejak awal, karena kalau proyek tidak bankable (tidak layak didanai bank) akan sulit mendapat pendanaan. Sedangkan suplai gas kita yang akomodasi,” kata Direktur Pengadaan PLN, Supangkat Iwan Santoso, seperti dikutip dari sebuah pernyataan yang diterima, Jumat (20/1).

Iwan menambahkan, pembahasan PPA tidak lagi di proses negosiasi karena sudah ditentukan pemenang tender. Proses sekarang adalah klarifikasi untuk hal-hal yang belum jelas. “Jadi itulah kenapa prosesnya panjang,” jelas Iwan.

Anggota Komisi VII DPR Aryo Djojohadidkusumo mengatakan, harusnya PLN sejak awal sudah mengatehui rendahnya bankablity proyek ini. Apalagi, jika ternyata kepastian suplai LNG juga bermasalah.

“Kalau sudah begitu, ngapain ditunda yang semakin memberikan ketidakpastian. Makanya saya mengimbau PLN untuk lebih transparan dalam penyampaian alasan-alasan mengenai penundaan penandatanganan PPA. PLN harus konsisten dalam penyampaian alasan keterlambatan,” kata Aryo.

Untuk itu, Aryo meminta PLN segera menuntaskan persoalan ini. Percepatan penandatanganan PPA penting agar pembangunan PLTGU segera diselesaikan, guna mendukung pertumbuhan ekonomi. “Ke depan, hendaknya tidak ada lagi miskomunikasi antara tim suplai bahan bakar pembangkit dan tim negosiasi PPA,” kata dia.

Sebelumnya, mantan Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi Fahmy Radhi menegaskan, ketidakpastian pasokan LNG yang menyebabkan bankability menjadi rendah.

“Ini bukti PLN sangat tidak konsisten. Dulu mereka yang mengubah skim tender. Sekarang, ketika skim sudah diubah yaitu pasokan LNG ditangani PLN, ternyata mereka tidak mampu. Ini persoalan internal PLN,” kata Fahmy. (Red)

Photo credit : Ist. Photo


KBI Telegraf

close