PKNI Helat Workshop Guna Dorong Kesadaran Publik Pada Hepatitis C

PKNI Helat Workshop Guna Dorong Kesadaran Publik Pada Hepatitis C

"cara paling baik adalah dengan melakukan pencegahan dengan screening dan melakukan vaksinasi hepatitis sejak dini.”

PKNI Helat Workshop Guna Dorong Kesadaran Publik Pada Hepatitis C


Telegraf, Bogor – Persaudaraan Korban NAPZA Indonesia (PKNI) mengadakan kegiatan Workshop dengan Tema  “Pemberitaan Kesadaran Publik Pada Hepatitis C”. Kegiatan yang diadakan selama dua hari,  3 sampai 4 November di Hotel 1o1 Bogor, Jalan Suryakancana No.179 -181, Kota Bogor, Jawa Barat ini diharapkan dapat mengajak seluruh masyarakat dan awak media untuk lebih memperhatikan serta memahami isu Hepatitis C secara umum dan khususnya pengobatan terbaru.

“Di masyarakat luas hepatitis C merupakan penyakit yang kita tidak bisa diteksi dini, karena untuk mengetahui ada hepatitis C kita harus memeriksakannya, Jadi kita perlu tau faktor resikonya apa” ungkap Staf Media PKNI Edo Wallad dalam pembukaan workshop, hari Jumat, (3/11/17).

Terkait hal tersebut, saat ini sebenarnya sudah ada obat dari golongan Direct Acting Antiviral (DAA) dengan tingkat kesembuhan yang lebih tinggi yakni 95 persen. Sayangnya akses untuk tes, diagnosis dan pengobatan di Indonesia masih rendah apabila dibandingkan dengan negara-negara di Asia lainnya. Walaupun pengobatan DAA memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi, tidak semua DAA bisa digunakan untuk semua genotipe virus Hepatitis C.

Dr. Irsan Hasan, SpPD, KGEH selaku Ketua umum perhimpunan peneliti hati Indonesia (PPHI) yang hadir sebagai salah satu pembicara menuturkan bahwa Salah satu jenis DAA adalah Sofosbuvir. Ini merupakan obat yang disarankan oleh EASL 2015. Masa pemberian Sofosbuvir adalah 12 hingga 24 minggu dengan dosis 400 miligram per hari. Efek samping yang diberikan pun terbilang ringan, antara lain insomnia, anemia, sakit kepala, dan muntah-muntah.

“Sebagai perbandingan, pemberian interferon secara suntik dan oral butuh minimal pemeriksaan HCV RNA sebanyak empat kali. Sedangkan pemberian DAA hanya berupa obat oral dengan minimal pemeriksaan HCV RNA sebanyak tiga kali. Sayangnya, harga DAA terbilang mahal. Satu tabletnya US$1.000 atau Rp13 juta.” Jelas Dr. Irsan.

“Tentu saja, cara paling baik adalah dengan melakukan pencegahan dengan screening dan melakukan vaksinasi hepatitis sejak dini.” Ungkapnya lebih lanjut.

Sementara itu Kepala Seksi Hepatitis Subdit Hepatitis dan Infeksi Saluran Pencernaan pada Kemenkes RI, Dr Regina T Sidjabat mengatakan bahwa hepatitis C bisa dikatakan sebagai penyakit yang terlupakan dibanding hiv dan malaria yang memiliki anggaran yang terdanai.

“hepatitis merupakan masalah kesehatan masyarakat, hepatitis ini bukan program prioritas nasional, obat yang kami beri ini hanya transisi jadi tidak seperti hiv yang tercover program,” Ungkap Dr. Regina.

Dr Regina menambahkan bahwa pihaknya ingin obat-obat ini masuk ke dalam bpjs sehingga pasien hepatitis tidak harus membeli obat. “kita sedang mendorong agar Sofosbuvir, Simeprefir, Ribavirin ke dalam formularium Nasional, saat ini ada 6000 paket penggobatan gratis yang ada di enam provinsi.”katanya.

Lebih lanjut, Dr Regina menuturkan bahwa enam provinsi ini populasi resikonya paling tinggi sehingga enam provinsi ini diprioritaskan.

“Dan kita juga sudah mengadakan repeat test di beberapa daerah untuk melakukan pemeriksaan hepatitis C,” tuturnya.

Chandra Syarwani selaku divisi media dari lembaga KULDESAK sebagai anggota wilayah Depok untuk jaringan Nasional PKNI yang hadir sebagai peserta workshop sangat mengapresiasi kegiatan ini.

“Karena penting untuk mendapatkan informasi yang akurat, terpercaya, dengan jangkauan yang luas, dibutuhkan sosialisasi mengenai Hepatitis C untuk populasi umum. Terlebih Hepatitis C dikenal sebagai ‘Silent Killer’ atau penyakit yang tidak menimbulkan gejala khusus sampai pangidap dalam kondisi kronis.” Tandasnya. (ACS)

Photo Credit : Telegraf/A. Chandra S.


A. Chandra S.

close