Perselisihan Organisasi Kopi Meruncing

“Dia paksa gedung AEKI diganti namanya (menjadi) Gedung Kopi. Karena dia mau berkantor di situ. Namanya nggak naik (populer),”

Perselisihan Organisasi Kopi Meruncing

Telegraf, Jakarta – Perselisihan antara dua organisasi pelaku usaha perkopian, yakni Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI) dan Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) bertambah runcing dan genting. Perselisihan tersinyalir adanya pengambil-alihan secara paksa gedung AEKI di bilangan Cikini Menteng Jakarta Pusat. “Dia paksa gedung AEKI diganti namanya (menjadi) Gedung Kopi. Karena dia mau berkantor di situ. Namanya nggak naik (populer),” kata sumber Redaksi tanpa mau menyebutkan namanya (18/10).

Dualisme organisasi tersebut berlanjut, kisruh bukan lagi perpecahan tapi sudah sampai pengadilan. Kilas balik sebelum kisruh, pelaku ekspor kopi dulunya bernaung di satu wadah, yaitu Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI). Namun pada Rapat Umum Anggota (RUA) RUA ke-8 lima tahun silam, sejumlah anggota hengkang. Kelompok yang dimotori AEKI Jawa Timur ini kecewa terhadap kinerja pengurus pusat. Akhirnya mereka membentuk Gabungan AEKI (GAEKI). “(rencana pengambil-alihan gedung AEKI) karena dia itu kan BPD (Badan Pengurus Daerah) AEKI Jatim (Jawa Timur) yang memisahkan diri.”

Sumber tersebut menyebut ‘dia’ notabene adalah ketua GAEKI yakni Moenardji Soedargo (MS). Kisruh dan upaya pengambil-alihan gedung, menurut sumber BN, tidak lepas dari status hibah. Karena figure MS adalah pengusaha generasi kedua dari orang tuanya yang sudah lebih dulu merintis bisnis kopi. “Papanya (MS) merasa sebagai pemilik yayasan. Pada waktu itu, ada pengurus yang sudah almarhum dan menjadi ketua umum AEKI. Almarhum menghibahkan gedung tersebut kepada Yayasan. Tapi dia (MS) merasa berkuasa.”

Dari status hibah, gedung tersebut sekarang masih ditempati para pengurus AEKI. Tetapi karena kisruh dan rencana pengambil-alihan semakin menohok, para pengurus AEKI mulai naik “Kami bawa (kisruh) ke pengadilan, karena oknum tersebut juga sudah melakukan penghinaan. Kami bawa ke meja hijau.”
Sumber Redaksi juga menuding bahwa MS terus gencar menyosialisasikan “kematian” AEKI. Sehingga kepengurusan AEKI diharapkan tergerus. Sehingga keterlibatan AEKI sebelumnya pada ICO (International Coffee Organization) semakin tergerus. “Posisi kami pada ICO diganti oleh (pengurus) GAEKI. Itu juga atas usul oknum kementerian perdagangan, GB. Mungkin ada gratifikasi GAEKI terhadap pejabat yang dulunya staf ahli mantan menteri perdagangan.”

Insiden lain belakangan ini yakni “tabrakan” pengurus GAEKI dan AEKI pada event ICD (International Coffee Day) di Gedung Kementerian Luar Negeri beberapa hari yang lalu. Selain hadir Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, juga beberapa perwakilan negara sahabat. “Akhirnya kami head to head dengan pengurus AEKI, terutama ketuanya itu. Kalau dia tidak ada GAEKI, keluarganya tidak akan terpilih (jadi pengurus). Orang tuanya (pendiri Aneka Coffee Industry) sempat jadi ketua umum AEKI menggantikan pak Agum yang meninggal. Kalau pemilihan pada saat itu fair, orang tua dan keturunan (pemilik PT Aneka Coffee Industry) tidak akan terpilih. Sekarang, dia mau dengan cara pengambil-alihan gedung AEKI.”

Baca Juga :   Ringankan Kebutuhan Di Masa Pandemi Managemen Buroq Berbagi ke Drivernya

Di sisi lain, ada “kendaraan” untuk mendongkrak GAEKI yakni program SCOPI (Sustainable Coffee Platform of Indonesia). Program tersebut prinsipnya berupa kerjasama dengan Pusat Pelatihan Pertanian Kementerian Pertanian, Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Pagar Alam menyelenggarakan Pelatihan Pelatih Utama Nasional Kurikulum Kopi Robusta. Pelatihan Pelatih Utama (Master Trainer) Nasional Kurikulum dan Manual Pelatihan Budi Daya Berkelanjutan dan Pasca Panen Kopi Robusta di selenggarakan di beberapa daerah.

Kendatipun demikian, Kelompok Tani Kopi (KTK) Hujan Mas, Bulu Temanggung Jawa Tengah sempat menilai bahwa program tersebut hanya akal-akalan negara donor seperti Belanda, Finlandia, dan lain sebagainya. Nggak semuanya. “Scopi itu hanya program SOP (standard operating procedure). Itu program biasa untuk petani, industri kopi. Sebaliknya executive directornya dulu menyalah-gunakan dana AKSI (Asosiasi Kopi Spesialti Indonesia). Karena dia salah, dia cari ‘kendaraan’ baru yakni Scopi. Semua kegiatan AKSI dialihkan pada Scopi. Dia (executive director Scopi) juga nggak mengerti bagaimana industri kopi dari jenjag petani, pedagang, pengumpul sampai industri pengolahan serta eksportir.”

Sementara itu, Redaksi yang sudah mencoba hubungi MS memalui email, WhatsApp, dan telepon, tidak berhasil. Email yang dikirim Redaksi sekitar tiga bulan lalu juga tidak direspons. Selain Surat Permohonan Wawancara, Redaksi juga melampirkan daftar pertanyaan. Email kedua dan ketiga tertanggal 17/10 baru dijawab. “Maaf untuk sementara ini karena kesibukan saya diluar, saya belum bisa menanggapi email email Sdr. Akan saya hubungi kembali di lain kesempatan yang tepat,” kata MS melalui email. (S.Liu)


Tanggapi Artikel