Perkonomian Global Yang Kurang Baik Tak Surutkan Industri Asuransi

Perkonomian Global Yang Kurang Baik Tak Surutkan Industri Asuransi

"Meningkatnya total pendapatan premi didukung pertumbuhan pendapatan premi dari saluran bancassurance yang mengalami pertumbuhan sebesar 74,1 persen serta berkontribusi sebesar 43,3 persen dari keseluruhan total pendapatan premi industri asuransi jiwa”

Perkonomian Global Yang Kurang Baik Tak Surutkan Industri Asuransi


Telegraf, Jakarta – Disituasi perkembangan perekonomian global yang tidak cukup baik, industri asuransi jiwa menunjukkan peningkatan yang baik, terbukti, pendapatan industri asuransi jiwa mengalami peningkatan diatas 50%, selesai Rp208,92 triliun, dibanding periode yang sama tahun lalu 2015 selesai Rp132,74 triliun.

Hal diatas diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim sàat jumpa pers di kantornya Jl.Talang Betutu, Jakarta, Kamis (16/2).

Peningkatan tersebu  Hendrisman mengatakan ditopang oleh premi bisnis baru yang pertumbuhannya mencapai 48,3 % dengan nominal Rp104,04 triliun dibanding tahun lalu yang hanya mencapai Rp70,42 triliun, pendapatan premi hanya meningkat 29,8%, menjadi Rp167,04 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2015 sebesar Rp 128,66 triliun.

“Meningkatnya total pendapatan premi didukung pertumbuhan pendapatan premi dari saluran bancassurance yang mengalami pertumbuhan sebesar 74,1 persen serta berkontribusi sebesar 43,3 persen dari keseluruhan total pendapatan premi industri asuransi jiwa”, ujarnya

Hendrisman menambahkan saluran distribusi keagenan juga mengalami peningkatan sebesar 6,2% dan saluran distribusi alternative meningkat 14,7%, masing masing memberikan kontribusi 3,8% dan 17,7%, hingga kuwartal ke empat 2016 lalu hasil investasi industry  asuransi jiwa meningkat pesat sebesar 2,145,5% melesat ke nominal Rp33,94 triliun, dibanding pada kuwartal ke empat tahun lalu 2015yaitu -Rp1,66triliun.

Ditemui ditemat yang sama  Maryoso Sumaryono Ketua Biadang Regulasi dan Best Practice  mengatakan “klaim nilai tebus  (surrender) sebesar Rp52,32triliun memiliki proporsi terbesar di dalampembayaran klaim dan manfaat, yakni sebesar 54,5% dari total klaim yang dibayarkan dank lain nilai tebus  meningkat sebesar 49,0% dibanding tahun lalu yakni sebesar Rp35,12 triliun.

Menurut Maryoso peningkatan ini terjadi akibat bertambahnya kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai dalam memenuhi kebutuh sehari-hari maupun pengalihan dana untuk keperluan lain, Untuk klaim kesehatan Maryoso menuturkan, “meningkat sebesar 28,5% menjadi Rp9,29 triliun, peningkatan ini menggambarkan bahwa masyrakat betul betul merasakan manfaat dan layanan asuransi kesehatan serta sadar akan pentingnya perlindungan kesehatan. (Red)

Credit Foto : Atti Kurnia


KBI Telegraf

close