Perkawinan Dibawah Umur Akan Perpanjang Rantai Kemiskinan

Perkawinan Dibawah Umur Akan Perpanjang Rantai Kemiskinan

"Alat reproduksi belum siap, rahim , juga ukuran pinggul belum siap untuk melahirkan sebagai konsekwensi erkawinan yang tentu akan membuahkan bayi,"

Perkawinan Dibawah Umur Akan Perpanjang Rantai Kemiskinan


Telegraf, Jakarta – Secara mental psikologis seorang anak khususnya perempuan belum siap untuk menghadapi perkawinan. Dimana perkawinan dini meningkatkan resiko kematian ibu dan anak, serta kualitas anak yang dilahirkan pun rendah, perkawinan dini pun diyakini bakal memperpanjang rantai kemiskinan.

Diketahui disik perempuan khususnya anak anak itu belum mencapai kondisi fisik yang matang, khususnya reproduksi belum siap “Alat reproduksi belum siap, rahim , juga ukuran pinggul belum siap untuk melahirkan sebagai konsekwensi erkawinan yang tentu akan membuahkan bayi,” ungkap Yohana Susana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam sambutannya di diskusi media dengan judul Perkawinan Usia Anak.

Yohana menjelaskan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, terutama pasal yang mengatur batas usia perkawinan. Dalam undang – undang tersebut disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika laki – laki sudah mencapai usia 19 tahun dan perempuan sudah mencapai umur 16 tahun, menurutnya batas usia perkawinan pada Undang Undang tersebut justru malah mendorong praktek perkawinan anak.

Yohana mendorong perbaikan UU tersebut untuk menaikan batas usia perkawinan, yaitu untuk perempuan khususnya usia 16 tahun itu masih tergolong usia anak atau belum dewasa.

Anak-anak yang menikah pada usia dini, tidak dapat lagi memperoleh hak atas pendidikan. Padahal, selain bisa menjadi tangga bagi masyarakat untuk mengubah status sosial mereka, pendidikan merupakan hal terpenting untuk membentuk kepribadian, mendapatkan pengalaman, dan membentuk generasi bangsa yang cemerlang. Yohana menambahkan, Senin (06/08/18).

Hadir pula sebagai nara sumber Nasaruddin Umar, Cendikiawan Muslim; Novita Tandry, Psikolog Anak; dan Lenny N. Rosalin, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Sementara itu Nasarudin mengatakan tantangan untuk menekan kasus perkawinan dini akan semakin berat. Akibat pergaulan bebas yang sudah tidak terkontrol terlihanat dalam data badan pusat Statistik nasional menjunjukan sebesar 94,72% perempuan usia 20 – 24 tahun berstatus pernah kawin yang melakukan perkawinan di bawah usia 18 tahun.

untuk meminimalisir kejadian kejadian tersebut pemerintah bisa melakukan edukasi dengan memberikan edaran ke semua pihak terkait syarat perkawinan. (Red)


Photo Credit : Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise

Atti K.

close