Perbankan Diminta Segera Turunkan Suku Bunga Kredit

“Kalau kita lihat data jangka panjang, selalu seperti itu. Mereka cenderung misalnya ketika BI 7-Day Reverse Repo Rate turun, suku bunga depositonya kan cepat turun. Bahkan penurunan BI7DRR kan 225 basis poin sejak Juni 2019, itu penurunan suku bunga depositonya hampir sama.

Perbankan Diminta Segera Turunkan Suku Bunga Kredit


Telegraf – Sepanjang 2020, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sudah turun 125 basis poin menjadi 3,75% pada akhir Desember 2020. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar pada 17-18 Februari Desember 2020, suku bunga acuan juga kembali diturunkan sebesar 25 basis poin menjadi 3,5%.

Di sisi lain, penurunan suku bunga kredit perbankan hanya turun 83 basis poin sepanjang 2020 menjadi 9,7%. Lambatnya penurunan suku bunga kredit perbankan ini disebabkan oleh masih tingginya suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan yang selama tahun 2020 baru turun 75 basis poin menjadi 10,11%.

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Juda Agung menyayangkan langkah perbankan yang masih lambat menurunkan suku bunga kredit. Seharusnya penurunan suku bunga acuan yang dilakukan BI juga segera diikuti oleh suku bunga kredit perbankan.

“Inilah yang sebenarnya tidak kita inginkan. Bagi Bank Indonesia, kita inginkan kalau BI itu menurunkan suku bunga, harusnya responnya (perbankan) juga sama. Karena kalau kita bicara mengenai biaya-biaya di dalam suku bunga, itu kan ada biaya overhead costs, sebenarnya kan sudah turun. Kita harapkan bank-bank ini juga merespon (penurunan suku bunga acuan) dengan cepat,” katanya dalam acara taklimat media, Senin (22/2/2021).

Juda menyampaikan, transparansi suku bunga acuan yang dilakukan BI juga dilakukan untuk mendorong perbankan lebih responsif di dalam merespon kebijakan BI.

“Kalau kita lihat data jangka panjang, selalu seperti itu. Mereka cenderung misalnya ketika BI 7-Day Reverse Repo Rate turun, suku bunga depositonya kan cepat turun. Bahkan penurunan BI7DRR kan 225 basis poin sejak Juni 2019, itu penurunan suku bunga depositonya hampir sama. Jadi dia sangat responsif. Tetapi untuk suku bunga kreditnya masih sangat rigid,” ujarnya.

Juda menyebutkan, perbankan mencoba mendapatkan keuntungan yang lebih di saat suku bunga acuan sedang rendah. Kondisi tersebut menurutnya tidak kondusif bagi perekonomian.

“Dengan suku bunga acuan turun, harusnya akan mendorong ekonomi segera pulih. Tapi yang terjadi spread-nya justru mengalami kenaikan. Sehingga ini salah satu faktor mengapa orang masih ragu-ragu meminta kredit dari perbankan karena suku bunganya masih cukup tinggi,” terangnya. Beritasatu


Photo Credit: Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sudah turun 125 basis poin menjadi 3,75% pada akhir Desember 2020. KATADATA/Donang Wahyu

 

close