Telegraf – Negosiasi penggunaan alat perlindungan masih menjadi isu yang kerap muncul dalam hubungan pasangan. Tidak sedikit perempuan mengaku harus menghadapi bujukan atau janji ketika pasangan enggan menggunakan kondom saat berhubungan intim.
Padahal, dalam perspektif kesehatan reproduksi, keputusan untuk melakukan hubungan seksual seharusnya dilandasi persetujuan yang jelas (consent) serta kesepakatan mengenai aspek perlindungan.
Dr. Erika, Clinical Training Manager DKT Indonesia, menegaskan bahwa kondom memiliki peran penting dalam pencegahan risiko kesehatan.
“Kondom adalah satu-satunya alat kesehatan yang dapat membantu mencegah HIV, Infeksi Menular Seksual (IMS), sekaligus kehamilan yang tidak direncanakan,” ujar Dr. Erika dalam keterangannya, Jumat (13/2).
Ia menambahkan, penggunaan kondom bukan hanya soal kontrasepsi, melainkan bentuk perlindungan menyeluruh bagi kedua pihak.
“Kondom bukan sekadar alat kontrasepsi, tetapi bagian dari self-care dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kesehatan reproduksi,” katanya.
Selain aspek medis, para pemerhati kesehatan seksual menilai pentingnya komunikasi terbuka sebelum hubungan intim terjadi. Negosiasi mengenai penggunaan alat perlindungan sebaiknya dilakukan dalam suasana tenang dan setara, bukan dalam kondisi tertekan.
Influencer kesehatan seksual, Adella Wulandari, menilai ketegasan dalam menetapkan batasan merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
“Bersikap tegas bukan berarti ribet. Itu justru menunjukkan kita memahami risiko dan menghargai diri sendiri,” ujarnya.
Menurut Adella, pasangan yang saling menghormati akan mampu menerima syarat yang disampaikan secara jelas. “Kalau hubungan dibangun atas rasa saling menghargai, keputusan soal perlindungan tidak akan jadi perdebatan,” tambahnya.
Para ahli menilai literasi kesehatan reproduksi di Indonesia masih perlu diperkuat. Edukasi seksual komprehensif mencakup pemahaman tentang anatomi reproduksi, pencegahan IMS, metode kontrasepsi, serta konsep persetujuan dalam relasi.
Dr. Erika menekankan pentingnya edukasi sejak dini. “Informasi yang benar membantu individu membuat keputusan yang lebih aman dan bertanggung jawab. Tanpa pengetahuan yang cukup, risiko kesalahpahaman dan dampak kesehatan bisa meningkat,” ujarnya.
Dengan semakin terbukanya diskusi mengenai kesehatan reproduksi, diharapkan masyarakat dapat melihat penggunaan alat perlindungan sebagai bagian dari praktik kesehatan, bukan isu yang tabu. Komunikasi yang jujur, persetujuan yang jelas, serta pemahaman risiko menjadi kunci dalam membangun hubungan yang aman dan setara.