Pengamat Ini Berikan Treatment Agar PDIP Bisa Menang di Sumbar

"Kekalahan PDIP di Sumatera Barat jika ditarik lebih jauh juga disebabkan juga oleh faktor sejarah hubungan Sukarno dengan sejumlah tokoh Sumbar, terutama dengan tokoh yang saat itu terlibat dalam PRRI/Permesta. Sosok Sukarno dipandang sebagai pihak yang mengerahkan militer untuk menumpas Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat yang membuat sosok Sukarno kurang diterima di Bumi Minangkabau itu,"

Pengamat Ini Berikan Treatment Agar PDIP Bisa Menang di Sumbar

Telegraf – Pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarno Putri yang mempertanyakan mengapa rakyat Sumatera Barat belum suka PDIP mencerminkan ada perhatian khusus terhadap wilayah itu.

Pernyataan tersebut menunjukkan ada kesadaran untuk mengevaluasi kinerja partai di wilayah itu, dimana PDIP tidak pernah menang di Bumi Minangkabau dalam sepanjang sejarah pemilu.

Munculnya kesadaran untuk mengevaluasi merupakan langkah maju. Namun, akan lebih baik, jika proses evaluasi dilakukan secara serius dan sistematis.

Sejumlah pertanyaan pun kerap muncul. Mengapa PDIP selalu kalah pemilu di Sumbar? Pun dalam pertarungan pemilihan presiden tidak pernah menang.

Kekalahan di pilpres 2019 lalu juga masih menyisakan pertanyaan. Padahal pemerintahan Joko Widodo sudah memberi perhatian cukup dengan membangun sejumlah fasilitas di wilayah ini.

“Fenomena itu mengafirmasi bahwa pendekatan kebijakan pembangunan fisik tidak cukup efektif ‘menjinakkan’ masyarakat Sumbar,” kata Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo kepada Telegraf, Minggu (06/09/2020).

Ia menduga ada faktor geanologi politik dan ideologi yang masih sangat dominan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihan disana.

Jika disimak, geanologi politik masyarakat Sumbar saat ini belum lepas dari politik aliran di masa lalu.

Pasalnya, kata Karyono, Partai Masyumi sangat kuat di wilayah ini. Dalam konteks ideologis pengaruhnya masih sangat kuat hingga sekarang ini, meskipun dalam konstalasi politik pasca Pemilu 1955 dan sejak Masyumi dibubarkan ada pergeseran.

“Kekalahan PDIP di Sumatera Barat jika ditarik lebih jauh juga disebabkan juga oleh faktor sejarah hubungan Sukarno dengan sejumlah tokoh Sumbar, terutama dengan tokoh yang saat itu terlibat dalam PRRI/Permesta. Sosok Sukarno dipandang sebagai pihak yang mengerahkan militer untuk menumpas Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat yang membuat sosok Sukarno kurang diterima di Bumi Minangkabau itu,” terangnya.

Namun demikian, sejak reformasi telah terjadi pergeseran kekuatan politik yang menunjukkan masyarakat Sumbar semakin cair. Hal itu dibuktikan dengan peta perolehan suara partai dalam sejumlah pemilu dimenangkan oleh partai-partai nasionalis yaitu Golkar (2004), Demokrat (2009), Golkar (2014), dan Gerindra (2019). Hanya pada Pemilu 1999 yang dimenangi oleh partai yang cukup dekat dengan pemilih Islam, yakni Partai Amanat Nasional (PAN). Dalam sejarah pemilu di Sumbar memang tergolong fenomenal, yakni partai yang dekat dengan sosok Sukarno baik PNI, PDI dan PDIP tidak pernah menang.

Fenomena politik tersebut, menerut Karyono, semestinya mendorong PDIP melakukan evaluasi secara holistik dengan melakukan penelitian yang tersistematis untuk menggali dan mengetahui perilaku masyarakat (pemilih) di Sumbar. Dengan melakukan riset secara komprehensif maka dapat dipotret pelbagai fenomena yang ada di dalam masyarakat Sumbar. Riset tersebut dapat menggali pelbagai informasi dan persepsi masyarakat lokal tentang partai politik, seberapa suka masyarakat Sumbar terhadap PDIP dan partai lain.

Baca Juga :   Money Politics Musuh Utama Demokrasi di Indonesia

Dapat diketahui pula alasan suka dan tidak suka, alasan mengapa memilih dan tidak memilih. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap sejumlah kebijakan pemerintah juga dapat digali melalui penelitian. Melalui riset dapat juga diketahui seberapa besar perubahan geanologi masyarakat di Sumbar.

Dari penelitian itu menghasilkan rekomendasi yang dapat customize untuk menyusun strategi perjuangan partai ke depan. Strategi berbasis riset itulah yang digunakan agar PDIP dapat meningkatkan akseptabilitas dan elektabilitasnya di Sumbar.

“Tentu ada cara agar masyarakat Sumbar bisa menerima, menyukai dan memilih PDIP. Untuk meluluhkan hati masyarakat Sumbar memerlukan pendekatan persuasif dan beradaptasi dengan budaya lokal. Tidak cukup dengan cara-cara parsial, sporadis dan instan,” pungkasnya.


Photo Credit: Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan mengumumkan pasangan bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah gelombang pertama yang akan diusung pada Pilkada 2020. Liputan6/Faizal Fanani

A. Chandra S.