Penampilan NDPT di Indonesia Bersinergi dengan Event Lain

Penampilan NDPT di Indonesia Bersinergi dengan Event Lain

Telegraf, Jakarta – Co-organizer Grup gimnastik National Danish Performance Team (NDPT) melihat penerapan diplomasi ekonomi (commercial diplomacy) pada setiap penampilan di berbagai kota besar di Indonesia. Penampilan NDPT (Nov 28 – Dec 18. 2016) juga bisa bersinergi dengan event lain termasuk World Disability Day (3/12), HUT ke-13 ASEAN China Strategic Partnership (25/11). “Event tersebut bisa meningkatkan nation branding Indonesia. NDPT juga melakukan hal yang sama. Banyak perusahaan Denmark sponsori NDPT,” Nurdin Purnomo sebagai Co-organizer NDPT mengatakan kepada Telegraf.

Event NDPT serupa tapi tak sama dengan apa yang pernah diterapkan oleh pemerintah Indonesia. Hubungan antara pemerintah negara lain pernah dibuka melalui pengenalan Batik Indonesia. Bahkan duta besar keliling RI untuk tugas khusus, FX Lopes da Cruz menerapkan prinsip people to people contact untuk penuntasan isu Timor Timur. “Kami sebagai organizer support kirim tour leader juga. Mereka pergi, bawa 200 orang ke berbagai negara. Hasilnya bagus. Indonesia secara politik luar negeri dan pembangunan ekonomi, ada hasilnya.”

Perusahaan Setia Tour (sebagai co-organizer NDPT) juga pernah diminta untuk tangani kegiatan Duta Besar Keliling tersebut. Setia Tour menyinergikan NDPT dengan peserta World Disability Day (3/12) di Taman Fatahillah Kota Tua Jakarta. “Wisata kota tua juga bisa kecipratan. Banyak peserta (NDPT), menurut Duta Besar Denmark untuk Indonesia antusias berkunjung ke kota tua.”

Pengalaman sebelumnya, riuh penonton selalu terdengar ketika menyaksikan penampilan NDPT. Bahkan ketika tampil di kabupaten Sidoarjo Jawa Timur, co-organizer bekerjasama dengan Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI). Sesaat setelah NDPT muncul sambil memegang bendera Indonesia dan Denmark, sambutan ratusan siswa/i menggema. Selain itu, keterlibatan komunitas olahraga rekreasi seperti Liong dan Barongsai, cheerleaders juga berhasil. Bahkan club seperti Ikatan Motor Indonesia, Indonesia Off-Road Federation (IOF) juga tampil bareng dengan NDPT. “Pemerintah Denmark tidak biayai semuanya, tapi sebagian saja. Setiap peserta bayar 6.000 Euro. Karena mereka juga keliling dunia, bukan hanya Indonesia tapi juga Australia dan lain sebagainya. Pemerintah Denmark dukung karena bisa sebagai ajang promosi perusahaan multinational. Di Indonesia, ada juga beberapa perusahaan Denmark bercokol.”

NDPT rencananya akan mengunjungi Musium Asia Afrika di Bandung, Candi Borobudur (Jawa Tengah), klenteng Sam Poo Kong (Semarang) dan lain sebagainya. Co-organizer juga akan menampilkan Tim NDPT di Gunung Merapi. “Karena ada anggota Indonesia Off-Road Federation (IOF) yang mau jelajahi kawasan Gunung Merapi. Jumlahnya dari luar kota, sekitar 50 mobil dan 200 peserta. Berarti satu mobil diisi oleh 3 – 4 orang. Kebetulan saya juga ikut rally di Tiongkok. Mungkin semua event bisa bersinergi. Selain rally, ada juga kegiatan yang bekerjasama dengan kalangan akademisi. Ada juga workshop buat yang tertarik dengan olahraga gymnastic.”

Di tempat berbeda, Projct Director Bintan Festival Kepulauan Riau (Kepri) Jourena Juliet menilai event bisa komplementer dengan kegiatan wisata bahari dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Anak-anak laut dan masyarakat asli Bintan hidup bertahun-tahun di atas perahu. Baru belakangan ini, mereka mau mendarat di Kepri, khususnya Bintan. “80 persen wilayah Bintan adalah perairan. Nelayan dan anak laut tidak bisa dipisahkan. Mereka dulunya nggak sekolah. Tetapi semakin lama, mereka mau berinteraksi dengan luar (masyarakat di daratan). Mereka masih agak kaku (berinteraksi). Kebetulan ada Bintan Festival, kami mau libatkan mereka. Minimal mereka mau nonton konser penyanyi dari Jakarta dan luar negeri,” kata Jourena Juliet kepada Telegraf.

Bahkan beberapa anak laut Kepri sudah ikut-ikutan gabung pada kelompok Sahabat Noah (group music asal Jakarta). Karena Noah akan tampil pada Soundscape & Moonrun pada awal Desember mendatang. Beberapa nelayan di Bintan yang selama ini tinggal di perkampungan antusias untuk nonton konser tersebut. Interaksi anak laut pada daratan sebelumnya juga sudah direspons oleh salah satu yayasan social. “Mereka (pengurus Yayasan) bantu ngajar anak-anak laut, terutama bahasa Inggris. Karena kalau Bintan terus berkembang menjadi objek wisata internasional, mereka akan semakin diberdayakan. Nelayan juga bisa berinteraksi, salah satunya dengan event seperti Bintan Festival ini.”

Panitia festival bekerjasama dengan hotel Stareast Group. Beberapa anak laut dan nelayan sempat mencari informasi penjualan tiket Soundscape. Sistem penjualan dengan online, sementara kelompok nelayan dan anak laut tidak memiliki akses internet. Sehingga ada cerita lucu dari pengalaman antusias nelayan untuk nonton Noah. “Mereka bilang dengan pihak hotel, mereka mau beli (tiket konser Noah) yang ada kertasnya (tiket offline). Saya dikontak oleh pihak hotel Stareast (mengenai keinginan beli tike ‘kertas’ offline).” (S.Liu)

Atti K.

close