Pemkab Dogiyai Baru Andalkan Dua Wilayah Adat Pengolahan Kopi Papua

“Program kerjasama yang ada baru Scopi (sustainable coffee platform Indonesia). Kami butuh biaya besar tidak hanya peralatan tapi juga modal. Karena akses kami sangat jauh, sampai harus melewati pegunungan.”

Pemkab Dogiyai Baru Andalkan Dua Wilayah Adat Pengolahan Kopi Papua


Telegraf, Jakarta  – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dogiyai, Papua baru mengolah dua wilayah adat yakni Meepago dan Lapago untuk perkebunan kopi. Pemkab mengandalkan 79 kelompok petani dari setiap desa yang baru dua tahun belakangan ini intens mengolah kebun kopi jenis arabica. Masing-masing kelompok punya kebun dengan luas rata-rata 1,5 hektar khususnya jenis kopi Arabica.

“Dogiyai sangat potensial untuk komoditas unggulan kopi, selain buah merah. Tapi pengolahan masih sangat tradisional, sehingga kualitas kopi belum stabil.Kami juga butuh hibah dari pemerintah pusat agar pengolahan kopi kami bisa setara dengan kopi asal Toraja, Flores atau Bajawa dan lain sebagainya,” Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kab. Dogiyai, Andrias Gobai mengatakan kepada Telegraf.

Pemkab. Dogiyai juga akan mendorong program hilirisasi kopi, yakni dari kebun sampai pada gelas (cangkir). Sehingga berbagai program dan aktivitas seperti auction (lelang), TOT (training of trainers), penyuluhan dan lain sebagainya didorong secara intens. “Program kerjasama yang ada baru Scopi (sustainable coffee platform Indonesia). Kami butuh biaya besar tidak hanya peralatan tapi juga modal. Karena akses kami sangat jauh, sampai harus melewati pegunungan.”

Salah satu kopi Dogiyai yang dipamerkan pada ajang TEI (Trade Expo Indonesia) 2016 yakni kemasan Mamo. Terbuat dari kopi pilihan terbaik Papua, Mamo dijual dengan harga Rp 40 – 50 ribu per kemasan 200 gram. Mamo coffee terbuat dari biji kopi special pilihan dari tanaman oldbryd Arabica yang tumbuh di dataran tinggi pegunungan Mapiha, Papua. Proses pengolahan dalam kurun waktu yang tepat dengan sangat spesifik. Sehingga aroma dan rasa kopi sungguhan, dengan tingkat keasaman yang pas.

Baca Juga :   Pandemi Covid-19 Tak Halangi Pertumbuhan Kredit dan Laba BTN Pada Kuartal II 2021

“Kopi kami berada pada ketinggian di atas rata-rata (kondisi geografis) Flores, Toraja. Sehingga kami dapat biji kopi terbaik. Seluruh (daerah di) Indonesia tidak bisa menang dari kopi Arabica pada ketinggian Papua. Kami tidak punya robusta. Dengan promosi, kopi Papua nantinya bisa setara dengan (kopi) dari daerah lain seluruh nusantara.” (S. Liu)

Photo credit : Antara/Novrian Arbi


 

Atti K.

close