Pemerintah Kaji O-Bahn Menjadi Pengurai Kemacetan di Kota-kota Besar

"Kemarin kita berbicara dengan Menteri Perhubungan, dan muncul ide selain BRT yang sedang di kembangkan oleh Dirjen Perhubungan Darat"

Pemerintah Kaji O-Bahn Menjadi Pengurai Kemacetan di Kota-kota Besar

Telegraf, Jakarta – Pertumbuhan perekonomian yang semakin baik memicu pertumbuhan kendaraan (transportasi publik) yang semakin bagus pula. Tetapi di satu sisi timbul berbagai masalah sepertu kemacetan yang terjadi di kota kota bahkan hingga ke kota kabupaten. Menyusul lahan untuk membangun jalur – jalur transportasi tersebutpun akan menjadi masalah.

Untuk mengatasi hal tersebut banyak solusi yang dicoba untuk mengatasi kemacetan di kota – kota besar yaitu dengan membangun transportasi publik yang terstruktur, sistematis dan masif yaitu seperti busway, MRT dan LRT yang masih sedang dalam pembangunan di kota Jakarta.

“Kemarin kita berbicara dengan Menteri Perhubungan, dan muncul ide selain BRT yang sedang di kembangkan oleh Dirjen Perhubungan Darat,” ungkap Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi usai ngobrol seru bersama media dengan judul “O-Bahn Konsep Transportasi Berbasis BRT dan LRT Solusi Transportasi Perkotaan di Indonesia?” di Jakarta.

Budi mengungkapkan pemerintah pusat memberikan anggaran untuk pembelian kendaraan dan operasionalnya diserahkan kepada pemerintah kota yang sudah berjalan dari tahun 2016 hingga 2018 tetapi operasionalnya masih belum maksimal.

Untuk memaksimalkan transportasi di kota kota besar Kementrian Perhubungan terus mengkaji angkutan massal yang merupakan gabungan antara Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transit (LRT) bernama “O-Bahn Busway”, sebagai alternatif pilihan angkutan massal perkotaan di Indonesia.

“Akan ada 5 kota besar yang kita pilih untuk diperbaiki angkutan perkotaannya dan ini masih dalam kajiannya untuk menyempurnakan baik sekema maupun anggarannnya menyangkut pelayanan dan koordinasi kita dengan pemkot dan provinsi karena butuh komitmen butuh political will butuh komitmen dari DPRnya karena menyangkut anggaran. dan sebagian besar akan menjadi beban pusat,” tuturnya Minggu (23/6).

Ditemui di tempat yang sama Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri mengatakan seiring dengan perkembangan teknologi, saat ini banyak dikembangkan moda angkutan massal seperti misalnya : O-Bhan, yang dapat dibangun dengan biaya lebih murah dibandingkan dengan LRT, tetapi lebih mahal dibandingkan dengan BRT biasa.

Baca Juga  Suport Industri Kreatif, BNI Syariah Ajak Stakekolder Saksikan Film

“Konsepnya menarik, pakai bus biasa, tapi disediakan jalan khusus sehingga tidak ikut arus kemacetan jalan biasa. Kapasitasnya lebih besar dari pada busway, tapi lebih kecil dari LRT. Anggarannya memang lebih besar dari pada busway karena kita harus membangun beberapa ruas jalur. Untuk tempatnya mungkin di luar dari Jakarta, karena itu kita perlu lihat lagi bagaimana masterplan kotanya. Maka kita perlu kaji lebih lanjut dan duduk bersama dengan Pemda dan stakeholder terkait,” Kata Zulfikri

O-Bahn adalah Bus yang memiliki roda pandu yang berada di samping ban depan bus. Roda pandu ini menyatu dengan batang kemudi roda depan, sehingga ketika bus memasuki jalur O-Bahn, supir tak perlu lagi mengendalikan arah bus karena roda pandu akan mengarahkan bus sesuai dengan arah rel pandu serta mencegah bus terperosok ke celah yang ada di jalur. Sistem ini pertama kali diterapkan di Kota Essen, Jerman dan saat ini sudah digunakan di berbagai negara seperti Australia dan Jepang.

Ayusita hadir dalam ngobrol seru sebagai influencer mengataka dengan adanya O-Bahn masyarakat bisa menikmati transportasi massal yang nyaman, cepat dan murah.

“Saya mendambakan transportasi nyaman, walaupun jujur kita masih ketinggalan namun dengan adanya Busway, MRT, LRT seneng banget itu udah lebih dari cukup apalagi bakal adanya rencana O – Bahn Busway nantinya,”tutup Ayushita. (Red)


Credit Photo : Suasana diskusi ngobrol seru bersama media dengan judul “O-Bahn Konsep Transportasi Berbasis BRT dan LRT Solusi Transportasi Perkotaan di Indonesia?” di Jakarta/telegraf


 

Share



Komentar Anda