Pemerintah Dorong Revitalisasi dan Terobosan Pendidikan Vokasi Agar Sesuai Kebutuhan Industri

Pemerintah Dorong Revitalisasi dan Terobosan Pendidikan Vokasi Agar Sesuai Kebutuhan Industri

“Sejalan dengan fokus terhadap ketiga lembaga tersebut, untuk melakukan revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi tak dapat dilakukan secara parsial, tetapi harus komprehensif dari hulu sampai hilir. Sains memang tetap dibutuhkan, tapi vokasi tak kalah diperlukan, sebab kita ingin menjawab tantangan masa kini di mana ada persaingan dengan negara lain"

Pemerintah Dorong Revitalisasi dan Terobosan Pendidikan Vokasi Agar Sesuai Kebutuhan Industri


Telegraf, Depok – Pertubuhan perekonomian Indonesia diketahui bertahan dikisanan 5 persen meskipun dunia perekonomian global sedang mengalami situasi ketidak pastian. Untuk terus menjaga pertumbuhan ekonomi dalam mewujudkan pemerataan pembangunan indonesia butuh akselerasi pertumbuhan ekonomi.

Dengan melakukan transformasi ekonomi dengan mendorong lima pilar pembangunan, untuk membentuk fondasi pembangunan yang berkelanjutan. Salah satu pilar pembangunan tentu saja adalah sumber daya manusia (SDM).

SDM berkualitas merupakan salah satu sumber utama pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Semakin berkualitas SDM sebuah negara, maka akan makin maju negara tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, sebanyak 55% orang Indonesia yang bekerja memiliki pendidikan tertinggi hanya setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Maka itu telah diputuskan bahwa pemerintah akan sangat fokus terhadap pendidikan dan pelatihan vokasi.

Fokus pemerintah dalam bidang vokasi sampai 2024 adalah merevitalisasi 3 tingkatan lembaga vokasi, yaitu Politeknik untuk menyiapkan tenaga kerja high level thinking, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk menyiapkan tenaga kerja level operator, dan Balai Latihan Kerja (BLK) yang ditujukan untuk memberikan pelatihan bagi angkatan kerja berpendidikan rendah, re-skilling bagi tenaga kerja terdampak krisis ekonomi atau otomatisasi, dan up-skilling agar angkatan kerja mampu beradaptasi dengan teknologi baru.

“Sejalan dengan fokus terhadap ketiga lembaga tersebut, untuk melakukan revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi tak dapat dilakukan secara parsial, tetapi harus komprehensif dari hulu sampai hilir. Sains memang tetap dibutuhkan, tapi vokasi tak kalah diperlukan, sebab kita ingin menjawab tantangan masa kini di mana ada persaingan dengan negara lain,” tutur Darmin, ketika memberikan keynote speech pada acara Dies Natalis XI Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia sekaligus peluncuran Program Pelatihan Jarak Jauh Bersertifikat yang merupakan kolaborasi antara Universitas Indonesia (UI) dengan Universitas Terbuka (UT)

Terkait dengan pendidikan tinggi vokasi, pemerintah mendorong peningkatan jumlah lulusan pendidikan tinggi vokasi dari 721 ribu mahasiswa pada 2019 menjadi sekitar 2,7 juta mahasiswa pada 2024. Upayanya dengan meningkatkan jumlah kapasitas perguruan tinggi vokasi non politeknik menjadi 572 ribu mahasiswa pada 2024.

Baca Juga :   Milad Ke 7 Jamsyar terus Secure, Survive, Sustain dan Catat Aset 1,9 Triliun

Sedangkan, daya tampung politeknik juga akan terus ditingkatkan dari 365 ribu mahasiswa di tahun ini menjadi 731 ribu mahasiswa di 2024. Pemerintah juga akan mendorong penambahan jumlah program studi (prodi) sektor-sektor prioritas nasional dengan membangun 265 politeknik baru hingga 2024. (Red)


Credit Photo :Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menerima cenderamata usai melakukan keynote speech pada acara Dies Natalis XI Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia/istimewa


Atti K.

close