Pembelajaran Online, KPAI Minta Kemdikbud Tambah Kuota Internet

“Artinya, mayoritas menggunakan aplikasi yang justru lebih membutuhkan kuota umum. Aplikasi seperti Zoom meeting malah hanya digunakan para guru sebanyak 20% saja dari total 1.700 responden siswa,”

Pembelajaran Online, KPAI Minta Kemdikbud Tambah Kuota Internet

Telegraf – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menambah kuota umum untuk membantu proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) daring atau online.

Sebab, menurut Retno, berdasarkan survei PJJ siswa yang dilakukan oleh KPAI April lalu, terungkap bahwa PJJ daring didominasi penugasan melalui aplikasi WhatsApp, surel, dan media sosial seperti Instagram.

Sementara, skema pembagian kuota dalam penyaluran subsidi bantuan kuota internet yang dilakukan Kemdikbud justru kurang sesuai kebutuhan. Pasalnya, kuota belajar yang penggunaannya terbatas lebih banyak daripada kuota umum yang penggunaannya lebih luas.

“Selama PJJ fase pertama maupun PJJ fase kedua, para siswa lebih banyak memerlukan kuota umum dibandingkan kuota belajar. Sebab, selama PJJ penggunaan aplikasi WhatsApp, download video, searching di Google, dan media sosial. Semua masuknya ke kuota umum yang lebih dominan dibandingkan kuota belajar. Maka KPAI minta Kemdikbud menambahkan kuota umum dan mengurangi kuota belajar,” kata Retno kepada media, Selasa (22/9/2020).

Retno menuturkan, usulan perubahan skema ini bertujuan untuk lebih memaksimalkan penggunaan bantuan kuota internet bagi pelaksanaan PJJ. Hal ini juga akan sangat membantu para siswa dan orang tua dalam pelaksanaan PJJ daring. Dengan begitu, anggaran yang dialokasikan Kemdikbud senilai Rp 7,2 triliun untuk membeli paket kuota internet bagi siswa, guru, mahasiswa, dan dosen tepat guna.

Untuk memperkuat usulan KPAI, Retno memaparkan, perincian hasil survei PJJ siswa pada fase 1 dan 2. Sebanyak 87,2% responden melakukan interaksi PJJ secara daring melalui chatting dengan aplikasi WhatsApp Group, Line, Telegram, dan Instagram. Sementara itu, sebanyak 20,2% menggunakan Zoom Meeting, 7,6% menggunakan WhatsApp video call, dan telepon hanya 5,2%.

“Artinya, mayoritas menggunakan aplikasi yang justru lebih membutuhkan kuota umum. Aplikasi seperti Zoom meeting malah hanya digunakan para guru sebanyak 20% saja dari total 1.700 responden siswa,” ujar Retno.

Mantan kepala sekolah SMAN 3 Jakarta ini menuturkan, dari survei ini juga ditemukan hanya 43,3% guru yang menggunakan platform. Dari jumlah tersebut, 65% menggunakan Google Classroom. Kemudian sebanyak 24,5% menggunakan platform Ruang Guru, Rumah Belajar, Zenius, dan Zoom, sedangkan 10% menggunakan aplikasi WhatsApp.

Retno menyebutkan, ketika peserta didik melakukan pembelajaran, tetapi dari sekolah harus menggunakan aplikasi lain selain dari yang dipaketkan oleh Kemdikbud, tentu akan masuk ke kuota umum. Belum lagi ketika guru mengharuskan siswa melakukan video call. Kuota 5GB di kuota umum pun akan cepat habis.

Merujuk pada hasil survei KPAI tersebut, Retno mengatakan, kuota belajar berpotensi mubazir karena minim digunakan. Mayoritas guru justru lebih senang menggunakan aplikasi yang merupakan kuota umum.

“Kalau kuota belajar minim pemakaiannya padahal kuotanya besar, maka hal ini perlu disiasati agar uang negara dapat dioptimalkan membantu PJJ daring, jangan malah menguntungkan provider,” ucapnya.

Retno menyarankan, sebaiknya provider mengeluarkan kartu khusus untuk pelajar yang fleksibel penggunaannya sesuai kebutuhan pembelajaran. Kartu tersebut hanya digunakan untuk siswa dan tidak diperjualbelikan.

“Akan lebih baik jika provider mengeluarkan kartu baru yang sudah aktif, dengan masa berlaku 1-3-6 bulan aktivasi provider dengan kuota khusus siswa. Dengan demikian siswa dapat menggunakan kartu baru tersebut untuk belajar,” ujarnya.

Kartu bisa disalurkan ke sekolah dan pengambilannya dapat diwakili oleh orangtua siswa dengan digilir waktunya per hari. Dengan demikian, tidak akan muncul kerumunan dan semuanya dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan.


Photo Credit: Seorang siswa yang sedang belajar online di rumah. FILE/DOK/IST

 

Shan Santi