Orasi Kebangsaan Sri Sultan HB X di Hari Lahir Pancasila

Tanggal:



Telegraf, Yogyakarta – Para tokoh bangsa memberikan orasi kebangsaan memperingati Hari Lahir Pancasila di lapangan Graha Sabha Pramana, Kampus UGM, Yogyakarta (01/06/18) sore. Prof Dr Ahmad Syafii Maarif dalam orasinya menegaskan, bahwa sila Kelima Pancasila ‘Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia’ perlu diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Pernyataan dari mantan Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu berkaitan dengan UUD 1945 Pasal 33. Menurutnya seluruh kekayaan alam yang di maksud dalam ayat tiga pasal tersebut belum tercapai untuk kemakmuran rakyat.

“Salah satu bunyinya adalah Bumi dan air dan seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, itu belum tercapai. Ini adalah perjuangan sungguh-sungguh yang tidak boleh dilupakan” kata Buya Syafii.

Sementara itu, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan Pancasila menjadi rumah kita bersama. Tetapi bumi nusantara sampai sekarang masih terus diusik oleh mereka yang mendua hati dan disulut dengan ancaman radikalisasi serta intoleransi.

Guna menguatkan sejarah perjuangan, beliau menyampaikan agar nilai Pancasila digunakan sebagai suara untuk menyatukan negeri.

“Pancasila janganlah kau puja layaknya aji makramat tapi jadikanlah ia hikmat yang bermanfaat. Tapi gunakanlah momen gumregahnya aksi. Pancasila janganlah kau teriakkan dengan bahasa basa basi. Tapi gemakan suara tak gentar revolusi satukan negeri,” kata Sultan Guna diakhir orasi.

Pada kesempatan itu juga grup musik Slank tampil sebagai bintang tamu yang bertajuk Konser Indonesia Damai Pancasila Rumah Kita. Kaka sang vokalis mengajak para penggemar untuk berdamai dan menghargai nilai Pancasila.

Photo Credit : Bima Aditia Putra

Orasi Kebangsaan

KONSER #PANCASILARUMAHKITA “GENTA REVOLUSI, SATUKAN NEGERI”

Lapangan Pancasila, 1 Juni 2018

Assalamu’alaikum wr. wb.
Salam kasih bagi kita semua, Syalom,
Namo Buddhaya, Om Swastiastu,

Segenap Hadirin, Penghuni Pancasila Rumah Kita,
yang saya hormati,

TEPAT 1 Juni 1945, 73 tahun lalu, Bung Karno membidani “Lahirnja Pantja Sila”, tatkala bangsa ini dalam proses “Menjadi Indonesia”. Lalu, pada 18 Agustus 1945, Pancasila jadilah Rumah Kita, sejak dikukuhkan dalam UUD 1945 sebagai Dasar Negara.

Sebagai Rumah Kita, Pancasila bagai tempat berteduh, seperti lirik lagu Franky Sahilatua “untuk cinta sesama”. Rumah berbagi gagasan, membangun asa, guna merajut masa depan.

Baca Juga :   Penanganan Covid-19 di Indonesia Dapatkan Apresiasi Dari PBB

Tapi kini, Rumah Kita lagi diterjang petaka dari manca, paham yang tak kita kenal. Terus digoyang, agar lima tiang utamanya roboh menimpa kita semua.

Harmoni kehidupan, bak warna-warninya bunga di tamansari dunia, diinjak-semena demi selfie bagi egoisme diri. Sungguh, awal sebuah kesedihan menuju perpecahan! Ia menggores jiwa, meretakkan sayap-sayap Garuda Pancasila.

Kini, rakyat bertanya: Mengapa Bumi Nusantara ini terus diusik oleh mereka yang mendua hati? Kenapa Pancasila selalu disulut ancaman radikalisasi dan intoleransi? Bukankah kita dambakan harmoni, bukan antipati? Damai bukannya bertikai? Andaikan sejarah cermin rujukan, bukankah setiap kita, satu hati bagi NKRI?

Kini, Ibu Pertiwi tercenung, merana dan menangis seraya berdoa. Karena anak-anaknya larut dalam debat tak sehat. Terjebak pada greget-saut, bukannya suluk Ki Dalang yang menenteramkan hati dan menyejukkan nurani.

Boedi Oetomo penyemai cita-cita, Soempah Pemoeda penegas bingkainya, Proklamasi tonggak perwujudannya, dan Pancasila pengikat yang menyatukan kita.

Benar kata Bung Karno, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Dan, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah bangsa kita.

Maka, guna menguatkan pengikat sejarah perjuangan bangsa ke depan, camkanlah pesan ini, teriring Salam Lima Jari pengusir dengki:

Pancasila…
Janganlah kau puja
layaknya AZIMAT keramat
Tapi…
Jadikanlah ia,
KHIDMAD yang manfaat

Pancasila…
Janganlah kau simpan
bagai MONUMEN di keranda mati
Tapi…
Gunakanlah ia,
MOMEN gumregahnya aksi

Pancasila…
Janganlah kau teriakkan
dengan bahasa BASA-BASI
Tapi…
Gemakan suara,
bak GENTA REVOLUSI,
SATUKAN NEG’RI.

Semoga Tuhan menyertai kita semua. Selamat Hari Lahir Pancsila, 1 Juni 2018. Semoga hari ini menandai awal kebangkitan baru dari Yogya untuk Indonesia!
Sekian, terima kasih.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Salam damai dalam kasih-Nya,
Semoga semua makhluk-Nya berbahagia,
Om Çanti, Çanti, Çanti, Om.

Kampus Universitas Pancasila UGM, 1 Juni 2018
GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA,

HAMENGKU BUWONO X


Artikel Terbaru

Artikel Lainnya
Telegraf

Kemampuan Digital Harus Beradaptasi Dengan Pemanfaatannya

Telegraf - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Dewan...

Jokowi dan Ganjar Pranowo Takziah ke Kediaman Buya Syafii

Telegraf - Kabar duka menyelimuti tanah air. Cendekiawan muslim...

Sosok Panutan Itu Telah Pergi, Buya Syafii Wafat Hari Ini

Telegraf - Umat Islam bahkan bangsa Indonesia kehilangan sosok...

PLN Buka Program Tambah Daya, Bisa Lewat Aplikasi

Telegraf - PT PLN (Persero) mengajak masyarakat memanfaatkan program...