OPINI: Pajak Karbon Sebagai Bentuk Transisi Energi Hijau

Oleh : Aji Cahyono

Penulis: Fadlan Ahmad Rafiiqi & Fauzan Achmad

Dalam era perubahan iklim yang semakin mendesak, banyak negara dan organisasi internasional telah mengusulkan dan menerapkan berbagai kebijakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satu kebijakan yang sering dibahas adalah carbon tax, yaitu pajak yang dikenakan pada emisi karbon dari aktivitas manusia.

Pajak Karbon atau carbon tax merupakan pajak yang dikenakan atas penggunaan bahan bakar berbasis karbon seperti produk olahan minyak bumi, gas bumi, dan batubara. Menurut IBFD International Tax Glossary (2015), pemungutan Pajak Karbon adalah sebagai biaya tambahan bagi bahan bakar fosil yang memproduksi eksternalitas negatif yang merusak lingkungan. Peraturan terkait Pajak Karbon dipercaya bisa menjadi salah satu sumber pendapatan negara, terutama dengan keadaan pandemi Covid-19. Pajak Karbon juga dapat meningkatkan daya saing newrenewable energy (energi baru terbarukan) dengan menambah biaya produksi energifosil seperti batubara.

Pajak Carbon Carbon tax adalah sebuah kebijakan fiskal yang diterapkan oleh pemerintah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Pada dasarnya, carbon tax membebankan biaya tambahan pada bahan bakar fosil berdasarkan jumlah karbon dioksida yang dihasilkan saat pembakaran. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah mendorong perusahaan dan individu untuk beralih ke sumber energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

Penerapan carbon tax dapat memiliki beberapa manfaat. Pertama, ini memberikan insentif ekonomi bagi perusahaan untuk mengurangi emisi karbon mereka melalui investasi dalam teknologi hijau atau penggunaan energi terbarukan. Kedua, carbon tax menciptakan sumber pendapatan baru bagi pemerintah yang dapat digunakan untuk mendukung proyek-proyek lingkungan dan penelitian tentang energi terbarukan. Ketiga, carbon tax dapat membantu mengubah perilaku konsumen dengan mendorong penggunaan energi yang lebih efisien.

Seberapa penting Carbon Tax Pajak karbon memiliki peran yang penting dalam upaya mengatasi perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Berikut adalah beberapa alasan mengapa pajak karbon itu penting:

  1. Mengurangi Emisi Karbon: Pajak karbon dirancang untuk memberikan insentif ekonomi kepada perusahaan dan individu agar mengurangi emisi karbon. Dengan memberikan harga pada emisi karbon, pajak karbon mendorong pengurangan emisi dan mengubah perilaku konsumsi dan produksi menuju pilihan yang lebih ramah lingkungan.
  2. Mendorong Inovasi Teknologi: Pajak karbon dapat menjadi pendorong bagi inovasi teknologi dan pengembangan sumber energi bersih. Dengan meningkatkan biaya penggunaan sumber energi berbasis karbon, pajak karbon mendorong perusahaan untuk mencari solusi yang lebih efisien dan berkelanjutan, seperti energi terbarukan dan efisiensi energi.
  3. Mengurangi Ketergantungan pada Bahan Bakar Fosil: Pajak karbon dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang berkontribusi besar terhadap emisi karbon. Dengan meningkatkan biaya penggunaan bahan bakar fosil, pajak karbon mendorong peralihan menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
  4. Mengurangi Dampak Perubahan Iklim: Perubahan iklim memiliki dampak yang serius terhadap lingkungan, masyarakat, dan ekonomi. Pajak karbon membantu mengurangi dampak tersebut dengan mengurangi emisi karbon dan mendorong keberlanjutan. Dengan mengurangi risiko dan dampak perubahan iklim, pajak karbon berkontribusi pada kesejahteraan jangka panjang.

Dampak Positif Penerapan Carbon Tax di Indonesia Ketika membahas dampak positif penerapan pajak karbon di Indonesia, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Berikut adalah beberapa dampak positif yang mungkin terjadi:

  1. Pengurangan Emisi Karbon: Penerapan pajak karbon dapat menjadi insentif bagi perusahaan dan individu untuk mengurangi emisi karbon. Dengan memberikan beban pajak pada kegiatan yang menghasilkan emisi tinggi, perusahaan akan cenderung mencari cara yang lebih ramah lingkungan dan efisien dalam menggunakan energi. Hal ini dapat mendorong peralihan dari energi berbasis fosil ke energi terbarukan, serta mendorong inovasi teknologi yang berkelanjutan.
  2. Pendapatan untuk Investasi Lingkungan: Penerimaan dari pajak karbon dapat digunakan oleh pemerintah untuk membiayai program-program perlindungan lingkungan dan investasi dalam energi terbarukan. Dengan adanya pendapatan yang stabil, pemerintah dapat meningkatkan upaya dalam mengurangi emisi karbon dan memperkuat infrastruktur yang berkelanjutan.
  3. Peningkatan Kesadaran Lingkungan: Penerapan pajak karbon dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak negatif emisi karbon terhadap lingkungan. Dengan adanya beban pajak, individu dan perusahaan akan lebih berpikir dua kali sebelum menggunakan energi berbasis karbon. Hal ini dapat mendorong perubahan perilaku dan pola konsumsi yang lebih ramah lingkungan.
  4. Peningkatan Kualitas Udara dan Kesehatan: Dengan mengurangi emisi karbon, pajak karbon dapat membantu meningkatkan kualitas udara dan mengurangi polusi. Udara yang lebih bersih dapat memiliki dampak positif pada kesehatan masyarakat, mengurangi risiko penyakit pernapasan dan masalah kesehatan terkait polusi udara. Namun, perlu diketahui bahwa penerapan pajak karbon harus dilakukan dengan bijaksana dan memperhatikan dampak sosial-ekonomi yang mungkin terjadi. Diperlukan kebijakan yang adil dan dukungan bagi sektor-sektor terdampak untuk memastikan transisi yang lancar.

Dampak Negatif Penerapan carbon Tax di indonesia Selain dampak positif, ternyata ada juga dampak negatif dari penerapan carbon tax di indonesia, Berikut adalah beberapa dampak negatif yang mungkin terjadi:

  1. Beban Pajak pada Industri: Penerapan carbon tax dapat memberikan beban pajak tambahan pada industri, terutama yang masih bergantung pada energi berbasis karbon. Hal ini dapat meningkatkan biaya produksi dan mengurangi daya saing perusahaan di pasar internasional. Terutama bagi industri yang sudah beroperasi dengan margin keuntungan yang tipis, carbon tax dapat menjadi beban yang berat.
  2. Dampak Sosial-Ekonomi pada Masyarakat: Carbon tax juga dapat berdampak pada konsumen dan masyarakat umum. Peningkatan biaya energi dapat menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa, sehingga mempengaruhi daya beli masyarakat. Terutama bagi masyarakat dengan pendapatan rendah, kenaikan harga energi dapat memberikan beban yang signifikan.
  3. Ketimpangan Regional: Penerapan carbon tax di Indonesia mungkin menghasilkan ketimpangan regional. Daerah yang bergantung pada sumber daya fosil atau industri berbasis karbon mungkin lebih terdampak daripada daerah yang memiliki energi terbarukan atau industri yang lebih ramah lingkungan. Diperlukan kebijakan yang adil untuk mengatasi ketimpangan ini.
  4. Potensi Relokasi Industri: Jika carbon tax di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga, ada risiko perusahaan-perusahaan memilih untuk merelokasi operasi mereka ke negara dengan kebijakan lingkungan yang lebih ringan. Hal ini dapat mengurangi investasi dan lapangan kerja di Indonesia.
  5. Dampak pada Sektor Pertanian: Penerapan carbon tax juga dapat berdampak pada sektor pertanian, terutama pada penggunaan energi dalam pertanian modern. Kenaikan biaya energi dapat meningkatkan biaya produksi pertanian dan dapat mengurangi daya saing produk pertanian Indonesia di pasar global. Namun, perlu diketahui bahwa dampak negatif ini bukan mutlak terjadi dan dapat diatasi dengan kebijakan yang tepat, sehingga dampak negatif ini harus dilihat dalam konteks jangka panjang. Penerapan carbon tax juga dapat mendorong inovasi, investasi dalam energi terbarukan, dan mengurangi dampak perubahan iklim yang lebih merugikan.

Kesiapan Indonesia Dalam Penerapan Carbon Tax Sebagai Bentuk Transisi Green Energi Saat ini, Hampir semua negara di dunia sedang berupaya menangani isu lingkungan yang disebabkan oleh banyaknya emisi karbon. Lalu jika terus dibiarkan akan menciptakan perubahan iklim yang ekstrim hingga pemanasan global. Melihat hal tersebut, Indonesia berpartisapasi untuk ikut serta dalam mengurangi emisi karbon secara nasional sebagai usaha untuk membantu membatasi terhadap kenaikan suhu rata-rata global, yaitu dibawah 2°%c sampai 1,5°%C dari tingkat suhu pra-industrialisasi. Namun, untuk memenuhi komitmen tersebut, pemerintah mempunyai rencana untuk menerapkan Carbon Tax sebagai Upaya penurunan emisi karbon di Indonesia. Penerapan Carbon Tax yang diterapkan memiliki tujuan utama, yaitu untuk mengurangi emisi karbon yang ada di bumu dan membuat Masyarakat beralih untuk memakai energi alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk mewujudkan green energy. Lalu, tujuan selanjutnya dari Carbon Tax adalah untuk membuat Masyarakat mau menerapkan kegiatan ekonomi hijau rendah karbon. Dan Carbon Tax memiliki fungsi sebagai alat fiskal yang akan meningkatkan pendapatan negara melalui pembayaran pajak yang diterapkan dengan kebijakan Carbon Tax.

Disisi lain, penerapan Carbon Tax terhadap subjek pajak, akan berdampak pada pribadi maupun industri yang akan menimbulkan pro dan kontra. Jika Carbon Tax diterapkan di Indonesia, akan menimbulkan keresahan kepada Masyarakat karena akan adanya kenaikan harga barang yang dijual di pasaran. Hal tersebut bisa terjadi Ketika Carbon Tax dikenakan kepada industri atau Perusahaan yang menghasilkan emisi CO2 dalam aktivitas produksinya. Dampak biaya produksi di industri yang dikenakan Carbon Tax tersebut meningkat, maka harga barang yang dihasilkan dan dijual kepada Masyarakat pun ikut meningkat. Dalam situasi tersebut, Carbon Tax yang awalnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan Masyarakat, justru membawa kerugian terhadap Masyarakat. Maka dari itu, pemerintah perlu melakukan persiapan lebih lanjut mengenai Carbon Tax di Indonesia, mulai dari kesiapan Masyarakat, mekanisme penerapan, dan melihat kondisi perekonomian yang ada.

Lainnya Dari Telegraf


 

Copyright © 2024 Telegraf. KBI Media. All Rights Reserved. Telegraf may receive compensation for some links to products and services on this website. Offers may be subject to change without notice. 

Telenetwork

Kawat Berita Indonesia

close