OJK: Ditengah Ketidakpastian Perekonomian Global Sektor Jasa Keuangan Masih Terjaga

"Tecatat Oktober 2019, yield SBN mengalami penguatan sebesar 25 bps yang disertai aliran dana investor nonresiden yang mencapai Rp29,1 triliun. Dengan demikian sampai dengan 22 November 2019, secara ytd aliran investor non-residen ke pasar SBN telah mencapai Rp175,6 triliun diiringi dengan penguatan yield sebesar 98,5 bps"

OJK: Ditengah Ketidakpastian Perekonomian Global Sektor Jasa Keuangan Masih Terjaga

Telegraf, Jakarta – Pelambatan pertumbuhan ekonomi global dan kondisi geopolitik, seperti trade war dan brexit masih menjadi sentimen utama yang mewarnai perkembangan pasar keuangan global. Sementara itu, kebijakan dovish oleh beberapa bank sentral negara maju berpengaruh positif terhadap likuiditas global, terutama emerging markets, termasuk Indonesia.

“Tecatat Oktober 2019, yield SBN mengalami penguatan sebesar 25 bps yang disertai aliran dana investor nonresiden yang mencapai Rp29,1 triliun. Dengan demikian sampai dengan 22 November 2019, secara ytd aliran investor non-residen ke pasar SBN telah mencapai Rp175,6 triliun diiringi dengan penguatan yield sebesar 98,5 bps,” hal itu diungkapkan oleh Slamet Edy Purnomo Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam media briefing di kantornya, Jakarta, Jumat (29/11).

Edi menjelaskan pasar sahampun menguat sebesara 1% mtm menjadi 6.228,3. Penguatan ini ditopang oleh investor domestik mengingat investor nonresiden tercatat membukukan net sell sebesar Rp3,8 triliun. Namun, meningkatnya sentimen global di akhir minggu ke-3 November 2019, IHSG mencatatkan penurunan tipis ke level 6.100,2 dengan net buy investor nonresiden sebesar Rp43,9 triliun ytd.

Lanjut Edi Kredit perbankan mencatat pertumbuhan positif sebesar 6,53% yoy, ditopang kredit investasi yang tetap tumbuh double digit di level 11,2% yoy dan piutang pembiayaan pada perusahaan pembiayaan juga masih tumbuh stabil di level 3,5% yoy. Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 6,29% yoy.

“Untuk penghimpunan dana melalui pasar modal telah mencapai Rp155 triliun, serupa dengan level penghimpunan dana pada 2018. Adapun jumlah emiten baru pada periode tersebut sebanyak 48 perusahaan dengan pipeline penawaran sebanyak 61 emiten dengan total indikasi penawaran sebesar Rp22,8 triliun, ” tambah Edi.

Edi menutup OJK akan terus memantau perkembangan ekonomi global dan berupaya memitigasi dampak kondisi yang unfavourable terhadap kinerja sektor jasa keuangan domestik terutama mengenai profil risiko likuiditas dan risiko kredit serta terus terus berkoordinasi dengan para stakeholder guna memitigasi ketidakpastian eksternal. (Red)

Baca Juga :   Apa Rahasia SPBU Pertamina Bisa Hemat Biaya Listrik?

Photo Credit : Slamet Edy Purnomo Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III Otoritas Jasa Keuangan (OJK) usai media briefing di kantornya, Jakarta, Jumat (29/11). TELEGRAF/Kawat Berita Indonesia

Tanggapi Artikel