Muslim Cyber Army (MCA) Lakukan Baiat Untuk Rekrut Anggota

“Setelelah kami evaluasi kami menemukan beberapa konten dalam medsos yang tetap menyebarluaskan konten hate speech (ujaran kebencian). Pada 2017 akhir dan awal 2018 Dit Siber melakukan penangkapan kelompok jaringan MCA,”

Muslim Cyber Army (MCA) Lakukan Baiat Untuk Rekrut Anggota

Telegraf, Jakarta – Direktorat Siber Bareskrim Polri membeberkan proses penangkapan lima tersangka kelompok inti pelaku ujaran kebencian Muslim Cyber Army (MCA) yang tergabung dalam Whatsapp Group “The Family MCA”. Dari penyelidikan diketahui mereka ada yang dibaiat sebelum menjadi anggota.

Kasus ini terungkap karena Polri memang fokus mengungkap hoax terstruktur yang ramai di media sosial sejak 2017 hingga saat ini. Salah satunya dengan mengungkap kelompok Saracen pada tahun lalu.

Namun pengungkapan kelompok Saracen tidak membuat arus berita-berita bohong itu berhenti. Beberapa malah makin menjadi dan terus menerus meracuni dan memutarbalikkan fakta.

“Setelelah kami evaluasi kami menemukan beberapa konten dalam medsos yang tetap menyebarluaskan konten hate speech (ujaran kebencian). Pada 2017 akhir dan awal 2018 Dit Siber melakukan penangkapan kelompok jaringan MCA,” kata Direktur Siber Bareskrim Brigjen Fadil Imran dikantornya, Rabu (28/02/2018).

Dari sinilah Polri berhasil mengendus kelompok MCA dan mulai mendalami kelompok ini. Proses perburuan jejak-jejak digital pun dimulai.

Menurut Fadil kelompok ini rutin mengunggah hal-hal yang negatif dan hoax. Mulai dari postingan penghinaan dan pencemaran nama baik, baik organisasi atau tokoh tertentu, lalu juga memproduksi ujaran kebencian pada pejabat pemerintah.

Semua yang tak sejalan dengan mereka, mulai dari presiden, kapolri, DPR, selalu dipojokkan dengan berita-berita miring dan fitnah. Kelompok ini juga mengunggah isu-isu dan membakar sentimen SARA.

“Intinya postingan-nya bersifat provokatif atau berita bohong. Kami yang terus mendalami dan mengidentifikasi akhirnya mulai menemukan siapa admin dan member (anggota) grup ini,” sambungnya.

Berhasil mengetahui ini, polisi lalu memetakan struktur, cara kerja, dan kontennya. Setiap informasi digital ditelusuri oleh tim siber siang dan malam.

Contoh hoax yang paling banyak mereka buat dan meresahkan masyarakat adalah isu soal penculikan ulama. Mereka bermain di semua lini baik Whatsapp, Facebook,maupun Twitter.

Sebagai rumah besar, Fadil menambahkan, mereka pada umumnya tergabung dalam grup besar bernama the MCA United. Polisi mengidentifikasi grup terbuka ini mempunyai ratusan ribu anggota dan adminnya ada 20 orang.

Ternyata di dalam grup ini ada tim intinya. The United MCA hanya sebagai wadah menampung unggahan dari anggota inti MCA. Yang diunggah adalah berita, video, dan gambar yang telah di-framing dan hoax.

Produk mereka ini memang ditujukan untuk disebarluaskan. Dari jaringan ini juga ada yang disebut sebagai tim sniper. Ini adalah grup yang sifatnya rahasia dan hanya 177 member.

Mereka juga punya fungsi melaporkan akun yang dianggap sebagai lawan untuk dilumpuhkan. Juga menyebarkan virus agar kelompok lawan tidak bisa mengoperasikan gawainya.

Baca Juga :   PA GMNI Akan Kawal Proses Pemindahan Ibu Kota Negara

Atau sampai melakukan kontra narasi yang dilakukan pada kelompok yang teridentifikasi sebagai lawan. Intinya mereka akan bereaksi aktif atas posisi lawan maka mereka disebut tim sniper.

“Masih ada ada nama-nama lain seperti Cyber Muslim Defeat Hoax. Mereka sangat tertutup dan grup ini anggotanya juga sangat sedikit. Sedang kami dalami. Tugasnya yang ini buat setting opini, kemudian membagikannya secara serentak,” lanjutnya.

Mereka juga akan bergerak sebagai penanggap kalau ada yang meragukan isu yang telah mereka kondisikan seperti soal isu penyerangan kepada parpol tertentu, penyerangan ulama oleh orang gila, isu azan, isu PKI, dan sebagainya.

“Inilah yang disebut the family. Orang yang lulus (karena aktif komen) di grup besar lalu diajak ke grup kecil, kemudian grup inti, makanya disebut the family. Menurut pengakuan tersangka mereka harus dibaiat untuk bisa masuk ke grup inti itu,” sambungnya.

Fadil belum mau mengungkapkan apa motif para pelaku tersebut. Polisi mengaku terus mendalami motif karena kemarin baru fokus soal unsur melawan hukum yang diatur Pasal 28 ayat 2 dan Pasal 33 UU ITE.

“Pengembangan dan intrograsi siapa yang menyuruh, bagaimana korelasi mereka dengan pihak lain, itu berikutnya kami akan dalami. Digital forensik sedang berjalan,” urainya.

Polisi tidak mengandalkan pemeriksaan berdasarkan tanya-jawab karena tersangka bisa melantur. Polisi berpegang pada scientific investigation untuk melakukan interogasi terhadap mereka.

Yang jelas, meski MCA tak terstruktur rapi seperti Saracen, tapi mereka ternyata saling berkomunikasi. Salah satunya lewat Zello yaitu aplikasi walkie talkie di HP.

“Intinya mereka yang punya kemampuan memproduksi (isu), visi misi, dan sebagainya, dan punya kemampuan komputer, yang begini lalu diajak masuk tim inti,”lanjutnya. (Red)


Photo Credit : Direktorat Siber Bareskrim Polri membeberkan proses penangkapan lima tersangka kelompok inti pelaku ujaran kebencian Muslim Cyber Army (MCA) yang tergabung dalam Whatsapp Group “The Family MCA”. | Immanuel Antonius

Tanggapi Artikel