Mohamad Nasir: Tugas BSN Kedepan Membuat Standar Satuan Ukuran Yang Bisa diakui Dunia

"BSN bertugas kedepan membuat satu setandar yang bisa diakui oleh dunia atau bisa diajukan pada dunia dalam hal ini supaya standart itu di terima oleh publik dan masyarakat"

Mohamad Nasir: Tugas BSN Kedepan Membuat Standar Satuan Ukuran Yang Bisa diakui Dunia

Telegraf, Jakarta – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia ( Ristekdikti) Prof.H. Mohamad Nasir, Ph.D.Ak. mengatakan badan Standarisasi Nasional (BSN) mempunyai tugas kedepan membuat satu standar satuan ukuran yang bisa diakui oleh dunia.

“BSN bertugas kedepan membuat satu standar yang bisa diakui oleh dunia atau bisa diajukan pada dunia dalam hal ini supaya standart itu di terima oleh publik dan masyarakat,” tutur Muhamad Nasir dalam Simposium dan Workshop dengan tema Harmonisasi Redefinisi Sistem Internasional Satuan Ukuran dan Kurikulum Pendidikan Nasional, Selasa (21/5).

Nasir menjelaskan dengan adanya standarisasi maka masyarakat dapat memperoleh edukasi yang baik terhadap perbedaan ukuran yang selama ini digunakan. Nasir mencontohkan dalam pembelian barang seperti beras di pasar pasar, ada yang mengunakan ukuran kilo gram, ada juga yang mengunakan liter, bahkan di pasar pasar daerah ada juga yang mengunakan ukuran batok kelapa/tempurung kelapa.

Nasir mengapresiasi BSN dalam kegiatan workshopyang dilakukan dan berharap melalui workshop yang dilakukan menghasilkan output yang dapat bermanfaat bagi BSN khususnya dalam masalah satuan ukuran.

Kepala BSN prof.DR. Bambang Prasetya, M.Sc. menjelaskan
metrologi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari cara-cara pengukuran, kalibrasi dan akurasi di bidang industri, ilmu pengetahuan dan teknologi. Konferensi Umum Takaran dan Ukuran ke-26 yang berlangsung di Versailes, Perancis, komunitas metrologi dunia menyetujui perubahan redefinisi Sistem Internasional Satuan (SI).

Lanjut Bambang redefinisi ini menyempurnakan penjabaran dari semua satuan dasar yang terdiri dari sekon (s), meter (m), kilogram (kg), ampere (A), kelvin (K), mole (mol) dan candela (cd).

“Perubahan ini memerlukan penyebarluasan ke berbagai pihak, khususnya dunia pendidikan karena pelajaran tentang sistem satuan internasional dan definisi satuan dasar merupakan pengetahuan dasar dalam pelajaran tentang Ilmu Pengetahuan Alam,” kata Bambang.

Baca Juga  Ucapan Abdul Somad Membuat Beberapa Tokoh Ini Angkat Bicara

Bambang menambahkan di Indonesia sendiri sistem standarisasi, sistem penilian satuan dan metrologi menjadi satu pintu itu menjadi contoh bagi negara negara yang belum membangun serta mendapat apresiasi Kepala BSN Uni Emirat Arab.

Metrologi dipandang sebagai pondasi teknis dalam standardisasi, karena tidak ada satupun kegiatan standardisasi yang tidak menggunakan aktivitas mengukur. Metrologi, standardisasi, dan penilaian kesesuaian, merupakan tiga pilar peningkatan daya saing dan infrastruktur mutu. Demikian diungkapkan oleh Kepala BSN, Bambang Prasetya saat membuka acara Simposium dan Workshop Metrologi.

“Satuan ukuran dalam standar sangat penting agar terjadi efisiensi mulai dari produksi hingga kompatibilitas peralatan dan produk atau jasa. Dapat dibayangkan bila ukuran baut tidak standar, maka akan sulit dalam penggunaannya dalam berbagai peralatan,” imbuh Bambang. (Red)


Credit Photo : Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia ( Ristekdikti) Prof.H. Mohamad Nasir,Ph.D.Ak. didampingi Kepala BSN prof.DR. Bambang Prasetya, M.Sc. memukul gong menandai di bukannya Simposium dan Workshop/telegraf




Komentar Anda