Militer Myanmar Salahkan Demonstran Atas Tewasnya Puluhan Anak-Anak

Militer Myanmar Salahkan Demonstran Atas Tewasnya Puluhan Anak-Anak

"Mereka sebelumnya menembaki pengunjuk rasa dan pengunjuk rasa lari dan kami menyembunyikan beberapa dari mereka karena kami khawatir mereka akan ditangkap. Mereka (tentara) pasti telah menempatkan diri di lingkungan ini,"

Militer Myanmar Salahkan Demonstran Atas Tewasnya Puluhan Anak-Anak

Telegraf – Junta militer Myanmar menyangkal bertanggung jawab atas kematian puluhan anak-anak dalam tindakan kekerasan dalam menanggapi serangkaian aksi protes anti kudeta. Sebaliknya, pihak junta menyalahkan para pengunjuk rasa karena menggunakan anak-anak di garis depan.

“Di beberapa tempat mereka memprovokasi anak-anak untuk ikut dalam kerusuhan kekerasan…karena itu mereka bisa terkena pukulan ketika aparat keamanan menindak massa,” kata juru bicara militer Myanmar, Mayor Jenderal Zaw Min Tun, dalam suatu wawancara dengan CNN.

Menurut Zaw Min Tun tidak mungkin seorang anak ditembak di dalam rumah mereka dan penyelidikan akan dilakukan jika itu yang terjadi.

Ketika ditanya tentang tuduhan dari keluarga bahwa tentara menembaki rumah penduduk dan berusaha menutup korban tewas, Zaw Min Tun meminta CNN menunjukkan bukti kepadanya.

“Jika hal seperti itu terjadi, kami akan melakukan penyelidikan,” ujarnya.

“Mungkin ada beberapa video yang terlihat mencurigakan tetapi untuk pasukan kami, kami tidak berniat untuk menembak orang yang tidak bersalah,” imbuhnya, Jumat (09/04/2021).

Tidak diketahui apakah militer telah melakukan penyelidikan internal terhadap klaim pembunuhan di luar hukum.

Sementara itu video yang diposting di media sosial menguatkan bahwa pasukan keamanan telah menembak ke rumah-rumah.

Ayah seorang yang anak yang tewas, mengatakan putranya ditembak ketika beberapa peluru menghancurkan jendela kaca di rumahnya di kota Shwebo pada 27 Maret.

“Saya menghindari peluru tetapi anak saya datang ke jendela kaca dan tertembak,” katanya, menambahkan bahwa putranya yang bernama Htoo Myat Win dipukul di dada.

“Saya tidak mengerti mengapa mereka harus menembak kami ketika kami berada di dalam rumah kami,” ucapnya.

“Mereka sebelumnya menembaki pengunjuk rasa dan pengunjuk rasa lari dan kami menyembunyikan beberapa dari mereka karena kami khawatir mereka akan ditangkap. Mereka (tentara) pasti telah menempatkan diri di lingkungan ini,” katanya.

Video yang beredar luas secara online menunjukkan ayah Htoo Myat Win yang putus asa berteriak kesedihan di belakang taksi ketika dia bergegas ke tubuh putranya yang tak bernyawa untuk meminta bantuan. Dipaksa pergi ke rumah sakit militer, ayah Htoo Myat Win mengatakan dokter di sana melakukan otopsi dan menyuruhnya menandatangani dokumen yang menyatakan tidak ada peluru.

“Saya bertanya kepada mereka bahwa anak saya meninggal dengan luka tembak mengapa Anda ingin mengatakan itu bukan karena peluru?” dia berkata.

Dalam insiden lain, sebuah rumah sakit militer mengklaim Kyaw Min Latt (17) meninggal setelah jatuh dari sepeda motornya di kota Dawei. Bagaimanapun, rekaman CCTV memperlihatkan seorang tentara berdiri di belakang truk menembak remaja itu saat dia menumpang dengan dua orang lainnya, yang berhasil melarikan diri. Ibunya memverifikasi rekaman itu ke CNN.

“Dokter memberi tahu kami bahwa anak saya menderita luka-luka karena terjatuh dari sepeda motor, kami tidak bisa membalas apa-apa kecuali terus mengatakan ya untuk semuanya,” kata ibunya Daw Mon Mon Oo.

Dia mengatakan rontgen tubuh putranya yang dilakukan di rumah sakit kedua dibawa pergi oleh petugas dari rumah sakit yang dikelola militer.

Sertifikat kematiannya, dilihat oleh CNN, menyatakan Kyaw Min Latt meninggal pada 30 Maret karena cedera otak utama akibat jatuh dari sepeda motor.

Saat keluarganya bisa membawa pulang jenazahnya, ibunya berkata: “tidak ada luka akibat jatuhnya sepeda motor tapi hanya ada peluru masuk dan keluar, dan memar di mata kanannya.”

Pertumpahan darah di jalan-jalan Myanmar yang setiap hari diwarnai aksi protes menolak kudeta militer telah menewaskan sedikitnya 600 orang. Menurut Dana Anak-Anak PBB, 46 anak telah terbunuh sejak kudeta pecah pada awal Februari lalu.


Photo Credit: Shwe Yote Hlwar (5 tahun), memegang potret ayahnya, Zwe Htet Soe (26 tahun), yang ditembak dan dibunuh oleh pihak militer dalam protes anti militer, saat pemakamannya di Yangon, Myanmar, pada hari Jumat. THE NEW YORK TIMES

close